BLITAR – Tips wawancara kerja menjadi bekal penting bagi para pencari kerja yang ingin lolos seleksi perusahaan. Selain pengalaman dan kemampuan teknis, sikap saat menghadapi interviewer juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses rekrutmen.
Content creator sekaligus praktisi Human Resources (HR), Vina Muliana, membagikan sejumlah tips wawancara kerja yang dinilai efektif untuk meningkatkan peluang diterima. Menurutnya, banyak pelamar masih menganggap interview sebagai ujian, padahal proses tersebut seharusnya dipandang sebagai percakapan dua arah antara kandidat dan perusahaan.
Dalam wawancara di kanal EKRUTtalks, tips wawancara kerja yang disampaikan Vina tidak hanya membahas cara menjawab pertanyaan HRD, tetapi juga pentingnya riset perusahaan, mengenali diri sendiri, hingga strategi melakukan negosiasi gaji.
Riset Diri dan Perusahaan Sebelum Interview
Menurut Vina, persiapan merupakan kunci utama sebelum menghadapi wawancara kerja. Kandidat sebaiknya memahami kelebihan, kelemahan, keterampilan, minat, hingga tujuan karier yang dimiliki.
Selain mengenali diri sendiri, pelamar juga wajib mempelajari perusahaan yang dilamar. Mulai dari bidang usaha, model bisnis, budaya kerja, hingga posisi yang akan ditempati perlu dipahami agar jawaban saat interview lebih relevan.
"Bagaimana kompetensi yang dimiliki bisa memberikan kontribusi kepada perusahaan juga harus dipahami sejak awal," jelasnya.
HRD Lebih Melihat Attitude daripada Sekadar Nilai
Vina menjelaskan bahwa hal pertama yang biasanya diperhatikan recruiter adalah attitude kandidat.
Kemampuan berkomunikasi menjadi aspek penting karena kompetensi yang baik akan sulit terlihat apabila tidak mampu disampaikan dengan jelas kepada pewawancara.
Selain itu, recruiter juga memperhatikan antusiasme kandidat selama wawancara. Pelamar yang aktif berdiskusi dan menunjukkan ketertarikan terhadap perusahaan umumnya memberikan kesan positif.
Pengetahuan mengenai posisi yang dilamar dan pemahaman terhadap perusahaan juga menjadi indikator kesiapan seorang kandidat.
Good Looking Bukan Berarti Harus Tampan atau Cantik
Menanggapi anggapan bahwa pelamar yang berpenampilan menarik lebih mudah diterima bekerja, Vina menilai istilah "good looking" sering disalahartikan.
Menurutnya, yang dicari perusahaan bukan semata wajah yang menarik, melainkan kandidat yang berpenampilan rapi, profesional, dan mampu menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan.
Untuk posisi yang banyak berinteraksi dengan pelanggan, seperti frontliner, marketing, atau pramugari, penampilan memang menjadi salah satu pertimbangan. Namun pada posisi lain seperti auditor, analis keuangan, atau business development, kompetensi tetap menjadi prioritas utama.
Tidak Ada Pertanyaan Jebakan Saat Interview
Vina juga meluruskan anggapan mengenai pertanyaan jebakan saat wawancara kerja.
Menurutnya, recruiter tidak memiliki tujuan menjebak kandidat. Seluruh pertanyaan diajukan untuk menggali pengalaman, karakter, dan kemampuan pelamar agar perusahaan memperoleh orang yang paling sesuai dengan kebutuhan.
Jika mendapat pertanyaan sulit, misalnya alasan resign atau sering berpindah pekerjaan, kandidat disarankan menjawab secara jujur namun tetap diplomatis.
Sebagai contoh, daripada menyampaikan konflik dengan atasan, pelamar lebih baik menjelaskan bahwa dirinya sedang mencari lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan tujuan karier.
Gap Year hingga Career Switch Bisa Dijelaskan
Bagi pelamar yang memiliki masa gap year, Vina menyarankan agar menjelaskan alasannya secara terbuka.
Selain itu, kandidat perlu menunjukkan bahwa selama tidak bekerja tetap aktif meningkatkan kemampuan melalui pelatihan, kursus, membaca buku, atau aktivitas lain yang relevan dengan dunia kerja.
Hal serupa berlaku bagi pelamar yang ingin berpindah bidang pekerjaan atau career switch. Kuncinya adalah menunjukkan transferable skills atau keterampilan yang tetap relevan meski berasal dari industri berbeda.
Negosiasi Gaji Harus Berdasarkan Riset
Saat memasuki tahap negosiasi gaji, kandidat disarankan tidak menyebut angka secara asal.
Vina menyarankan pelamar melakukan riset mengenai Upah Minimum Provinsi (UMP), biaya hidup di kota tempat bekerja, serta standar gaji sesuai posisi dan industri yang dilamar.
Setelah memperoleh ketiga data tersebut, kandidat dapat menentukan kisaran gaji yang realistis untuk diajukan kepada perusahaan.
Anggap Interview sebagai Percakapan Dua Arah
Di akhir sesi, Vina menegaskan bahwa mindset saat wawancara kerja perlu diubah.
Menurutnya, interview bukanlah ujian yang menempatkan kandidat di posisi lebih rendah dari perusahaan. Sebaliknya, proses rekrutmen merupakan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling mengenal dan memastikan kecocokan.
Karena itu, pelamar juga dianjurkan aktif bertanya mengenai budaya kerja, struktur tim, hingga fasilitas yang diberikan perusahaan. Sikap tersebut menunjukkan antusiasme sekaligus membantu kandidat menentukan apakah perusahaan tersebut sesuai dengan tujuan kariernya.
Editor : Maylanni Diana Fitri