Cara Efektif Membaca Buku, 8 Tips agar Isi Bacaan Tak Cuma Lewat

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 20:19 WIB
Cara efektif membaca buku agar informasi lebih melekat, mulai dari memilih waktu hingga menulis ulang dan berbagi ilmu. (Ilustrasi Gemini AI)
Cara efektif membaca buku agar informasi lebih melekat, mulai dari memilih waktu hingga menulis ulang dan berbagi ilmu. (Ilustrasi Gemini AI)

JAKARTA - Cara efektif membaca buku bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman, tetapi bagaimana membuat informasi yang dibaca benar-benar dipahami dan memberi perubahan pada cara berpikir.

Ada delapan strategi yang dapat diterapkan, mulai dari memilih waktu membaca hingga membagikan kembali pengetahuan yang diperoleh.

Di tengah derasnya informasi media sosial, membaca buku menjadi aktivitas yang menghadapi tantangan tersendiri. Banyak orang mampu menghabiskan sebuah buku, tetapi kesulitan menjelaskan kembali isinya beberapa hari kemudian.

Padahal, membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi. Aktivitas tersebut melatih otak untuk mengolah kata, membangun koneksi antaride, sekaligus membentuk pemahaman secara mandiri.

Baca Juga: Resep Ayam Pop Lengkap dengan Sambal dan Kuah, Empuk dan Gurih

Mengapa Membaca Buku Tetap Penting?

Podcast, video, hingga film dokumenter memang menawarkan informasi dengan cara yang lebih mudah dikonsumsi. Namun, membaca memberikan ruang lebih besar bagi pembaca untuk mengolah informasi secara aktif.

Ketika membaca kalimat tertentu, otak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membangun gambaran mental. Dalam video, gambaran tersebut sudah tersedia secara visual. Sementara dalam buku, pembaca harus membentuknya sendiri.

Salah satu penelitian yang dikutip dalam video tersebut juga menyebut membaca narasi dapat meningkatkan konektivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan sensasi fisik dan gerakan. Proses tersebut dikenal sebagai grounded cognition, yakni ketika otak melakukan simulasi pengalaman berdasarkan informasi yang dibaca.

8 Cara Efektif Membaca Buku

1. Jadwalkan Waktu Terbaik

Pagi dan malam sebelum tidur disebut sebagai waktu yang baik untuk membaca. Pada pagi hari, pikiran cenderung masih lebih segar. Namun, kebiasaan langsung membuka media sosial setelah bangun tidur dapat membuat otak dibanjiri informasi sebelum memulai aktivitas.

Membaca sebelum tidur juga dapat menjadi alternatif dari penggunaan ponsel. Aktivitas tersebut membuat tubuh lebih rileks dan membantu membangun rutinitas tidur.

2. Pilih Buku Sesuai Tujuan

Jangan memilih buku hanya karena sedang populer atau berstatus bestseller. Pertimbangkan kebutuhan pribadi.

Buku pengembangan diri, misalnya, memiliki tujuan berbeda dengan novel atau komik. Buku fiksi dapat memberikan hiburan dan membantu mengembangkan empati, sedangkan buku nonfiksi tertentu dapat dipilih untuk menjawab persoalan yang sedang dihadapi.

3. Tidak Harus Membaca Secara Linear

Buku nonfiksi tidak selalu harus dibaca dari halaman pertama hingga terakhir. Pembaca dapat melihat daftar isi dan langsung menuju bagian yang paling relevan.

Konsep inspectional reading dalam buku How to Read a Book juga menekankan pentingnya memahami gagasan utama tanpa harus terpaku pada setiap kalimat.

Bahkan, pembaca tidak perlu merasa bersalah ketika meninggalkan buku yang dianggap tidak relevan atau sudah memberikan informasi yang dibutuhkan.

4. Baca Kembali Buku yang Berkesan

Buku yang memberikan pengaruh besar tidak harus dibaca sekali. Perspektif seseorang dapat berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman.

Karena itu, buku yang sama dapat menghasilkan pemahaman berbeda ketika dibaca kembali beberapa tahun kemudian.

5. Jangan Takut Mencoret Buku

Buku yang dimiliki sendiri dapat diberi tanda, coretan, atau catatan. Aktivitas tersebut membantu pembaca menandai bagian yang dianggap penting.

Namun, aturan berbeda berlaku untuk buku pinjaman. Buku milik perpustakaan atau orang lain tetap harus dirawat.

6. Tulis Ulang dengan Bahasa Sendiri

Sekadar memberi highlight belum tentu membuat informasi melekat. Salah satu cara yang lebih aktif adalah menulis ulang gagasan menggunakan bahasa sendiri.

Pembaca juga dapat menghubungkan ide dari buku dengan kehidupan pribadi. Dengan demikian, informasi tidak berhenti sebagai teori, tetapi memiliki konteks yang lebih dekat.

7. Membaca Tidak Harus Cepat

Kecepatan bukan ukuran utama keberhasilan membaca. Buku yang selesai dalam waktu singkat belum tentu memberikan pemahaman lebih baik.

Membaca perlahan memungkinkan seseorang berhenti pada gagasan yang menarik, merenungkannya, kemudian menghubungkannya dengan pengalaman.

8. Sampaikan Kembali Apa yang Dipelajari

Pengetahuan yang hanya disimpan di kepala berisiko cepat terlupakan. Setelah membaca, cobalah menjelaskan kembali isi buku kepada teman, menulis unggahan, atau mendiskusikannya.

Proses menjelaskan memaksa otak menyusun kembali informasi menjadi struktur yang lebih teratur. Dari sinilah pemahaman dapat semakin kuat.

Membaca Bukan Perlombaan

Pada akhirnya, membaca buku bukan kompetisi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin judul. Tantangan membaca 36 buku dalam setahun, misalnya, dapat melatih disiplin, tetapi juga berisiko membuat seseorang mengejar kuantitas dibandingkan kualitas.

Tidak semua isi buku akan diingat selamanya. Melupakan detail tertentu merupakan hal yang wajar. Esensi membaca justru terletak pada bagaimana proses tersebut secara perlahan mengubah cara seseorang berpikir, memahami informasi, dan melihat persoalan.

Karena itu, membaca 10 buku berkualitas secara berulang dan mendalam dapat lebih bermakna daripada menyelesaikan ratusan buku tanpa benar-benar memahami isinya.

Baca Juga: Resep Ayam Pop Lengkap dengan Sambal dan Kuah, Empuk dan Gurih

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : Edutektif
membaca buku cara efektif membaca buku tips membaca cara membaca efektif literasi