Kisah Masa Kecil Nabi Muhammad SAW: Pembelahan Dada hingga Perjalanan ke Syam

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:50 WIB
Kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW penuh peristiwa penting, dari pembelahan dada, kehilangan ibu dan kakek, hingga perjalanan ke Syam.(pinterest)
Kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW penuh peristiwa penting, dari pembelahan dada, kehilangan ibu dan kakek, hingga perjalanan ke Syam.(pinterest)

JAKARTA - Kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW dipenuhi berbagai peristiwa penting sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Mulai dari kelahiran sebagai anak yatim, diasuh Halimah As-Sa'diyah, peristiwa pembelahan dada, hingga perjalanan ke Syam bersama Abu Thalib.

Kisah masa kecil Nabi Muhammad bermula ketika Rasulullah SAW lahir dari Bani Hasyim, bagian dari suku Quraisy yang dikenal memiliki kedudukan terpandang di masyarakat Arab. Beliau lahir dalam keadaan yatim karena Abdullah, ayahnya, telah meninggal ketika Aminah masih mengandung.

Dalam kisah tersebut, Nabi Muhammad SAW lahir pada Senin, 9 Rabiul Awal, bertepatan dengan tahun terjadinya peristiwa pasukan bergajah. Setelah kelahirannya, Aminah membawa sang bayi kepada Abdul Muthalib. Sang kakek kemudian membawanya ke Ka'bah untuk bersyukur kepada Allah SWT dan memberikan nama Muhammad.

Diasuh Halimah As-Sa'diyah

Setelah lahir, Nabi Muhammad SAW sempat disusui oleh Tsuwaibah. Sesuai kebiasaan masyarakat Arab saat itu, Aminah kemudian mencari perempuan dari pedesaan untuk menyusui putranya.

Baca Juga: Jangan Asal Seduh, Ini 5 Cara Bikin Kopi Sachet Lebih Nikmat Tanpa Mesin Kopi

Pilihan tersebut akhirnya jatuh kepada Halimah As-Sa'diyah dari Bani Sa'ad. Pada awalnya Halimah enggan menerima Muhammad karena beliau seorang anak yatim. Halimah khawatir tidak memperoleh imbalan yang cukup.

Namun, setelah tidak menemukan bayi lain untuk diasuh, Halimah menerima Muhammad. Ia kemudian membawa Nabi ke perkampungan Bani Sa'ad.

Kehadiran Nabi Muhammad disebut membawa keberkahan bagi keluarga Halimah. Lima tahun pertama kehidupan Rasulullah dilalui di lingkungan pedesaan dengan udara yang lebih segar.

Peristiwa Pembelahan Dada

Ketika berusia sekitar lima tahun, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa yang dikenal sebagai pembelahan dada. Dalam kisah tersebut, Malaikat Jibril AS datang ketika Nabi sedang bermain bersama teman-temannya.

Baca Juga: Kopi Sachet Bisa Seenak Coffee Shop? Coba 5 Tips Barista Ini, Nomor 4 Bikin Kaget

Jibril kemudian membaringkan Nabi dan membelah dadanya. Hatinya diambil, lalu dibersihkan menggunakan air zamzam sebelum dikembalikan ke tempat semula.

Teman-teman Nabi yang menyaksikan kejadian tersebut kemudian berlari menemui Halimah. Mereka mengabarkan bahwa Muhammad mengalami sesuatu yang mengkhawatirkan.

Halimah yang merasa cemas akhirnya memutuskan mengembalikan Nabi Muhammad kepada ibunya di Mekah. Sejak saat itu, Nabi kembali tinggal bersama Aminah.

Kehilangan Ibu dan Kakek

Saat berusia enam tahun, Nabi Muhammad diajak Aminah berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib. Perjalanan tersebut ditemani Ummu Aiman dan dibiayai Abdul Muthalib.

Setelah sekitar satu bulan berada di Yatsrib, mereka melakukan perjalanan pulang menuju Mekah. Namun, dalam perjalanan, Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia di Abwa, sebuah wilayah di antara Mekah dan Madinah.

Nabi Muhammad pun menjadi yatim piatu. Abdul Muthalib kemudian mengambil tanggung jawab untuk merawat cucunya.

Sang kakek memberikan perhatian besar kepada Muhammad. Dalam cerita tersebut, Abdul Muthalib bahkan membiarkan Nabi duduk di tempat khususnya yang biasanya tidak ditempati orang lain.

Namun, kebersamaan itu kembali berakhir ketika Nabi Muhammad berusia delapan tahun. Abdul Muthalib meninggal dunia setelah sebelumnya berpesan agar Muhammad dirawat oleh Abu Thalib.

Perjalanan ke Syam Bersama Abu Thalib

Abu Thalib kemudian merawat Nabi Muhammad bersama keluarganya. Ia memberikan kasih sayang dan perlindungan kepada keponakannya hingga Nabi dewasa.

Saat berusia 12 tahun, Nabi Muhammad ikut Abu Thalib berdagang menuju Syam. Ketika rombongan tiba di Busra, mereka bertemu seorang pendeta bernama Buhaira.

Buhaira memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada diri Nabi Muhammad. Setelah berbicara dengan Abu Thalib, ia menyampaikan bahwa Muhammad kelak akan menjadi pemimpin manusia.

Pendeta tersebut juga meminta Abu Thalib tidak membawa Muhammad terlalu jauh karena khawatir keselamatannya. Abu Thalib akhirnya memutuskan membawa Nabi kembali ke Mekah.

Mengikuti Perang Fijar dan Hilful Fudhul

Ketika berusia sekitar 15 tahun, Nabi Muhammad ikut dalam Perang Fijar. Dalam peperangan tersebut, beliau membantu pamannya menyiapkan peralatan panah.

Setelah perang berakhir, sejumlah kabilah Quraisy membuat perjanjian yang dikenal sebagai Hilful Fudhul. Perjanjian tersebut bertujuan membela orang-orang yang dizalimi di Mekah dan menentang tindakan orang yang merampas hak.

Nabi Muhammad SAW turut menyaksikan perjanjian tersebut. Bahkan setelah menjadi Rasul, beliau masih mengingat dan memuji kesepakatan tersebut.

Rangkaian kisah masa kecil Nabi Muhammad memperlihatkan perjalanan hidup yang penuh ujian. Kehilangan ayah, ibu, dan kakek sejak usia dini tidak menghalangi beliau tumbuh menjadi sosok yang mendapat kepercayaan dan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Abu Thalib Kisah masa kecil Nabi Muhammad Halimah As-Sa'diyah Perjalanan ke Syam nabi muhammad saw