JAKARTA - Malas baca di tengah maraknya media sosial bukan hanya soal enggan membuka buku.
Kebiasaan mengonsumsi video pendek, meme, rangkuman, dan informasi instan dapat membentuk pola baru dalam cara otak memproses informasi. Akibatnya, seseorang bisa cepat mengetahui berbagai tren, tetapi kesulitan mempertahankan perhatian ketika harus memahami tulisan panjang dan argumen kompleks.
Fenomena tersebut dijelaskan dalam sebuah video yang mengulas hubungan antara kebiasaan membaca, neurosains, dan kehidupan digital. Salah satu gagasannya adalah otak manusia bersifat plastis. Artinya, jaringan saraf dapat beradaptasi mengikuti aktivitas yang dilakukan berulang kali.
Jika seseorang setiap hari terbiasa menerima informasi dalam format singkat, otak akan semakin terbiasa dengan pola tersebut.
Baca Juga: Malas Baca ? Ini Alasan Otak Lebih Suka Scrolling daripada Buku
Dari Membaca Menjadi Sekadar Melihat
Perubahan pola konsumsi informasi menjadi salah satu persoalan utama di era media sosial. Masyarakat tidak sepenuhnya berhenti mendapatkan informasi. Justru informasi datang semakin deras.
Persoalannya adalah bentuk informasi yang diterima.
Video berdurasi singkat dan unggahan media sosial menyajikan informasi dalam potongan kecil. Pengguna dapat mengetahui inti sebuah isu dalam hitungan detik tanpa harus mengikuti keseluruhan konteks.
Kebiasaan tersebut membuat seseorang lebih mudah berpindah dari satu informasi ke informasi lain. Dalam video tersebut, kondisi ini digambarkan sebagai perubahan dari masyarakat yang membaca menjadi masyarakat yang lebih banyak melihat.
Media visual sendiri bukan sesuatu yang buruk. Masalah muncul ketika hampir seluruh konsumsi informasi dilakukan secara cepat dan terfragmentasi.
Mengapa Fokus Jadi Mudah Hilang?
Salah satu mekanisme yang dibahas adalah variable reward. Ketika seseorang scrolling, setiap konten berikutnya menawarkan kemungkinan mendapatkan sesuatu yang menarik.
Kadang muncul video lucu, terkadang kontroversi, informasi mengejutkan, atau sesuatu yang membuat penasaran. Pola yang tidak pasti tersebut membuat pengguna terdorong untuk terus menggulir.
Akibatnya, aktivitas scrolling dapat berlangsung selama berjam-jam. Namun banyaknya informasi yang dilihat tidak otomatis berarti banyak pula informasi yang benar-benar dipahami.
Hal tersebut berbeda dengan membaca mendalam. Saat membaca buku, otak harus mempertahankan perhatian, menghubungkan berbagai gagasan, memahami konteks, serta mengevaluasi informasi secara bertahap.
Proses yang lebih lambat tersebut justru menjadi latihan untuk berpikir secara runtut.
Dampaknya Bisa Merembet ke Cara Memahami Orang Lain
Kebiasaan mengonsumsi informasi dalam potongan pendek juga disebut berkaitan dengan kemampuan memahami konteks. Seseorang dapat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan judul atau cuplikan video tanpa mengetahui keseluruhan cerita.
Dalam kondisi tertentu, hal itu dapat terlihat di kolom komentar ketika pengguna media sosial saling menyalahkan berdasarkan informasi yang belum lengkap.
Video tersebut menghubungkan persoalan ini dengan Theory of Mind, yakni kemampuan memahami bahwa orang lain mempunyai pengalaman, pikiran, dan keyakinan berbeda.
Membaca cerita fiksi disebut dapat membantu melatih kemampuan tersebut karena pembaca diajak memahami karakter dari sudut pandang mereka. Pembaca tidak hanya mengetahui apa yang dilakukan tokoh, tetapi juga mengikuti alasan, konflik, dan emosinya.
Bukan Berarti Harus Meninggalkan Gadget
Solusinya bukan menghapus seluruh media sosial atau memusuhi teknologi. Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan pola konsumsi informasi.
Kebiasaan membaca dapat dimulai dengan langkah sederhana. Pertama, jauhkan ponsel ketika membaca agar notifikasi tidak mengganggu. Kedua, jangan memasang target berlebihan. Membaca 10 halaman atau 15-20 menit setiap hari lebih realistis untuk membangun rutinitas.
Ketiga, pilih bacaan yang beragam. Fiksi dapat menjadi pilihan untuk memahami karakter dan perspektif, sedangkan buku sejarah, sains, maupun filsafat dapat memperluas wawasan dan melatih cara berpikir.
Konsistensi menjadi bagian penting karena kebiasaan baru membutuhkan waktu untuk terbentuk.
Membaca sebagai Latihan Berpikir
Membaca pada akhirnya bukan sekadar aktivitas untuk menyelesaikan jumlah halaman tertentu. Setiap buku dapat memberikan gagasan yang kemudian terhubung dengan pengetahuan lain.
Semakin banyak konsep yang dipahami dan dihubungkan, semakin luas pula kerangka seseorang dalam melihat sebuah persoalan.
Di tengah budaya informasi serba cepat, kemampuan bertahan dalam membaca secara mendalam menjadi keterampilan yang perlu dilatih. Sebab, mengetahui banyak potongan informasi belum tentu sama dengan memahami sebuah persoalan secara utuh.
Karena itu, persoalan malas baca bukan hanya tentang berapa banyak buku yang selesai dibaca. Lebih jauh, kebiasaan membaca berkaitan dengan bagaimana seseorang melatih fokus, memahami konteks, mengolah informasi, dan membangun pemikiran yang lebih runtut.
Baca Juga: Malas Baca ? Ini Alasan Otak Lebih Suka Scrolling daripada Buku
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Noe