JAKARTA - Cara efektif membaca buku bukan sekadar mempercepat jumlah halaman yang diselesaikan, tetapi memastikan gagasan yang dibaca benar-benar dipahami dan bisa diterapkan.
Sejumlah kebiasaan seperti menentukan waktu membaca, memilih buku sesuai kebutuhan, mencatat dengan bahasa sendiri, membaca ulang, hingga menjelaskan isi buku kepada orang lain dapat membantu pembaca mendapatkan manfaat yang lebih mendalam.
Baca Juga: Sudah Baca Buku tapi Lupa Isinya ? Ini Cara Efektif Membaca Buku
Membaca Bukan Sekadar Mengejar Jumlah Buku
Membaca sering dianggap sebagai aktivitas sederhana. Namun, banyak orang mengalami persoalan yang sama: sudah menyelesaikan sebuah buku, tetapi kesulitan menjelaskan kembali isinya beberapa hari kemudian.
Dalam video yang menjadi sumber pembahasan, pengalaman membaca 36 buku dalam setahun justru menjadi pelajaran bahwa kuantitas tidak selalu berbanding lurus dengan manfaat. Target membaca satu buku setiap 10 hari dapat mendorong seseorang memilih buku yang lebih tipis demi mengejar target, bukan berdasarkan kebutuhan.
Secara ilmiah, membaca memang melibatkan proses kognitif yang kompleks. Maryanne Wolf menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki sistem otak khusus yang sejak awal dirancang untuk membaca. Kemampuan membaca terbentuk ketika otak membangun sirkuit baru dari berbagai jaringan yang sebelumnya digunakan untuk fungsi lain.
Penelitian dari Emory University juga menemukan perubahan konektivitas otak setelah peserta membaca novel selama beberapa hari. Perubahan jangka lebih panjang terlihat pada area somatosensorik dan oleh peneliti dikaitkan dengan kemungkinan mekanisme “embodied semantics”. Namun, penelitian tersebut merupakan studi dengan sampel terbatas sehingga temuannya perlu dipahami secara proporsional.
8 Cara Efektif Membaca Buku
1. Tentukan waktu terbaik
Pagi dan malam dapat menjadi pilihan waktu membaca. Pagi hari menawarkan kondisi pikiran yang relatif lebih segar, sedangkan membaca sebelum tidur dapat menjadi rutinitas yang membantu menjauhkan seseorang dari penggunaan layar.
Namun, kuncinya bukan semata-mata memilih jam tertentu. Konsistensi dan minimnya gangguan justru menjadi bagian penting dari kebiasaan membaca.
2. Pilih buku berdasarkan tujuan
Jangan memilih buku hanya karena sedang populer atau menjadi bestseller. Tentukan terlebih dahulu kebutuhan yang ingin dijawab.
Buku pengembangan diri, psikologi, sejarah, agama, maupun novel memiliki fungsi berbeda. Dengan mengetahui tujuan, pembaca akan lebih mudah menghubungkan informasi dengan persoalan yang sedang dihadapi.
3. Tidak harus membaca secara linear
Untuk buku nonfiksi, pembaca tidak selalu wajib mengikuti bab demi bab. Memeriksa daftar isi, memilih bagian yang paling relevan, lalu membaca bagian tersebut dapat menjadi strategi ketika waktu terbatas.
Konsep inspectional reading yang dibahas dalam buku How to Read a Book juga menekankan pentingnya memperoleh gambaran dan gagasan utama dari sebuah buku, bukan sekadar membaca setiap kalimat.
4. Baca ulang buku yang penting
Buku yang sama bisa menghasilkan pemahaman berbeda ketika dibaca pada usia atau kondisi kehidupan yang berbeda. Pengalaman baru membuat pembaca memiliki sudut pandang baru terhadap gagasan lama.
5. Jangan takut mencoret buku
Untuk buku milik sendiri, pembaca dapat memberi tanda, membuat catatan, atau melipat bagian tertentu yang dianggap penting. Aktivitas tersebut membuat buku menjadi lebih personal dan memudahkan proses menemukan kembali gagasan utama.
6. Tulis ulang dengan bahasa sendiri
Highlight saja tidak cukup. Setelah menemukan gagasan penting, coba tulis kembali menggunakan bahasa sendiri dan kaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Cara ini membuat pembaca tidak sekadar mengenali kalimat, tetapi berusaha memahami dan mengolah kembali maknanya.
7. Baca secara perlahan
Membaca bukan perlombaan. Kecepatan menyelesaikan buku tidak otomatis menunjukkan kedalaman pemahaman.
Membaca perlahan sambil berhenti untuk merenungkan ide tertentu justru dapat membuat proses membaca lebih bermakna. Target utamanya bukan berapa banyak buku yang selesai, melainkan apa yang berubah dari cara berpikir setelah membacanya.
8. Sampaikan kembali apa yang dipelajari
Setelah membaca, coba ceritakan kembali gagasan yang diperoleh kepada teman, tuliskan di media sosial, atau buat rangkuman pribadi.
Video tersebut mengaitkan cara ini dengan konsep learning pyramid yang menyebut membaca hanya menghasilkan retensi 10 persen dan mengajarkan orang lain mencapai 90 persen. Klaim angka tersebut perlu hati-hati karena berbagai kajian menemukan tidak ada bukti kredibel yang mendukung persentase tetap tersebut.
Meski demikian, menjelaskan kembali materi dengan kata-kata sendiri tetap dapat menjadi strategi belajar aktif. Intinya, pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi diproses kembali melalui praktik, diskusi, dan penerapan.
Pada akhirnya, membaca bukan tentang menghafal seluruh isi buku. Sebagian informasi memang akan terlupakan. Yang lebih penting adalah bagaimana proses membaca membantu memperluas sudut pandang, menguji pemahaman, dan memperbaiki cara seseorang melihat persoalan.
Karena itu, membaca 10 buku secara mendalam dan membacanya kembali ketika dibutuhkan bisa lebih bermakna bagi seseorang dibanding sekadar mengejar ratusan judul tanpa memahami isinya.
Baca Juga: Sudah Baca Buku tapi Lupa Isinya ? Ini Cara Efektif Membaca Buku
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Edutektif