TULUNGAGUNG - Cara menghemat air saat kekeringan perlu diterapkan ketika persediaan air rumah tangga mulai terbatas. Penghematan bukan berarti mengabaikan kebersihan, melainkan mengatur penggunaan berdasarkan kebutuhan paling penting dan mencegah air terbuang percuma.
Kondisi tersebut relevan bagi warga di sejumlah wilayah Tulungagung. Hingga 25 September 2026, BPBD Tulungagung telah mendistribusikan 66 tangki atau sekitar 330 ribu liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Data BPBD mencatat sekitar 2.804 jiwa atau 1.008 kepala keluarga (KK) terdampak yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kalidawir, Besuki, Pucanglaban, Tanggunggunung, Campurdarat, Bandung, dan Sendang.
Ketika pasokan terbatas, air yang tersedia perlu dikelola agar dapat mencukupi kebutuhan penting sehari-hari. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan di rumah.
Baca Juga: Kekeringan Tulungagung, BPBD Salurkan 330 Ribu Liter Air untuk 2.804 Jiwa
Prioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan utama
Langkah pertama adalah menentukan kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Air untuk minum, memasak, kebersihan tubuh, mencuci tangan, dan sanitasi perlu ditempatkan sebagai prioritas.
Sementara itu, kegiatan yang menggunakan banyak air tetapi tidak mendesak dapat dikurangi selama masa kekeringan. Prinsip pengelolaan air rumah tangga juga ditekankan dalam program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas), yang mendorong perilaku hemat air sekaligus pengelolaan air minum rumah tangga secara aman.
Kebiasaan sederhana juga dapat membantu. Misalnya, jangan membiarkan keran terus mengalir ketika tidak sedang digunakan, gunakan air secukupnya saat mencuci, dan sesuaikan jumlah air dengan kebutuhan.
Baca Juga: Menghadapi Kekeringan di Rumah, Ini Cara Menentukan Prioritas Penggunaan Air
Cek kebocoran dan kurangi air yang terbuang
Persediaan air dapat berkurang bukan hanya karena pemakaian, tetapi juga karena kebocoran. Keran yang terus menetes, sambungan pipa yang bocor, selang, hingga toilet yang mengalami kebocoran tersembunyi perlu diperiksa secara berkala.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) merekomendasikan pemeriksaan kebocoran pada keran, toilet, shower, pipa, dan peralatan rumah tangga yang menggunakan air. Kebocoran yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan pemborosan air dalam jumlah besar.
Penggunaan air di kamar mandi juga bisa dikurangi dengan memperpendek waktu mandi dan mematikan keran ketika menyikat gigi. Untuk mencuci pakaian, mesin cuci sebaiknya dijalankan ketika muatan sudah cukup sehingga penggunaan air lebih efisien.
Baca Juga: Kekeringan Tulungagung Berdampak 2.804 Jiwa, BPBD Salurkan 39 Rit Air Bersih
Simpan air dengan aman, bukan sekadar sebanyak mungkin
Menghemat air tidak cukup jika persediaan yang sudah dikumpulkan justru terkontaminasi. Air untuk minum dan memasak perlu disimpan dalam wadah yang bersih serta tertutup.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan wadah penyimpanan air yang tertutup, berleher sempit atau dilengkapi keran. Wadah juga perlu dibersihkan secara berkala, sedangkan air yang sudah diolah harus disimpan dalam tempat yang bersih dan selalu tertutup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya penyimpanan air secara aman setelah pengolahan. Wadah sebaiknya tertutup, bersih, mudah dibersihkan, dan dirancang agar tangan tidak perlu langsung menyentuh air ketika mengambilnya.
Karena itu, persediaan air sebaiknya dipisahkan berdasarkan peruntukannya. Air minum dan memasak jangan dicampur dengan air untuk keperluan mencuci atau membersihkan lingkungan.
keBaca Juga: Kekeringan Meluas ke Enam Desa, BPBD Tulungagung Salurkan 17 Rit Air Bersih untuk 1.148 Warga
Gunakan air secara berulang dengan tetap memperhatikan keamanan
Sebagian air rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan yang tidak memerlukan air layak minum, selama kualitasnya sesuai untuk penggunaan tersebut. Misalnya, air yang terkumpul dari kegiatan tertentu dapat digunakan untuk membersihkan area luar rumah, selama tidak mengandung bahan yang berbahaya dan penggunaannya tidak menimbulkan risiko kesehatan.
Namun, air bekas mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, atau aktivitas lain tidak boleh langsung dianggap aman untuk diminum atau digunakan memasak. Pengelolaan air minum rumah tangga tetap membutuhkan proses pengolahan dan penyimpanan yang higienis. Pamsimas menempatkan pengolahan air dan penyimpanan higienis sebagai bagian dari pengamanan air minum rumah tangga.
Penghematan juga perlu dilakukan secara konsisten selama sumber air belum kembali normal. BMKG pada pemantauan 10 September 2026 mencatat wilayah Jawa Timur pada umumnya mengalami hari tanpa hujan dengan kriteria kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari, sementara curah hujan pada dasarian pertama September berada pada kategori rendah.
Di tengah kondisi tersebut, pengelolaan persediaan air menjadi bagian penting dari kesiapan rumah tangga. Penggunaan berdasarkan prioritas, pencegahan kebocoran, serta penyimpanan yang aman membantu memastikan air yang tersedia dapat digunakan lebih efektif untuk kebutuhan sehari-hari.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber