JAKARTA - Malas baca buku ternyata bukan sekadar persoalan kemauan. Kebiasaan mengonsumsi video pendek, meme, rangkuman, dan informasi serba cepat disebut dapat membuat otak terbiasa dengan distraksi.
Dalam sebuah video yang membahas neurosains, dijelaskan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang membutuhkan kerja berbagai bagian otak sekaligus, sehingga perlu dilatih secara konsisten.
Fenomena malas baca menjadi menarik karena banyak orang sebenarnya mampu memberikan perhatian panjang ketika berhadapan dengan sesuatu yang dianggap menarik. Misalnya, ketika muncul gosip artis, perselingkuhan, atau kasus viral, pengguna media sosial bisa membaca ribuan komentar dan menelusuri berbagai potongan informasi.
Masalahnya bukan semata-mata kemampuan otak untuk fokus. Persoalannya adalah jenis informasi yang paling sering dikonsumsi setiap hari.
Baca Juga: Punya Uang Lebih ? Upgrade Diri Ini Disebut Lebih Bernilai daripada Foya-Foya
Membaca Bukan Kemampuan Alami Manusia
Berbeda dengan berbicara, membaca bukan kemampuan yang otomatis dimiliki manusia sejak lahir. Bahasa lisan berkembang sebagai bagian dari kebutuhan komunikasi manusia, sedangkan sistem tulisan baru muncul dalam sejarah manusia sekitar 5.000 tahun lalu.
Karena itu, otak harus beradaptasi agar mampu mengubah simbol visual menjadi bahasa dan makna. Proses tersebut dikenal sebagai neuronal recycling, yakni pemanfaatan kembali jaringan otak yang sebelumnya mempunyai fungsi lain.
Sistem visual, bahasa, memori, hingga emosi bekerja secara bersama-sama ketika seseorang membaca. Kompleksitas inilah yang membuat membaca membutuhkan perhatian lebih lama dibandingkan sekadar melihat konten singkat.
Otak juga bersifat adaptif. Jaringan saraf akan diperkuat berdasarkan aktivitas yang sering dilakukan. Jika seseorang terbiasa membaca secara mendalam, jalur yang berkaitan dengan fokus dan pemrosesan informasi akan terus dilatih.
Sebaliknya, jika aktivitas sehari-hari didominasi scrolling dan konten singkat, otak akan semakin terbiasa menerima informasi dalam potongan-potongan kecil.
Mengapa Scrolling Lebih Mudah Membuat Betah?
Konten media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan variable reward, yakni pola pemberian imbalan yang tidak dapat diprediksi.
Setiap kali melakukan scrolling, pengguna tidak tahu apakah video berikutnya akan lucu, kontroversial, mengejutkan, atau menarik. Ketidakpastian tersebut dapat membuat seseorang terus menggulir layar.
Dalam video tersebut diberikan gambaran sederhana. Jika seseorang scrolling selama tiga jam dengan rata-rata durasi video dua menit, ada sekitar 90 video yang dapat ditonton. Namun, setelah aplikasi ditutup, belum tentu seluruh informasi tersebut tersimpan dalam ingatan.
Berbeda dengan deep reading. Saat membaca secara mendalam, seseorang mempertahankan perhatian lebih lama, menghubungkan gagasan, mengevaluasi argumen, serta mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
Membaca Juga Berkaitan dengan Empati
Membaca, terutama fiksi, juga dikaitkan dengan kemampuan memahami perspektif orang lain. Dalam psikologi kognitif terdapat konsep Theory of Mind, yaitu kemampuan memahami bahwa orang lain mempunyai pikiran, pengalaman, dan keyakinan yang berbeda.
Ketika membaca cerita, pembaca dapat melakukan simulasi terhadap pengalaman tokoh. Pembaca seolah masuk ke dalam perspektif karakter dan memahami alasan di balik tindakan mereka.
Karena itu, kebiasaan membaca tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi latihan memahami manusia dan situasi secara lebih utuh.
Tiga Cara Memulai Kebiasaan Membaca
Membangun kembali kebiasaan membaca tidak harus dilakukan dengan target ekstrem. Video tersebut menyarankan tiga langkah selama 30 hari.
Pertama, singkirkan distraksi dengan meletakkan ponsel jauh dari jangkauan ketika membaca. Kedua, mulai dari durasi kecil, misalnya 15-20 menit atau sekitar 10 halaman setiap hari. Ketiga, variasikan bacaan dengan menggabungkan fiksi, filsafat, sains, dan sejarah.
Intinya bukan memilih buku fisik atau digital. Buku fisik memiliki keunggulan berupa pengalaman spasial dari halaman, sedangkan ebook menawarkan kepraktisan. Yang lebih penting adalah membangun kembali kebiasaan membaca secara konsisten.
Dengan melatih fokus sedikit demi sedikit, kebiasaan membaca dapat menjadi latihan bagi otak untuk memproses informasi secara lebih mendalam di tengah derasnya arus konten digital.
Baca Juga: Punya Uang Lebih ? Upgrade Diri Ini Disebut Lebih Bernilai daripada Foya-Foya
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Noe