RADAR TULUNGAGUNG- Primbon Jawa 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat, khususnya bagi mereka yang berencana membangun rumah pada tahun mendatang. Dalam tradisi Jawa, menentukan waktu pembangunan rumah tidak hanya mempertimbangkan kesiapan dana dan lahan, tetapi juga memperhitungkan hari, bulan, hingga jam yang dianggap membawa keberuntungan.
Pembahasan mengenai Primbon Jawa 2026 ini disampaikan oleh seorang pemerhati budaya Jawa yang menjelaskan bahwa para leluhur telah mewariskan berbagai perhitungan atau pepatungan untuk menentukan waktu terbaik mendirikan rumah. Tujuannya bukan sekadar mengikuti tradisi, melainkan sebagai ikhtiar agar penghuni rumah memperoleh keselamatan, ketenteraman, dan rezeki yang melimpah.
Menurut penjelasan tersebut, dalam Primbon Jawa 2026, terdapat beberapa bulan yang dinilai baik untuk memulai pembangunan rumah. Bahkan ada satu bulan yang disebut paling istimewa dibanding bulan-bulan lainnya.
Bulan Terbaik untuk Membangun Rumah Tahun 2026
Dalam tradisi Jawa, bulan yang sering direkomendasikan untuk membangun rumah antara lain bulan Syawal, bulan setelah Mulud, serta bulan Rejeb. Namun, yang paling diutamakan adalah Bulan Besar.
Bulan Besar dipercaya memiliki makna kebesaran dan kemuliaan. Karena itu, masyarakat Jawa zaman dahulu meyakini bahwa membangun rumah pada bulan tersebut akan membawa harapan berupa kemuliaan hidup, rezeki yang lebih besar, serta keselamatan bagi seluruh anggota keluarga.
Jika dikonversikan ke kalender umum, Bulan Besar biasanya berdekatan dengan periode Juni hingga Juli, meskipun waktunya dapat berubah mengikuti kalender Jawa dan Hijriah.
Selain Bulan Besar, bulan Jumadil Awal, Jumadil Akhir, dan Rejeb juga dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai pembangunan rumah.
Selasa Legi Disebut Hari Paling Istimewa
Setelah menentukan bulan yang tepat, masyarakat Jawa biasanya melanjutkan perhitungan untuk memilih hari terbaik. Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa salah satu hari yang paling istimewa adalah Selasa Legi.
Hari ini memiliki jumlah neptu delapan yang dalam perhitungan Jawa dikaitkan dengan simbol-simbol keberuntungan tertentu. Selasa Legi dipercaya memiliki kombinasi yang sangat langka karena mempertemukan hitungan yang disebut sebagai "Kertayasa Tiba Candi" dan "Ringkel Dedel Nabi Sleman".
Perpaduan dua perhitungan tersebut diyakini membawa nilai yang sangat baik untuk mendirikan rumah. Bahkan disebutkan bahwa dalam satu tahun, kesempatan mendapatkan kombinasi istimewa seperti ini sangat terbatas.
Karena itulah, banyak orang Jawa terdahulu berusaha menyesuaikan waktu pembangunan rumah dengan hari tersebut apabila memungkinkan.
Tidak Hanya Hari, Jam Juga Diperhitungkan
Menariknya, dalam tradisi Primbon Jawa, pemilihan waktu pembangunan rumah tidak berhenti pada hari dan bulan saja. Jam pelaksanaan peletakan batu pertama juga dianggap penting.
Perhitungan jam biasanya dilakukan berdasarkan neptu hari yang telah dipilih. Tujuannya adalah mencari waktu yang masuk kategori "urip" atau kehidupan, yang melambangkan harapan akan kehidupan yang baik, kesehatan, dan keberlangsungan rezeki bagi penghuni rumah.
Pada tahap ini, momen yang paling penting adalah saat peletakan batu pertama atau pemasangan pondasi awal. Tradisi Jawa mengajarkan bahwa pemilik rumah sebaiknya terlibat langsung dalam proses simbolis tersebut.
Meski hanya meletakkan satu batu bata atau melakukan peletakan pertama secara seremonial, tindakan itu dianggap sebagai tanda bahwa pemilik rumah benar-benar memulai pembangunan huniannya sendiri.
Berbeda dengan Membeli Rumah Jadi
Perhitungan yang rinci umumnya diterapkan pada pembangunan rumah dari awal atau renovasi besar yang mengubah struktur utama bangunan.
Sementara itu, untuk rumah yang sudah jadi, seperti rumah subsidi atau perumahan modern, masyarakat Jawa biasanya hanya mencari hari baik untuk pindah atau menempati rumah tersebut.
Tradisi ini dikenal sebagai mencari hari baik untuk boyongan atau pindahan rumah. Tujuannya tetap sama, yakni memohon keselamatan, kenyamanan, ketenteraman, dan keberkahan bagi penghuni rumah baru.
Warisan Budaya yang Masih Dilestarikan
Meski perkembangan zaman membuat sebagian masyarakat tidak lagi menerapkan seluruh perhitungan primbon, tradisi tersebut masih dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Jawa.
Para sesepuh meyakini bahwa pada dasarnya semua hari dan bulan adalah baik. Namun, pepatungan atau perhitungan Jawa dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Melalui perhitungan tersebut, masyarakat berharap rumah yang dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang membawa keselamatan, kesehatan, ketenteraman, serta rezeki yang melimpah bagi seluruh anggota keluarga.
Baca Juga: Kisah Nyi Roro Kidul yang Melegenda, Benarkah Penguasa Pantai Selatan Ini Pernah Menampakkan Diri?
Editor : Fadhilah Salsa Bella