RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Nama Cristiano Ronaldo kembali menjadi bahan perbincangan. Kali ini bukan soal jumlah gol atau prestasinya di lapangan, melainkan mengenai mentalitas dan kepribadiannya.
Dalam sebuah diskusi, megabintang Portugal tersebut dinilai bukan sosok yang memiliki ego berlebihan. Sebaliknya, Ronaldo dianggap sebagai contoh atlet yang mampu mengendalikan ego dan mengubahnya menjadi rasa percaya diri atau confidence yang sangat tinggi.
Pandangan tersebut muncul melalui perbandingan dengan sejumlah tokoh besar dunia, mulai dari legenda sepak bola Diego Armando Maradona hingga mantan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte.
Ronaldo Dinilai Selalu Mau Belajar
Perjalanan karier Cristiano Ronaldo disebut menjadi bukti bahwa dirinya mampu menerima kritik dan terus berkembang.
Saat pertama kali bergabung dengan Manchester United, Ronaldo kerap mendapat sorotan karena gaya bermainnya yang terlalu banyak menggiring bola dan dianggap individualistis.
Alih-alih menolak kritik, Ronaldo justru melakukan perubahan.
Ia mulai bermain lebih efektif dan efisien, sehingga mampu berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia.
Perubahan tersebut kemudian mengantarkannya menuju Real Madrid dengan status sebagai salah satu pemain paling bersinar di dunia sepak bola.
Keberhasilan Ronaldo juga disebut tidak lepas dari kebiasaannya untuk terus belajar.
Meski sudah mencapai berbagai gelar dan penghargaan individu, pemain berusia 41 tahun itu tidak pernah berhenti meningkatkan kualitas dirinya.
Beradaptasi Seiring Bertambahnya Usia
Salah satu hal yang dianggap menjadi kelebihan Ronaldo adalah kemampuannya beradaptasi.
Gaya bermain Ronaldo di Manchester United berbeda dengan saat membela Real Madrid, Juventus, hingga Al Nassr.
Ketika usianya masih muda, Ronaldo dikenal dengan kecepatan dan kemampuan dribel yang luar biasa.
Namun seiring bertambahnya usia, ia mengubah perannya menjadi penyerang yang lebih fokus mencari posisi ideal di depan gawang.
Perubahan tersebut dinilai menunjukkan bahwa Ronaldo memahami batas kemampuan dirinya.
Ia tidak memaksakan bermain seperti saat masih muda dan memilih menyesuaikan diri demi tetap tampil kompetitif.
Kemampuan memahami kondisi diri sendiri itulah yang disebut sebagai bentuk pengendalian ego.
Disiplin Jadi Kunci Kesuksesan
Selain kemampuan beradaptasi, disiplin juga menjadi salah satu aspek yang paling sering dikaitkan dengan Cristiano Ronaldo.
Ia dikenal sebagai pemain yang memiliki etos kerja luar biasa.
Ronaldo disebut selalu datang lebih awal ke tempat latihan dan pulang paling akhir dibanding pemain lainnya.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa kesuksesan yang diraih Ronaldo tidak hanya berasal dari bakat, tetapi juga kerja keras dan kemauan untuk terus berkembang.
Sikap terbuka terhadap kritik dan keinginan untuk belajar menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu bertahan di level tertinggi selama bertahun-tahun.
Maradona Jadi Contoh Dampak Buruk Ego
Sebagai perbandingan, nama Diego Armando Maradona juga turut dibahas.
Legenda Argentina tersebut tetap diakui sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Maradona berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 dan menjadi ikon besar bagi Napoli setelah mempersembahkan gelar Serie A.
Namun, perjalanan kariernya disebut tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Maradona dinilai gagal mengendalikan ego dan gaya hidupnya.
Ia disebut terjebak dalam kehidupan malam, pesta, hingga penyalahgunaan narkoba.
Puncaknya terjadi pada Piala Dunia 1994 ketika dirinya tidak dapat melanjutkan turnamen karena kasus doping.
Meski statusnya sebagai legenda tidak terbantahkan, banyak pihak menilai karier Maradona bisa menjadi lebih besar apabila mampu mengontrol dirinya dengan lebih baik.
Napoleon Bonaparte Juga Disebut Korban Ego
Pembahasan mengenai ego juga dikaitkan dengan Napoleon Bonaparte.
Napoleon dikenal sebagai salah satu jenderal terbesar dalam sejarah dunia.
Keberhasilannya menaklukkan berbagai wilayah di Eropa membuatnya merasa hampir tidak terkalahkan.
Namun, rasa percaya diri yang berlebihan itu disebut berubah menjadi ego.
Napoleon tetap memutuskan menyerang Rusia meskipun mendapat banyak peringatan dari para penasihatnya.
Invasi tersebut justru berakhir menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah militer.
Dari sekitar 600 ribu pasukan yang dibawa, hanya sebagian kecil yang berhasil kembali.
Kekalahan tersebut menjadi awal kejatuhan Napoleon hingga akhirnya menghabiskan akhir hidupnya dalam pengasingan.
Ronaldo Dinilai Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Selain mentalitas pribadi, Cristiano Ronaldo juga dianggap memiliki sisi kepemimpinan yang baik.
Beberapa momen menunjukkan bahwa dirinya tidak selalu menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya.
Ronaldo pernah mendorong rekan setimnya untuk mengambil tendangan penalti demi meningkatkan rasa percaya diri.
Hal serupa juga dilakukan ketika ia memberikan kesempatan kepada Karim Benzema untuk mengeksekusi penalti saat penyerang asal Prancis itu sedang mengalami masa sulit.
Tindakan tersebut dinilai menunjukkan bahwa Ronaldo tidak memiliki ego yang bersifat merusak.
Sebaliknya, ia dianggap mampu menggunakan rasa percaya dirinya untuk membantu tim dan rekan-rekannya berkembang.
Karena itu, Cristiano Ronaldo disebut sebagai contoh bahwa confidence dan ego merupakan dua hal yang berbeda.
Kepercayaan diri yang tinggi dapat membawa seseorang menuju kesuksesan, selama tetap dibarengi dengan kemauan belajar, disiplin, dan kemampuan menerima kritik.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : SUARA BERKELAS, You Tube, DIOLAH