Media Sosial untuk Mengajak Anak Muda Hidup Sehat, Ini Cara Membuat Konten Positif

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 11:10 WIB
Media sosial hidup sehat bisa mengajak anak muda membangun kebiasaan positif. Simak cara membuat konten kesehatan yang menarik dan tepercaya.(ILUSTRASI AI)
Media sosial hidup sehat bisa mengajak anak muda membangun kebiasaan positif. Simak cara membuat konten kesehatan yang menarik dan tepercaya.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Media sosial hidup sehat dapat menjadi sarana untuk mengajak anak muda mengenal kebiasaan positif. Konten sederhana seperti ide makanan bergizi, aktivitas olahraga, atau rutinitas sehari-hari bisa dikemas menjadi informasi yang lebih mudah diterima jika disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka.

Penggunaan media sosial hidup sehat juga tidak harus dilakukan dengan konten yang terkesan menggurui. Pengalaman pribadi, demonstrasi sederhana, atau ajakan melakukan aktivitas tertentu dapat menjadi cara untuk membuat pesan kesehatan terasa lebih relevan bagi pengguna muda.

Baca Juga: Mengapa Mencoba Narkoba Sekali Tetap Berisiko? Ini Awal Mula Penyalahgunaan hingga Ketergantungan

Mulai dari Informasi yang Dekat dengan Keseharian

Konten kesehatan lebih mudah dikembangkan ketika berangkat dari persoalan yang memang dekat dengan audiens. Tidak perlu langsung membahas topik yang rumit karena kebiasaan sederhana seperti pilihan makanan dan aktivitas fisik juga berkaitan dengan kesehatan anak muda.

WHO menyebut masa remaja sebagai periode penting untuk membangun pola perilaku yang dapat memengaruhi kesehatan pada masa sekarang maupun masa mendatang. Pola makan dan aktivitas fisik termasuk perilaku yang perlu diperhatikan sejak usia tersebut.

Karena itu, pembuat konten dapat memilih topik yang mudah dipraktikkan. Misalnya, menunjukkan proses menyiapkan makanan, membagikan aktivitas olahraga yang dilakukan, atau menjelaskan kebiasaan sehat berdasarkan sumber kesehatan yang kredibel.

Pengalaman pribadi juga dapat membuat konten terasa lebih natural. Namun, pengalaman tersebut sebaiknya dibedakan dari informasi medis sehingga pembaca tidak menganggap pengalaman seseorang sebagai rekomendasi kesehatan yang berlaku untuk semua orang.

Baca Juga: Bagaimana Cara Orang Tua Mencegah Anak Terjerumus Narkoba? Kenali Lingkungan Pertemanan Sejak Dini

Pastikan Informasi Kesehatan Punya Sumber yang Jelas

Membuat konten kesehatan tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi yang terdengar masuk akal. Setiap klaim kesehatan sebaiknya diperiksa terlebih dahulu agar konten tidak ikut menyebarkan informasi keliru.

WHO menyarankan masyarakat mempertanyakan siapa yang menyampaikan informasi kesehatan, bagaimana informasi tersebut diketahui, apakah sumbernya dapat dipercaya, dan apakah informasinya masih mutakhir. Sumber dari layanan kesehatan nasional, pemerintah, atau pakar yang relevan dapat menjadi rujukan penting.

WHO juga memiliki prinsip untuk membantu mengenali sumber informasi kesehatan yang kredibel di media sosial. Hal ini penting karena informasi kesehatan yang beredar di platform digital dapat memengaruhi keputusan dan perilaku pengguna.

Dengan prinsip tersebut, konten tentang makanan bergizi atau olahraga sebaiknya tidak disertai klaim berlebihan. Hindari menjanjikan hasil tertentu hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau tren yang sedang ramai di media sosial.

Baca Juga: Mengapa Ajakan Teman Bisa Menjadi Pintu Masuk Penyalahgunaan Narkoba? Kenali Risiko Pergaulan Remaja

Buat Konten yang Mengajak, Bukan Sekadar Menampilkan

Konten media sosial hidup sehat akan lebih fungsional jika mendorong audiens memahami atau mencoba kebiasaan positif, bukan hanya melihat unggahan. Format video pendek, foto proses, cerita pengalaman, atau rangkaian tips dapat digunakan sesuai karakter platform dan audiens.

Dalam praktiknya, sebuah konten bisa dimulai dari masalah sederhana. Misalnya, mengapa penting memperhatikan makanan, bagaimana memulai aktivitas fisik, atau apa yang perlu diperhatikan sebelum mencoba rutinitas olahraga tertentu.

Instagram Story dapat digunakan untuk membagikan aktivitas seperti makanan bergizi, memasak makanan sehat, dan olahraga. Konten yang berasal dari aktivitas sehari-hari juga dapat menjadi bahan percakapan mengenai gaya hidup sehat.

Namun, penggunaan media sosial tetap perlu seimbang. WHO mencatat bahwa lingkungan digital memberikan peluang untuk memperoleh informasi dan membangun koneksi, tetapi juga memiliki risiko, termasuk paparan konten berbahaya dan informasi yang keliru.

UNICEF juga menekankan bahwa kualitas konten dan aktivitas di media sosial penting diperhatikan dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Interaksi positif dan penggunaan yang seimbang dapat membantu mengurangi risiko dari penggunaan media sosial yang tidak sehat.

Karena itu, membuat konten kesehatan untuk anak muda dapat dimulai dari tiga hal: pilih topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, gunakan informasi dari sumber tepercaya, lalu kemas pesan secara sederhana dan tidak menghakimi. Cara tersebut membuat media sosial tidak hanya menjadi tempat menunjukkan aktivitas, tetapi juga ruang berbagi informasi yang dapat mendorong kebiasaan positif.

Pada akhirnya, media sosial hidup sehat bukan tentang seberapa sering seseorang mengunggah konten kesehatan. Hal yang lebih penting adalah memastikan pesan yang dibagikan akurat, mudah dipahami, relevan bagi anak muda, dan tidak memberikan klaim kesehatan yang menyesatkan.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
media sosial hidup sehat konten kesehatan gaya hidup sehat anak muda konten positif media sosial remaja