Mengapa Mencoba Narkoba Sekali Tetap Berisiko? Ini Awal Mula Penyalahgunaan hingga Ketergantungan

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 10:40 WIB
Mencoba narkoba sekali tetap berisiko. Kenali pengaruh teman, awal penyalahgunaan, hingga tanda ketergantungan.(ILUSTRASI AI)
Mencoba narkoba sekali tetap berisiko. Kenali pengaruh teman, awal penyalahgunaan, hingga tanda ketergantungan.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Mencoba narkoba sekali tetap berisiko karena tindakan tersebut dapat menjadi awal dari penggunaan berulang. Banyak kasus penyalahgunaan justru bermula dari rasa penasaran atau ajakan teman yang awalnya dianggap sekadar mencoba.

Karena itu, anggapan bahwa mencoba narkoba sekali tidak akan menimbulkan masalah perlu dihindari. Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi seseorang, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor risiko, termasuk lingkungan pertemanan dan kemampuan seseorang menolak ajakan.

Perjalanan menuju ketergantungan juga tidak selalu berlangsung secara langsung. Namun, ketika penggunaan mulai berulang dan semakin sulit dikendalikan, risikonya dapat berkembang menjadi gangguan penggunaan narkoba yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. BNN mencatat faktor risiko dapat berasal dari individu, keluarga, teman sebaya, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Baca Juga: Narkoba Bisa Picu Gangguan Mental, Ini Dampaknya pada Otak dan Perilaku

Ajakan Teman Bisa Menjadi Awal

Lingkungan pertemanan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba. Seseorang bisa mengenal narkoba karena diajak teman, kemudian mendapatkan narkoba secara cuma-cuma sebagai bagian dari upaya membuatnya tertarik mencoba.

Situasi seperti itu membuat keputusan pertama menjadi penting. Ketika seseorang menerima ajakan dengan alasan hanya ingin tahu atau sekadar mencoba, batas antara rasa penasaran dan penggunaan berikutnya dapat menjadi semakin sulit dijaga.

Materi pencegahan BNN juga menjelaskan bahwa faktor teman sebaya dapat menjadi salah satu faktor risiko. Sebaliknya, kemampuan menolak pengaruh negatif dan adanya lingkungan yang mendukung dapat menjadi faktor pelindung.

Artinya, menjaga pergaulan bukan berarti seseorang harus menjauhi semua teman. Yang lebih penting adalah mengenali pengaruh lingkungan dan memiliki keberanian untuk menolak ajakan menggunakan narkoba.

Baca Juga: Sakau Akibat Narkoba Bisa Berlangsung Berbulan-bulan, Ini Gejala dan Tahapannya

Mengapa Penggunaan Bisa Berkembang Menjadi Ketergantungan?

Ketergantungan bukan sekadar persoalan kemauan seseorang untuk berhenti. BNN menjelaskan bahwa ketergantungan dapat ditandai antara lain dengan keinginan kuat untuk menggunakan narkoba secara berulang, kesulitan mengendalikan penggunaan, serta tetap menggunakan meskipun mengetahui dampak buruknya.

Dalam kondisi tertentu, penggunaan juga dapat menimbulkan masalah sosial dan ekonomi. Penghasilan seseorang dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan narkoba. Bahkan, orang yang sudah terjerat dapat dimanfaatkan jaringan peredaran narkoba untuk melakukan aktivitas ilegal demi mendapatkan barang yang diinginkan.

Karena itu, risiko tidak berhenti pada penggunaan zat. Dampaknya dapat merembet ke keluarga, pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi, hubungan sosial, hingga persoalan hukum.

WHO dan UNODC menekankan bahwa pencegahan penggunaan narkoba perlu dilakukan berdasarkan bukti dan tidak hanya mengandalkan satu pendekatan. Pencegahan dapat diarahkan pada penguatan faktor pelindung serta pengurangan faktor risiko sejak tahap awal.

Baca Juga: Sakau Akibat Narkoba Bisa Berbahaya, Kenali Gejala dan Tahapan Withdrawal Syndrome

Pencegahan Dimulai Sebelum Ada Ketergantungan

Pencegahan paling sederhana adalah tidak memulai penggunaan. Ketika mendapat ajakan, seseorang perlu memahami bahwa menolak sejak awal jauh lebih aman dibanding mencoba lalu berusaha menghentikan penggunaan setelah terbentuk kebiasaan.

Keluarga juga memiliki peran penting. Orang tua tidak cukup hanya mengetahui kegiatan anak ketika berada di rumah, tetapi perlu memahami lingkungan pertemanan dan membangun komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita mengenai masalah yang dihadapi.

Sekolah dan masyarakat juga menjadi bagian dari pencegahan. Edukasi tentang risiko narkoba, keterampilan menolak tekanan teman sebaya, serta lingkungan sosial yang mendukung dapat membantu memperkuat perlindungan terhadap penyalahgunaan. WHO menyebut sektor pendidikan memiliki tanggung jawab dalam melindungi anak dan remaja dari dampak penggunaan zat.

Jika seseorang sudah mulai mencoba, langkah yang diperlukan bukan menunggu sampai masalah semakin berat. BNN membedakan pencegahan berdasarkan tahapnya, termasuk deteksi dini dan konseling bagi mereka yang sudah mulai mencoba menggunakan narkoba.

Dengan demikian, mencoba narkoba sekali tetap perlu dipandang sebagai risiko yang tidak boleh disepelekan. Rasa penasaran, tekanan teman, atau pemberian gratis dapat menjadi pintu awal, sedangkan penggunaan berulang dapat berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.

Pencegahan berlapis dari keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat menjadi penting agar seseorang memiliki pengetahuan, dukungan, serta keberanian untuk menolak sebelum penggunaan berkembang menjadi ketergantungan.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
ketergantungan narkoba pencegahan narkoba pengaruh teman sebaya mencoba narkoba sekali penyalahgunaan narkoba