Mengapa Konten Positif di Media Sosial Bisa Berdampak bagi Orang Lain? Ini Alasannya

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 11:30 WIB
Konten positif di media sosial bisa menginspirasi hidup sehat dan membantu UMKM. Simak cara membuat konten yang bermanfaat.(ILUSTRASI AI)
Konten positif di media sosial bisa menginspirasi hidup sehat dan membantu UMKM. Simak cara membuat konten yang bermanfaat.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Konten positif di media sosial tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Jika dibuat dengan informasi yang benar dan tujuan yang jelas, konten tersebut dapat mendorong orang lain mengenal kebiasaan sehat sekaligus membantu memperkenalkan produk UMKM kepada audiens yang lebih luas.

Dampak konten positif di media sosial dapat muncul dari hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, membagikan makanan bergizi, aktivitas olahraga, pengalaman menggunakan produk lokal, atau ulasan usaha kecil yang layak dikenal.

Pengaruh tersebut memang tidak selalu bisa diukur hanya dari jumlah penonton atau tanda suka. Namun, media sosial menyediakan ruang untuk menyebarkan informasi dan membuka percakapan, sehingga konten yang relevan berpotensi menjangkau orang di luar lingkungan pembuatnya.

Baca Juga: Media Sosial untuk Mengajak Anak Muda Hidup Sehat, Ini Cara Membuat Konten Positif

Konten Positif Dimulai dari Hal yang Dekat

Salah satu cara membuat konten yang berdampak adalah mengangkat aktivitas yang benar-benar dilakukan. Konten tidak harus selalu berupa kampanye besar karena pengalaman sehari-hari justru dapat membuat pesan lebih mudah dipahami.

Pola tersebut terlihat dari kebiasaan membagikan makanan bergizi, kegiatan memasak makanan sehat, hingga olahraga melalui media sosial. Konten seperti ini dapat menjadi pengingat bagi orang lain bahwa kebiasaan sehat bisa dimulai dari aktivitas sederhana.

WHO menyebut media sosial dan platform digital dapat membantu memperluas jangkauan pesan kesehatan. Namun, informasi kesehatan yang dibagikan tetap perlu berbasis bukti dan berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

Karena itu, pembuat konten sebaiknya tidak sekadar mengikuti tren. Informasi tentang kesehatan perlu diperiksa terlebih dahulu, terutama jika menyangkut makanan, olahraga, penyakit, obat, atau klaim yang dapat memengaruhi keputusan seseorang.

Baca Juga: Mengapa Mencoba Narkoba Sekali Tetap Berisiko? Ini Awal Mula Penyalahgunaan hingga Ketergantungan

Ulasan Produk Bisa Membantu UMKM Dikenal

Konten positif juga dapat diarahkan untuk mendukung pelaku UMKM. Bentuknya tidak harus berupa iklan berbayar. Membeli produk, mencoba, kemudian membagikan pengalaman secara jujur dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan produk lokal kepada audiens.

Praktik semacam itu dapat dilakukan melalui video pendek, foto, cerita pengalaman, atau ulasan produk. Hal yang penting adalah informasi yang disampaikan sesuai pengalaman dan tidak melebih-lebihkan kualitas produk.

Bank Indonesia mencatat bahwa kehadiran digital membantu UMKM dikenal konsumen potensial dan memperluas basis pelanggan. Media sosial dan marketplace dapat digunakan sebagai saluran pemasaran sesuai karakteristik usaha dan target pasar.

Dukungan dari pengguna media sosial juga dapat memperluas kesempatan sebuah produk ditemukan oleh calon konsumen. Bahkan, Bank Indonesia melaporkan UMKM binaannya yang telah bertransaksi melalui kanal digital mengalami pertumbuhan omzet rata-rata 29,9 persen secara tahunan pada 2025. Angka tersebut merupakan data UMKM binaan BI, sehingga tidak dapat dianggap mewakili seluruh UMKM Indonesia.

Baca Juga: Bagaimana Cara Orang Tua Mencegah Anak Terjerumus Narkoba? Kenali Lingkungan Pertemanan Sejak Dini

Dampak Konten Bergantung pada Cara Menyampaikannya

Konten yang bertujuan memberikan manfaat perlu memperhatikan cara penyampaiannya. Pesan yang terlalu menggurui atau berisi klaim tanpa dasar justru dapat membuat audiens sulit membedakan informasi yang dapat dipercaya.

UNICEF mencatat media sosial dapat digunakan untuk menyampaikan konten berbasis bukti, membangun percakapan, dan memperkuat kesadaran publik. Pada saat yang sama, penggunaan media sosial tetap perlu dilakukan secara sehat dan seimbang karena platform digital juga memiliki risiko bagi pengguna.

Karena itu, pembuat konten dapat menggunakan beberapa prinsip sederhana. Pertama, pilih topik yang benar-benar dipahami. Kedua, gunakan informasi dari sumber tepercaya jika menyampaikan klaim kesehatan. Ketiga, berikan ulasan produk secara jujur tanpa menyembunyikan fakta penting.

Keempat, buat konten yang mudah dipahami dan sesuai dengan audiens. Kelima, hindari menjadikan jumlah tayangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan karena tujuan konten positif adalah memberikan informasi atau manfaat yang relevan.

Konten positif di media sosial pada akhirnya dapat menjadi bentuk kontribusi sederhana. Satu unggahan tentang kebiasaan hidup sehat dapat membuka percakapan, sementara satu ulasan produk lokal dapat membantu sebuah UMKM dikenal oleh calon konsumen baru.

Namun, dampak tersebut tetap bergantung pada kualitas informasi dan cara penyampaiannya. Media sosial hanyalah alat; manfaatnya akan lebih besar ketika digunakan secara bertanggung jawab, transparan, dan tidak menyebarkan klaim yang belum terbukti.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
promosi umkm konten positif di media sosial kampanye hidup sehat media sosial umkm produk lokal