Malas Membaca ? Ini Alasan Otak Lebih Suka Scrolling daripada Buku

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 20:14 WIB
Malas baca ternyata berkaitan dengan kebiasaan scrolling yang mengubah cara otak memproses informasi. (Ilustrasi Gemini AI)
Malas baca ternyata berkaitan dengan kebiasaan scrolling yang mengubah cara otak memproses informasi. (Ilustrasi Gemini AI)

JAKARTA - Malas baca buku di tengah maraknya video pendek dan media sosial ternyata bukan sekadar persoalan kebiasaan.

Dalam perspektif neurosains, otak manusia terus beradaptasi dengan aktivitas yang paling sering dilakukan. Ketika lebih terbiasa scrolling, menonton video singkat, dan menerima informasi serba cepat, kemampuan mempertahankan fokus serta memahami informasi secara mendalam dapat ikut terpengaruh.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam sebuah video YouTube yang mengulas hubungan antara kebiasaan membaca, cara kerja otak, hingga kemampuan berpikir kritis dan memahami sudut pandang orang lain.

Baca Juga: Malas Baca Makin Parah di Era Scroll ? Ini yang Terjadi pada Otak

Membaca Bukan Kemampuan Alami Manusia

Berbeda dengan berbicara yang berkembang sebagai bagian dari kebutuhan biologis manusia, membaca merupakan kemampuan yang dipelajari. Sistem tulisan baru berkembang sekitar 5.000 tahun lalu sehingga otak manusia tidak memiliki satu jaringan khusus yang sejak lahir dirancang untuk membaca.

Otak kemudian menggunakan konsep yang disebut neuronal recycling. Sejumlah jaringan yang sebelumnya memiliki fungsi lain dimanfaatkan untuk mengenali simbol, mengolah suara, memahami bahasa, hingga menghubungkan informasi dengan emosi.

Karena melibatkan berbagai bagian otak sekaligus, membaca menjadi aktivitas kognitif yang cukup kompleks. Semakin sering dilakukan, jaringan saraf yang berkaitan dengan aktivitas tersebut dapat semakin terlatih.

Scrolling Membiasakan Otak Memproses Informasi Singkat

Persoalan muncul ketika konsumsi informasi sehari-hari lebih banyak berupa video pendek, meme, rangkuman, atau potongan konten. Media visual sendiri tidak dianggap buruk. Namun, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dapat membuat seseorang terbiasa mencari inti informasi tanpa memproses keseluruhan konteks.

Dalam video tersebut, kondisi itu dibandingkan dengan deep reading. Saat membaca secara mendalam, seseorang perlu mempertahankan perhatian, menghubungkan gagasan, mengevaluasi argumen, serta mengaitkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Sementara itu, pola scrolling membuat pengguna terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain. Mekanisme variable reward, yakni munculnya hadiah atau konten menarik yang tidak terduga, disebut menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas scrolling sulit dihentikan.

Akibatnya, seseorang bisa mengetahui banyak tren dan informasi viral, tetapi belum tentu mampu menyusun argumen panjang secara runtut.

Membaca Juga Berkaitan dengan Empati

Membaca, khususnya fiksi, tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan. Aktivitas tersebut juga dapat membantu seseorang memahami perspektif karakter dan pengalaman yang berbeda.

Konsep Theory of Mind menjelaskan kemampuan manusia untuk menyadari bahwa orang lain memiliki pikiran, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda. Ketika membaca cerita, pembaca dapat melakukan simulasi terhadap pengalaman karakter, termasuk emosi dan tindakan yang mereka alami.

Video tersebut juga menyinggung penelitian pemindaian otak yang menunjukkan adanya respons pada area otak berkaitan dengan gerakan ketika seseorang membaca karakter dalam cerita sedang melakukan aktivitas fisik.

Cara Melatih Kembali Kebiasaan Membaca

Perubahan kebiasaan membaca tidak disarankan dilakukan secara ekstrem. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah membangun rutinitas secara bertahap selama 30 hari.

Pertama, singkirkan distraksi dengan meletakkan ponsel jauh dari jangkauan ketika membaca. Kedua, mulai dengan target kecil, seperti membaca selama 15–20 menit atau sekitar 10 halaman setiap hari. Konsistensi dinilai lebih penting daripada memaksakan durasi panjang.

Ketiga, variasikan bacaan. Buku fiksi dapat menjadi pilihan untuk mengeksplorasi cerita dan perspektif, sementara filsafat, sejarah, maupun sains dapat membantu memperluas bahan berpikir.

Pada akhirnya, persoalan utama bukan semata-mata memilih buku fisik atau elektronik. Buku fisik memiliki unsur navigasi spasial seperti posisi halaman dan tekstur yang dapat membantu pembentukan ingatan, sedangkan buku digital menawarkan kepraktisan.

Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seseorang menggunakan otaknya. Kebiasaan yang terus diulang dapat membentuk pola pemrosesan informasi. Karena itu, mengurangi distraksi dan kembali membangun kebiasaan membaca secara konsisten dapat menjadi salah satu cara melatih fokus dan berpikir lebih mendalam.

Baca Juga: Malas Baca Makin Parah di Era Scroll ? Ini yang Terjadi pada Otak

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : Noe
malas baca neurosains Scrolling buku literasi