BLITAR – Tips wawancara kerja menjadi salah satu informasi yang paling banyak dicari oleh para pencari kerja, terutama mereka yang baru memasuki dunia profesional. Banyak kandidat memiliki kemampuan yang baik, tetapi gagal pada tahap interview karena kurang melakukan persiapan.
Praktisi Human Resources (HR) sekaligus content creator karier, Vina Muliana, membagikan berbagai tips wawancara kerja yang dapat meningkatkan peluang diterima di perusahaan. Menurutnya, keberhasilan interview bukan hanya ditentukan oleh jawaban yang bagus, melainkan juga cara kandidat membangun komunikasi dengan recruiter.
Dalam podcast EKRUTtalks, Vina menegaskan bahwa tips wawancara kerja yang paling mendasar adalah mengubah pola pikir. Interview bukanlah ujian yang harus ditakuti, melainkan proses saling mengenal antara perusahaan dan kandidat.
Persiapan Menjadi Penentu Keberhasilan
Vina menjelaskan, ada dua hal yang wajib dipersiapkan sebelum menghadiri wawancara kerja.
Baca Juga: Pantai Gemah Tulungagung Tawarkan Panorama Laut, Hutan Pinus, hingga Wahana Wisata untuk Healing
Pertama, kandidat harus mengenali dirinya sendiri. Mulai dari kelebihan, kekurangan, kemampuan, pengalaman, hingga tujuan karier jangka panjang. Dengan memahami diri sendiri, pelamar akan lebih mudah menjawab berbagai pertanyaan personal dari recruiter.
Kedua, pelamar harus melakukan riset mendalam mengenai perusahaan dan posisi yang dilamar. Informasi tentang bidang usaha, produk atau layanan, budaya kerja, hingga visi perusahaan menjadi bekal penting agar jawaban saat interview lebih relevan.
Menurutnya, masih banyak pelamar yang datang ke sesi wawancara tanpa mengetahui perusahaan yang dituju. Kondisi tersebut justru menjadi sinyal negatif di mata recruiter.
Attitude Lebih Penting daripada Sekadar Skill
Selain kompetensi, Vina menilai attitude menjadi aspek pertama yang diperhatikan saat wawancara kerja.
Baca Juga: Nasi Lodho Tulungagung Bu Sri Legendaris Sejak 2002, Harga Mulai Rp7 Ribu
Recruiter ingin melihat bagaimana kandidat menyampaikan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki. Seseorang yang memiliki keterampilan tinggi belum tentu berhasil jika tidak mampu mengomunikasikannya dengan baik.
Antusiasme selama sesi wawancara juga menjadi nilai tambah. Kandidat yang aktif berdiskusi dan menunjukkan minat terhadap perusahaan biasanya memberikan kesan yang lebih positif.
Tak kalah penting, recruiter juga akan menilai seberapa jauh pemahaman kandidat terhadap posisi yang dilamar serta perusahaan tempat mereka ingin bekerja.
Good Looking Tidak Selalu Menjadi Penentu
Vina juga meluruskan anggapan bahwa kandidat yang berwajah menarik lebih mudah diterima bekerja.
Menurutnya, istilah good looking lebih mengarah pada penampilan yang rapi, bersih, profesional, dan sesuai dengan lingkungan kerja, bukan sekadar cantik atau tampan.
Penampilan memang menjadi pertimbangan untuk posisi yang berhubungan langsung dengan pelanggan, seperti frontliner, marketing, atau pramugari. Namun untuk posisi yang lebih banyak bekerja di balik layar, perusahaan akan lebih mengutamakan kompetensi dibanding penampilan fisik.
Tidak Ada Pertanyaan Jebakan
Salah satu mitos yang masih dipercaya pelamar adalah adanya pertanyaan jebakan saat interview.
Vina menegaskan bahwa recruiter tidak memiliki tujuan menjebak kandidat. Pertanyaan yang diajukan bertujuan menggali karakter, pengalaman, motivasi, serta kecocokan pelamar dengan posisi yang tersedia.
Karena itu, ia menyarankan setiap pertanyaan dijawab secara jujur tetapi tetap diplomatis. Misalnya saat ditanya alasan resign, pelamar tidak perlu menceritakan konflik secara detail, melainkan menyampaikan keinginan mencari lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan pengembangan karier.
Career Switch dan Gap Year Bukan Hambatan
Menurut Vina, kandidat yang memiliki masa gap year maupun ingin berpindah bidang pekerjaan tetap memiliki peluang besar untuk diterima.
Yang terpenting adalah mampu menjelaskan alasan secara logis serta menunjukkan bahwa selama masa tersebut tetap mengembangkan kemampuan melalui pelatihan, kursus, membaca, atau aktivitas produktif lainnya.
Bagi pelamar yang melakukan career switch, recruiter akan melihat transferable skills, yaitu kemampuan yang tetap relevan meskipun berasal dari bidang pekerjaan yang berbeda.
Negosiasi Gaji Harus Berdasarkan Data
Saat memasuki tahap negosiasi kompensasi, kandidat disarankan melakukan riset terlebih dahulu.
Vina menyebut ada tiga acuan utama, yakni Upah Minimum Provinsi (UMP), kebutuhan hidup di kota tujuan, serta standar gaji sesuai posisi dan industri.
Dengan memiliki data tersebut, pelamar dapat mengajukan kisaran gaji yang realistis sekaligus menunjukkan bahwa permintaan yang diajukan memiliki dasar yang jelas.
Jadikan Interview sebagai Dialog
Di akhir pembahasan, Vina mengingatkan bahwa wawancara kerja sebaiknya dipandang sebagai dialog dua arah.
Kandidat tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga berhak menggali informasi mengenai budaya kerja, struktur organisasi, peluang pengembangan karier, hingga berbagai fasilitas yang ditawarkan perusahaan.
Menurutnya, proses rekrutmen sama seperti mencari pasangan yang cocok. Bukan hanya perusahaan yang menilai kandidat, tetapi pelamar juga perlu memastikan bahwa perusahaan tersebut sesuai dengan tujuan dan nilai yang mereka miliki.
Editor : Maylanni Diana Fitri