Bagaimana Cara Orang Tua Mencegah Anak Terjerumus Narkoba? Kenali Lingkungan Pertemanan Sejak Dini

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 10:30 WIB
Mencegah anak terjerumus narkoba dimulai dari keluarga. Kenali lingkungan pertemanan, bangun komunikasi, dan ajarkan anak berani menolak.(ILUSTRASI AI)
Mencegah anak terjerumus narkoba dimulai dari keluarga. Kenali lingkungan pertemanan, bangun komunikasi, dan ajarkan anak berani menolak.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Mencegah anak terjerumus narkoba tidak cukup dilakukan dengan melarang anak menggunakan narkotika. Orang tua juga perlu memahami lingkungan pertemanan anak, membangun komunikasi terbuka, dan membantu anak memiliki kemampuan menolak ketika mendapat ajakan yang berisiko.

Mencegah anak terjerumus narkoba menjadi penting karena pengaruh teman sebaya dapat menjadi salah satu faktor yang membentuk perilaku remaja. BNN dalam berbagai materi pencegahan menempatkan keluarga dan lingkungan pertemanan sebagai bagian penting dalam membangun ketahanan anak terhadap penyalahgunaan narkoba.

Karena itu, mencegah anak terjerumus narkoba sebaiknya dimulai sebelum muncul masalah. Orang tua dapat mengenali siapa teman anak, aktivitas yang dilakukan bersama, serta situasi yang membuat anak merasa tertekan tanpa harus menjadikan pengawasan sebagai bentuk kecurigaan terus-menerus.

Baca Juga: Narkoba Bisa Picu Gangguan Mental, Ini Dampaknya pada Otak dan Perilaku

Kenali Lingkungan Pertemanan Anak

Langkah pertama adalah mengetahui dengan siapa anak banyak menghabiskan waktu. Orang tua dapat mengenal teman dekat anak, mengetahui kegiatan mereka, serta memahami lingkungan tempat anak biasa berkumpul.

Pengawasan semacam ini berbeda dengan membatasi seluruh pergaulan anak. Tujuannya adalah membantu orang tua mengetahui lingkungan sosial anak sekaligus mengenali situasi yang berpotensi membuat anak menghadapi tekanan dari kelompok sebaya.

Materi BNN tentang pencegahan narkoba menyebut perkembangan remaja tidak hanya dipengaruhi keluarga, tetapi juga lingkungan sekolah dan teman sebaya. Pengaruh tersebut dapat bersifat positif maupun negatif.

Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan dalam pola pergaulan. Misalnya, anak tiba-tiba enggan bercerita mengenai teman-temannya atau terlihat menghadapi tekanan tertentu. Kondisi seperti itu sebaiknya menjadi alasan untuk membuka percakapan, bukan langsung memberikan tuduhan.

Hubungan yang dekat dengan anak menjadi salah satu faktor pelindung. BNN dan UNODC menekankan penguatan keluarga melalui komunikasi yang lebih intens, pola pengasuhan yang hangat, serta peningkatan kemampuan orang tua dalam mendampingi anak.

Baca Juga: Sakau Akibat Narkoba Bisa Berlangsung Berbulan-bulan, Ini Gejala dan Tahapannya

Bangun Komunikasi agar Anak Berani Bercerita

Komunikasi menjadi penting ketika anak menghadapi ajakan atau tekanan dari teman. Anak perlu merasa memiliki tempat yang aman untuk bercerita tanpa langsung takut dimarahi ketika mengungkapkan masalah.

Orang tua dapat memulai percakapan dari hal sederhana, seperti menanyakan kegiatan sekolah, teman yang paling sering ditemui, atau pengalaman yang membuat anak merasa tidak nyaman. Pertanyaan terbuka memberi kesempatan anak menjelaskan situasinya dengan lebih leluasa.

Materi BNN untuk orang tua menekankan pentingnya komunikasi yang jujur, terbuka, dan akrab. Anak juga perlu diberi ruang untuk berbicara, sementara orang tua tidak hanya menyampaikan nasihat secara satu arah.

Kemampuan anak mengambil keputusan juga perlu dilatih. Orang tua dapat membahas contoh situasi ketika seorang teman menawarkan sesuatu yang berbahaya, kemudian mendiskusikan pilihan yang dapat diambil anak.

Salah satu keterampilan penting adalah kemampuan mengatakan tidak. BNN juga menganjurkan remaja memiliki keberanian menolak tawaran narkoba dan memilih pertemanan yang tidak mendorong penyalahgunaan.

Baca Juga: Sakau Akibat Narkoba Bisa Berbahaya, Kenali Gejala dan Tahapan Withdrawal Syndrome

Jangan Menunggu Sampai Anak Mencoba

Pencegahan tidak harus menunggu adanya tanda penggunaan narkoba. Edukasi mengenai risiko penyalahgunaan dan keterampilan menghadapi tekanan teman dapat diberikan sejak anak mulai memasuki lingkungan pergaulan yang lebih luas.

WHO dan UNODC dalam standar pencegahan penggunaan narkoba merekomendasikan pendekatan berbasis bukti yang mendukung perkembangan keterampilan pribadi dan sosial anak serta remaja. Pencegahan juga perlu melibatkan keluarga dan lingkungan yang mendukung perkembangan sehat.

Konteks tersebut relevan dengan kondisi yang disoroti BNNK Tulungagung. Penyalahgunaan narkoba tidak terbatas pada kelompok ekonomi tertentu. Salah satu pola yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang dikenalkan narkoba oleh teman, diajak mencoba, bahkan mendapat tawaran secara cuma-cuma.

Dari mencoba, penggunaan dapat berkembang menjadi ketergantungan. Ketika kondisi tersebut terjadi, persoalan juga dapat berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi pengguna, termasuk ketika kebutuhan terhadap narkoba membuat penghasilan terserap atau seseorang dimanfaatkan dalam jaringan peredaran.

Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak menunjukkan tanda yang berat untuk mulai melakukan pencegahan. Mengenali teman anak, menjaga komunikasi, menetapkan aturan yang jelas, dan mengajarkan kemampuan menolak dapat dilakukan sejak dini.

Jika orang tua menemukan indikasi anak mulai menggunakan narkoba, pendekatan yang tepat bukan sekadar menyalahkan atau mempermalukan. BNN mencantumkan deteksi dini, konseling individu dan keluarga, serta dukungan sosial sebagai bagian dari pencegahan lanjutan.

Pada akhirnya, mencegah anak terjerumus narkoba membutuhkan keterlibatan keluarga sekaligus lingkungan sosial. Orang tua yang mengenal pertemanan anak, menyediakan ruang komunikasi, dan melatih anak mengambil keputusan dapat membantu membangun perlindungan sejak sebelum muncul ajakan untuk mencoba.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
pencegahan narkoba pengaruh teman sebaya mencegah anak terjerumus narkoba lingkungan pertemanan anak peran orang tua