Rumah di Jakarta Ini Ubah Hunian 500 Meter Persegi Jadi Galeri Seni dan Taman Tropis

Carissa Emrys Fawnia • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 07:34 WIB
Home decoration ideas
Home decoration ideas
JAKARTA - Sebuah rumah di Jakarta Timur dirancang tidak sekadar sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang yang menyatukan arsitektur, karya seni, koleksi antik, serta alam. Rumah yang dibangun untuk keluarga muda dengan dua anak ini memiliki luas bangunan sekitar 500 meter persegi di atas lahan sekitar 300 meter persegi. Konsepnya memadukan karakter pemilik rumah dengan warisan budaya keluarga dan sentuhan modern.

Rumah tersebut memiliki lahan berbentuk segitiga dengan salah satu sudut yang cukup tajam. Arsitek kemudian membuat bangunan sejauh mungkin terpisah dari tetangga untuk menjaga privasi sekaligus menciptakan ruang bagi sirkulasi udara dan masuknya cahaya alami. Atap dan garasi juga didesain ulang dengan tema yang seragam, sekaligus diberi celah untuk membantu aliran udara masuk ke dalam rumah.

Arsitektur rumah ini diperlakukan seperti sebuah karya seni atau pahatan yang memadukan elemen lama dan baru. Principal Architect dari Studio R adalah K Prani dan Raduna. Keduanya menjelaskan bahwa proses desain diawali melalui percakapan panjang dengan pemilik rumah. Dari pembicaraan itu diketahui pemilik memiliki kegemaran membaca, mengoleksi karya seni dan barang antik, tetapi kemudian terlihat bahwa koleksi tersebut juga menjadi cara mereka mempertahankan tradisi dan warisan keluarga dengan sentuhan modern.

Baca Juga: Semarak HUT Ke-81 RI, Gerakan Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Hadir di Desa Widoro Trenggalek

Konsep tersebut sudah terlihat sejak memasuki rumah. Jalur masuk dibuat seolah membawa suasana luar ke bagian dalam melalui lantai batu yang memanjang dari pintu masuk. Tanaman hijau ditempatkan di sepanjang dua dinding tinggi. Sejumlah sudut juga dibuat membulat untuk memberikan kesan yang lebih lembut sekaligus memperkuat karakter pahatan pada bangunan.

Pintu utama menggunakan material kayu dengan tekstur yang sengaja dibuat tidak terlalu sempurna, menyerupai karakter permukaan batu. Setelah melewati pintu, penghuni maupun tamu memasuki foyer yang dibuat lebih tertutup, intim, dan tenang. Ruang tersebut berfungsi seperti kanvas bagi pemilik untuk menampilkan koleksi seni mereka.

Di ujung foyer terdapat patung Ganesha yang ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dari koleksi. Di balik struktur melengkung, terdapat kamar tamu yang ukurannya tidak terlalu besar tetapi telah dilengkapi kamar mandi. Dari area foyer yang memiliki plafon gelap dan terasa lebih menekan, ruang kemudian perlahan terbuka menuju courtyard garden, skylight, hingga taman di rooftop.

Baca Juga: Anugerah Guru Prima 2026 PGRI Tulungagung, Kembangkan Metode Pembelajaran, Terbaik Melaju ke Jatim

Courtyard menjadi salah satu elemen utama dalam desain rumah. Area terbuka ini memisahkan ruang komunal di lantai dasar dengan kamar-kamar privat di lantai atas. Bukaan yang dibuat memungkinkan udara bersirkulasi melewati empat tingkat rumah. Pada siang hari, cahaya matahari juga masuk dan menciptakan perubahan suasana di dalam rumah.

Beberapa pohon sengaja ditanam agar dapat tumbuh menuju bagian atas rumah. Arsitek bahkan menambahkan hatch yang dapat dibuka ketika pohon tersebut semakin besar. Dengan begitu, penghuni diharapkan suatu hari dapat benar-benar merasakan pengalaman tinggal di bawah pepohonan tanpa harus meninggalkan rumah.

Ruang makan ditempatkan sebagai jantung hunian karena menjadi tempat keluarga dan teman berkumpul. Posisinya berada di antara taman, ruang keluarga, dan pantry sehingga menghadirkan hubungan yang kuat dengan area luar. Bay window juga ditambahkan untuk menyediakan tempat duduk tambahan, sementara lanskap hijau dengan elemen menyerupai sungai membuat penghuni dapat menikmati pemandangan taman dari berbagai posisi saat makan.

Pemilik rumah diketahui cukup sering menerima tamu, tetapi tidak ingin area dapur bisa diakses langsung oleh mereka. Karena itu, pantry digunakan sebagai area pelayanan. Alih-alih memasang partisi, perbedaan ketinggian plafon digunakan untuk membedakan area ruang keluarga dan ruang makan. Konsep tersebut membuat kedua ruangan tetap terasa luas dan terhubung.

Baca Juga: Investasi Tulungagung Tembus Rp 652 Miliar, UMKM Jadi Penggerak Utama hingga Semester I 2026

Interior rumah mempertahankan warna-warna yang relatif konsisten agar karya seni pemilik dapat menjadi elemen visual yang menonjol. Berbagai barang antik berasal dari keluarga maupun pasar barang bekas, kemudian dipadukan dengan koleksi modern yang dikumpulkan pemilik secara lokal.

Salah satu benda yang menarik adalah sebuah bangku yang awalnya dibeli dari warung makanan tradisional. Benda tersebut ditemukan secara kebetulan ketika pemilik berjalan di jalanan. Kini, bangku itu digunakan sebagai tempat duduk tamu dan ditempatkan di bawah sebuah karya seni.

Pada lantai kedua terdapat ruang keluarga privat yang berfungsi sebagai area transisi antara ruang bersama dan kamar tidur. Sebuah lounge kecil juga ditempatkan di sudut yang berada tepat di atas pintu masuk. Dari sana, penghuni dapat melihat tamu yang datang dari posisi lebih tinggi.

Baca Juga: Terjerat Kasus Lain di Kediri, Pelaku Akui Curi Motor di Kedungwaru

Kamar utama sengaja ditempatkan di sisi timur rumah untuk mendapatkan cahaya matahari pagi sesuai keinginan pemilik. Pepohonan ditanam di sekitar jendela untuk menyaring cahaya sekaligus memberikan privasi. Kamar mandi utama dibuat terbuka dengan bathtub berada di depan jendela besar. Jendela tersebut dapat dibuka untuk menghadirkan cahaya dan udara segar, sementara tanaman di luar berfungsi sebagai penyaring pandangan.

Bagian rooftop awalnya direncanakan memiliki kolam renang. Namun, pemilik akhirnya memilih taman tropis karena mempertimbangkan isu perubahan iklim. Taman tersebut dirancang untuk membantu menurunkan suhu rumah sekaligus menyerap karbon dioksida. Area ini juga menjadi perpanjangan ruang keluarga ketika pemilik menerima tamu.

Bagi arsiteknya, rumah tersebut menjadi contoh bagaimana hunian dapat merespons kebutuhan terhadap alam sekaligus mempertahankan latar budaya pemilik. Cahaya alami, ventilasi, pohon, dan tanaman tidak hanya ditempatkan di luar rumah, tetapi dibawa masuk ke dalam pengalaman sehari-hari penghuni. Rumah ini sekaligus menunjukkan bagaimana warisan keluarga dapat dipertahankan melalui arsitektur modern sehingga hunian dapat terus tumbuh dan menua bersama penghuninya.

Editor : Carissa Emrys Fawnia
interior rumah Rumah di Jakarta Arsitektur Rumah Rumah Tropis desain rumah