RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Peringatan Hari Kesehatan Nasional menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin memudahkan berbagai aktivitas, masyarakat justru dihadapkan pada ancaman gaya hidup kurang gerak yang dapat memicu berbagai penyakit.
Kemudahan memesan makanan melalui aplikasi, bekerja dari rumah, hingga menghabiskan waktu dengan telepon pintar membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Kondisi ini dinilai dapat berdampak terhadap kesehatan apabila tidak diimbangi dengan kebiasaan hidup sehat.
Dokter penyakit dalam konsultan hati dan pencernaan, dr. Suindra, mengatakan pola hidup sehat sebenarnya tidak sulit diterapkan. Kuncinya terletak pada konsistensi dalam menjalankan kebiasaan baik setiap hari.
Lima Prinsip Dasar Hidup Sehat
Menurut dr. Suindra, terdapat lima prinsip utama yang menjadi dasar seseorang dapat menjalani hidup sehat.
Prinsip tersebut meliputi cukup makan dengan gizi seimbang, cukup istirahat, cukup relaksasi, dan cukup berolahraga. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan dalam menjaga kebugaran tubuh.
"Pola hidup sehat adalah aktivitas yang dilakukan berdasarkan keseimbangan antara makan, olahraga, istirahat, dan relaksasi," ujarnya.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang menganggap dirinya sehat hanya karena tidak merasakan keluhan penyakit. Padahal, berbagai gangguan kesehatan sering kali muncul akibat kebiasaan yang dilakukan dalam jangka panjang.
Gaya Hidup Sedentari Jadi Ancaman
Perubahan pola hidup masyarakat saat ini dinilai mendorong munculnya gaya hidup sedentari atau kurang bergerak.
Banyak orang lebih sering menghabiskan waktu di rumah dan melakukan hampir seluruh aktivitas secara daring. Kondisi tersebut membuat aktivitas fisik semakin minim.
Menurut dr. Suindra, kurang gerak dapat menyebabkan otot tubuh tidak terlatih dan menurunkan kebugaran fisik.
Tidak hanya itu, fungsi paru-paru juga dapat mengalami penurunan apabila tubuh jarang digunakan untuk bergerak secara aktif.
Risiko Obesitas hingga Gangguan Pencernaan
Kurangnya aktivitas fisik juga meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
Obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering muncul akibat gaya hidup tidak aktif.
Kondisi tersebut kemudian dapat memicu berbagai gangguan lain, mulai dari perlemakan hati, naiknya asam lambung, hingga gangguan buang air besar seperti sembelit.
Karena itu, masyarakat tetap dianjurkan menyediakan waktu untuk berolahraga meskipun lebih banyak beraktivitas di rumah.
Aktivitas sederhana seperti senam dan berjalan pagi di sekitar lingkungan tempat tinggal dapat menjadi pilihan untuk menjaga kebugaran tubuh.
Riwayat Keluarga Perlu Menjadi Perhatian
Selain faktor gaya hidup, kondisi kesehatan seseorang juga dipengaruhi faktor keturunan.
Dr. Suindra menjelaskan bahwa riwayat penyakit dalam keluarga dapat menjadi petunjuk untuk menentukan langkah pencegahan sejak dini.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes perlu lebih berhati-hati dalam mengatur pola makan.
Mereka disarankan membatasi konsumsi gula dan karbohidrat sederhana serta memperbanyak asupan protein dan sayuran.
Selain diabetes, sensitivitas terhadap jenis makanan tertentu juga dapat diturunkan dari orang tua kepada anak.
Karena itu, mengenali kondisi tubuh dan riwayat kesehatan keluarga menjadi bagian penting dalam menerapkan pola hidup sehat.
Makanan Harus Beragam dan Seimbang
Dr. Suindra menilai salah satu kesalahan yang sering dilakukan masyarakat adalah mengonsumsi makanan secara monoton.
Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji secara terus-menerus dinilai kurang baik bagi kesehatan.
Tubuh membutuhkan berbagai jenis nutrisi untuk menjaga fungsi organ tetap optimal.
Karena itu, pola makan sebaiknya terdiri atas sumber energi, protein, vitamin, dan serat yang cukup.
Konsep empat sehat lima sempurna masih dapat dijadikan pedoman sederhana dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Olahraga Tidak Cukup Dilakukan Seminggu Sekali
Masih banyak masyarakat yang merasa cukup berolahraga hanya karena mengikuti kegiatan senam mingguan.
Padahal, menurut dr. Suindra, olahraga perlu dilakukan secara rutin agar manfaatnya dapat dirasakan tubuh.
Ia menyarankan aktivitas fisik dilakukan minimal lima hari dalam satu minggu.
Durasi olahraga sekitar satu hingga satu setengah jam sudah cukup untuk menjaga kebugaran tubuh.
Jenis olahraga juga perlu disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing orang.
Mereka yang memiliki berat badan berlebih dianjurkan melakukan olahraga kardio. Sementara individu berusia 40 hingga 50 tahun dapat memilih yoga, peregangan, atau senam kesehatan.
Kualitas Tidur Sama Pentingnya dengan Durasi
Selain pola makan dan olahraga, kualitas tidur juga menjadi bagian penting dalam pola hidup sehat.
Menurut dr. Suindra, tidak ada standar pasti mengenai jumlah jam tidur yang ideal karena kebutuhan setiap orang berbeda.
Ada individu yang sudah merasa bugar setelah tidur selama empat jam, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama.
Indikator utama tidur yang cukup adalah kondisi tubuh saat bangun.
Apabila seseorang bangun dalam keadaan segar dan siap beraktivitas, maka kualitas dan durasi tidurnya dinilai sudah baik.
Sebaliknya, tidur dalam waktu lama tetapi tetap merasa lelah menunjukkan adanya masalah pada kualitas istirahat.
Pada akhirnya, pola hidup sehat tidak selalu membutuhkan biaya besar.
Komitmen untuk menjaga pola makan, rutin bergerak, istirahat cukup, dan mengelola waktu relaksasi menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan tubuh.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : Hidup Sehat tvOne, You Tube, DIOLAH