Rumah Haruku di Bali, Hunian Tradisional yang Menyatu dengan Sawah dan Hutan

Carissa Emrys Fawnia • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 07:35 WIB
Home decoration ideas
Home decoration ideas
JAKARTA - Rumah Haruku menjadi wujud kecintaan pasangan asal Belanda terhadap akar budaya Indonesia sekaligus alam yang mengelilingi tempat tinggal mereka di Bali. Rumah ini dirancang dengan pendekatan yang mempertahankan arsitektur tradisional Indonesia, menggunakan sumber daya lokal, dan sebisa mungkin menyatu dengan lingkungan. Konsep tersebut lahir dari keinginan penghuni untuk memiliki rumah yang terasa seperti bagian dari alam, bukan bangunan yang berdiri sendiri di tengah lingkungan.

Rumah tersebut ditempati Risa, seorang desainer yang bekerja di bidang seni dan desain tekstil, bersama pasangannya. Keduanya telah tinggal di Bali selama lebih dari empat tahun setelah sebelumnya menjalani kehidupan di Amsterdam, Belanda. Nama Rumah Haruku dipilih sebagai penghormatan terhadap akar Maluku dan leluhur Risa. Ia memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Pulau Haruku dan cara hidup leluhurnya yang memanfaatkan sumber daya alam dalam skala pulau yang kecil.

Gagasan memiliki rumah sendiri muncul sekitar tiga tahun sebelumnya ketika keduanya masih tinggal di rumah sewaan di sekitar lokasi. Saat berjalan bersama anjing, mereka menemukan pemandangan sawah dan hutan yang membuat Risa membayangkan dirinya tinggal di tempat tersebut selamanya. Secara kebetulan, seorang petani lokal yang lewat kemudian bertanya apakah mereka sedang mencari lahan. Petani tersebut menunjukkan sebidang tanah di samping pertaniannya, yang akhirnya dipilih sebagai lokasi rumah. Hubungan mereka kemudian berkembang menjadi tetangga sekaligus sahabat dekat.

Baca Juga: Rekrutmen Pertamina 2026 Buka 400+ Lowongan Magang, Tersebar di 21 Entitas

Sejak awal, pasangan tersebut tidak menginginkan rumah berbentuk blok beton. Mereka ingin mempertahankan karakter arsitektur Indonesia sekaligus menghormati lingkungan alami di sekitarnya. Pemilihan lahan juga dilakukan secara hati-hati. Mereka memastikan tanah yang digunakan bukan bagian dari sawah aktif sehingga tidak mengambil lahan yang masih dapat digunakan pemiliknya untuk bercocok tanam dan memperoleh penghasilan.

Dalam proses desain, mereka juga terinspirasi oleh desain dan arsitektur Jepang. Mereka menyukai cara desain Jepang menciptakan ruang yang dapat beradaptasi dengan aktivitas dan situasi penghuninya, bukan hanya mengejar tampilan visual. Namun, konsep tersebut tetap harus memiliki akar kuat di Indonesia.

Pohon-pohon dewasa yang sudah ada di lahan dipertahankan dan dimasukkan ke dalam rancangan rumah. Bangunan sengaja dibuat tersembunyi dan menyatu dengan lingkungan agar tidak terlalu mencolok. Penghuni ingin rumah tersebut memberikan kesan seolah sudah berada di lokasi dalam waktu lama.

Baca Juga: Bansos 26 Agustus 2026: Bantuan Beras 30 Kg Mulai Disalurkan di Sejumlah Daerah

Tidak terdapat satu pintu masuk utama yang secara tegas menjadi akses menuju seluruh rumah. Salah satu jalur mengarah ke area komunal, sementara jalur lainnya membawa penghuni menuju taman luar di dekat kamar tamu. Konsep rumah mengambil inspirasi dari rumah panjang atau rumah panjang tradisional Borneo, dengan material yang merujuk pada arsitektur tradisional Indonesia dan memanfaatkan sumber daya lokal.

Konsep ruang di Rumah Haruku memungkinkan batas antara interior dan alam luar berubah sesuai kebutuhan. Koridor di sekitar rumah terinspirasi dari fungsi ruang komunal pada rumah panjang. Pintu-pintu dapat dibuka lebar sehingga area dalam rumah terhubung langsung dengan lingkungan sekitar.

Ruang keluarga memiliki area lounge yang dibuat lebih rendah dengan meja kopi berukuran besar. Ketika pintu-pintu di sekelilingnya dibuka, dek yang mengelilingi rumah menciptakan hubungan langsung dengan area luar. Bagian pagar bangku juga dapat digunakan sebagai tempat duduk tambahan ketika keluarga mengadakan pertemuan dengan banyak orang.

Baca Juga: P3K Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu Januari 2027 Tanpa Tes, Ini Penjelasan Kemendikdasmen

Pada siang hari, pintu dibuka untuk menghadirkan suasana luar ke dalam rumah. Sementara pada malam hari, pintu ditutup sehingga ruang terasa lebih kecil dan nyaman. Dek juga menjadi tempat yang sering digunakan penghuni, terutama pada siang hari. Perbedaan ketinggian dan elemen bangunan menciptakan sejumlah sudut duduk yang terasa intim.

Area makan menjadi ruang pertama yang ditemui ketika memasuki rumah. Interiornya dibuat sederhana dengan meja hitam berukuran besar dan perpaduan kursi kayu yang dikumpulkan pemilik. Sebuah lampu berbahan serat pisang buatan perajin Jepang yang berbasis di Bali menjadi salah satu elemen utama ruangan.

Bagi Risa, dapur merupakan jantung rumah. Keduanya senang memasak dan area tersebut menjadi tempat keluarga maupun teman berkumpul ketika berkunjung. Percakapan berlangsung sambil makanan disiapkan, sementara sebagian orang duduk di meja dan lainnya berada di dek. Karena itu, dapur dibuat luas dan terintegrasi dengan ruang utama.

Baca Juga: Bansos 26 Agustus 2026: Bantuan Beras 30 Kg Mulai Disalurkan di Sejumlah Daerah

Kabinet terbuka di atas kulkas digunakan sebagai tempat memajang berbagai benda kecil yang dikumpulkan dari perjalanan. Dapur juga memiliki taman kecil bergaya Zen Jepang. Meskipun tidak memiliki fungsi praktis, elemen tersebut memberikan nuansa tenang sekaligus menjadi detail visual di dalam dapur.

Salah satu karya seni yang menjadi favorit adalah tekstil tradisional tenun tangan yang ditempatkan di kamar tamu. Kain tersebut dibuat oleh perempuan dari komunitas di Asia melalui proses panjang yang dapat berlangsung hingga satu tahun atau lebih. Pewarnaannya juga menggunakan tanaman dan akar alami yang ditemukan di kawasan tersebut.

Rumah ini juga memiliki ruang kerja yang digunakan ketika penghuni membutuhkan suasana lebih tenang untuk berkonsentrasi. Ruangan tersebut mendapatkan cahaya alami dan memiliki akses langsung ke luar. Di area itu, mereka berencana membuat kebun sayur pada masa mendatang. Fungsinya tidak hanya sebagai kantor, tetapi lebih menyerupai studio kreatif yang tetap terasa hangat dan personal.

Baca Juga: PKH BPNT Tahap 3 Cair Lagi, Ada KPM Terima Rp1,8 Juta dan BPNT Rp600 Ribu

Bagi penghuni, Rumah Haruku menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal. Perpindahan dari kehidupan kota yang cepat di Amsterdam menuju kehidupan yang lebih tenang di lingkungan alam membuat mereka merasa semakin dekat dengan diri sendiri dan lingkungan. Rumah tersebut menjadi ruang untuk menjalani kehidupan yang lebih pelan sekaligus menjaga hubungan dengan akar budaya.

Setiap bagian rumah dirancang dengan perhatian terhadap alam dan karakter penghuninya. Pada pagi hari, cahaya yang menembus kabut hutan menjadi pengingat bahwa rumah tersebut berada di lingkungan yang istimewa. Bagi mereka, justru momen-momen sederhana dalam kehidupan sehari-hari itulah yang membuat Rumah Haruku terasa begitu berarti.

Editor : Carissa Emrys Fawnia
Rumah Menyatu dengan Alam Rumah Haruku Rumah di Bali desain rumah arsitektur tradisional Indonesia