Ramalan Mbah tentang Indonesia Terbelah Empat, Singgung Bencana Alam dan Pesan Leluhur

Brilian Syifa Almasih • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:45 WIB
Mbah saat berbincang mengenai ramalan perubahan alam, tradisi Jawa, dan pesan leluhur dalam video YouTube.
Mbah saat berbincang mengenai ramalan perubahan alam, tradisi Jawa, dan pesan leluhur dalam video YouTube.

JAKARTA - Ramalan Mbah tentang Indonesia kembali menjadi pembahasan dalam sebuah video YouTube yang menampilkan percakapan mengenai perubahan alam, bencana, tradisi Jawa, hingga pesan leluhur. Dalam perbincangan itu, Mbah menyebut pernah melihat gambaran Indonesia yang kelak mengalami perubahan besar, termasuk kemungkinan negara “tergelar dadi papat” atau terbelah menjadi empat.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika pembawa acara mengingatkan ucapan Mbah pada masa lalu tentang pergantian presiden dan perubahan besar yang akan terjadi. Mbah kemudian menjelaskan bahwa gambaran yang pernah dilihatnya berkaitan dengan kondisi alam di Indonesia dan berbagai kemungkinan bencana.

Ia menyebut sejumlah peristiwa seperti gempa dan banjir. Namun, Mbah juga menegaskan bahwa apa yang disampaikannya tidak berarti kepastian mengenai masa depan.

Baca Juga: Kerusakan Struktur Bangunan Picu Dam Pacar Ambrol, Pengairan Lima Desa Berpotensi Terdampak

“Paling tidak, meskipun itu tidak pasti terjadi, paling tidak itu ketika ada teguran, pasti jaga-jaga,” ujar Mbah dalam percakapan tersebut.

Dalam percakapan berikutnya, istilah Indonesia “tergelar dadi papat” kembali dibahas. Ketika ditanya maksud dari empat bagian tersebut, Mbah menjawab bahwa yang dimaksud adalah negara.

“Negara iki dadi papat,” katanya.

Ia kemudian mengaitkannya dengan empat penjuru. Meski demikian, percakapan tersebut tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai bentuk atau waktu terjadinya perubahan yang dimaksud.

Baca Juga: HP Sejutaan Terbaik 2026 Makin Gila, Speknya Sudah Punya Fitur Kelas Menengah

Mbah juga mengingat pesan yang disebut pernah diterimanya dari Sunan Kalijaga. Ia bercerita pernah diperlihatkan gambaran mengenai kondisi yang berkaitan dengan air dan diminta membuat perahu-perahuan dari bambu.

Menurut penjelasannya, perahu dari bambu tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bahaya. Konsep itu kemudian disederhanakan dalam percakapan sebagai pesan “sedia payung sebelum hujan”.

Pembahasan kemudian bergeser pada hubungan manusia dengan alam. Mbah menekankan pentingnya manusia saling mengasihi, termasuk terhadap makhluk hidup lain seperti tumbuhan dan hewan.

Baca Juga: Poco C85 Rp2,2 Jutaan,

Percakapan juga mengulas sejumlah tradisi Jawa yang berkaitan dengan kelahiran dan upaya menghindari bala. Salah satunya adalah tradisi ruwatan bagi anak yang dalam kepercayaan Jawa disebut termasuk kategori sukerta atau sengkala.

Mbah menjelaskan tradisi tersebut berkaitan dengan kisah Batara Kala. Dalam percakapan itu disebut pula penggunaan wayang dan dalang dalam prosesi ruwatan.

Selain ruwatan, dibahas tradisi selamatan kelahiran. Hidangan yang disebut antara lain bubur abang, bubur menir, tumpeng, serta lauk sederhana seperti tahu dan tempe. Selamatan juga dikaitkan dengan weton dan dapat dilakukan setiap bulan sesuai hari kelahiran dalam penanggalan Jawa.

Baca Juga: HP Sejutaan Terbaik 2026: 10 Pilihan dengan Spek Menarik

Menurut pembahasan tersebut, tradisi itu bukan sekadar ritual, tetapi juga mengandung kebiasaan berbagi atau bersedekah. Mbah menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lalu sebagai kehidupan yang lebih sederhana dan menekankan kerukunan.

Bagian lain dari percakapan membahas pengetahuan Mbah mengenai berbagai tanaman yang secara tradisional digunakan masyarakat. Beberapa tanaman yang disebut antara lain kelor, putri malu, suket meniran, suket teki, dan tanaman lain yang dikenal di lingkungan masyarakat Jawa.

Mbah juga menceritakan pengalamannya mencari tanaman serta mengenali tumbuhan tertentu di alam. Ia menyebut pernah memperoleh pengetahuan mengenai tanaman yang dapat dimanfaatkan secara tradisional.

Baca Juga: Dam Pacar Ambrol, Dampak Pengairan Belum Signifikan karena Mayoritas Sawah Tanam Palawija

Percakapan tersebut turut menyinggung madu dan berbagai jenis tawon. Mbah bercerita tentang pengalamannya menemukan sarang tawon dan menjelaskan perbedaan jenis tawon berdasarkan tempat hidup serta sumber makanan yang diambil.

Di akhir percakapan, pembawa acara menyoroti kondisi Mbah yang disebut telah berusia 94 tahun. Pengetahuan mengenai tanaman, tradisi, dan pengalaman hidupnya kemudian dipandang sebagai bagian dari pengetahuan lama yang masih menarik untuk dipelajari.

Secara keseluruhan, percakapan tersebut tidak hanya membahas ramalan Mbah tentang Indonesia, tetapi juga menghubungkannya dengan pesan kesiapsiagaan, kerukunan manusia, penghormatan terhadap alam, serta tradisi yang diwariskan leluhur. Pernyataan mengenai perubahan besar dan Indonesia yang “menjadi empat” tetap berada dalam konteks cerita dan pandangan Mbah, bukan kepastian mengenai peristiwa yang akan terjadi.

Editor : Brilian Syifa Almasih
Ramalan Mbah tentang Indonesia Perubahan Alam Ruwatan Jawa sunan kalijaga Tradisi Jawa