JAKARTA - Cara belajar efektif tidak selalu identik dengan duduk berjam-jam di depan buku.
Kebiasaan membaca ulang, menghafal semalam sebelum ujian, hingga terlalu bergantung pada gaya belajar tertentu justru dibahas sebagai praktik yang perlu ditinjau ulang dalam video edukasi EDK. Sebagai gantinya, terdapat enam strategi yang berfokus pada kemampuan mengingat, memahami, mengulang, dan mengevaluasi proses belajar.
Bagi pelajar dan mahasiswa, masalah belajar bukan selalu karena kurangnya waktu. Persoalannya bisa terletak pada cara menggunakan waktu tersebut. Seseorang dapat menghabiskan berjam-jam membaca materi, tetapi tetap mengalami kebingungan ketika diminta menjelaskan kembali tanpa melihat buku.
Baca Juga: Cara Belajar Efektif Bukan SKS, Ini 6 Strategi agar Materi Nempel di Otak
Membaca Berulang Belum Tentu Membuat Paham
Salah satu jebakan dalam belajar adalah munculnya perasaan sudah memahami materi hanya karena sering melihatnya. Teks yang berulang kali dibaca terasa familiar sehingga otak menganggap informasi tersebut sudah dikuasai.
Padahal, mengenali informasi tidak sama dengan mampu mengingatnya. Karena itu, video EDK menyoroti retrieval practice, yaitu upaya mengambil kembali informasi dari memori tanpa membuka sumber.
Teknik tersebut dapat diterapkan dengan menutup buku setelah belajar, kemudian mencoba menjelaskan kembali definisi, konsep, atau rumus yang baru dipelajari. Latihan soal juga dapat dimanfaatkan dengan cara serupa karena memaksa otak menemukan kembali informasi yang diperlukan.
SKS Bisa Membuat Belajar Tidak Maksimal
Kebiasaan lain yang sering dilakukan pelajar adalah sistem kebut semalam atau SKS. Materi yang seharusnya dipelajari secara bertahap justru ditumpuk dalam beberapa jam sebelum ujian.
Video tersebut menyebut kebiasaan ini dapat membuat proses belajar terasa berat karena terlalu banyak informasi harus dipahami dalam waktu terbatas. Selain itu, materi yang dipelajari secara mendadak berisiko hanya bertahan sementara.
Alternatif yang ditawarkan adalah space repetition, yaitu pengulangan materi dengan jeda waktu. Belajar satu jam selama beberapa hari memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali berusaha mengingat informasi yang mulai terlupakan.
Dengan demikian, rasa “lupa sedikit” setelah jeda bukan selalu pertanda proses belajar gagal. Ketika materi dipanggil kembali, dibutuhkan usaha tambahan untuk mengingatnya.
Jangan Takut Mengalami Kesulitan
Cara belajar efektif juga tidak berarti membuat semua materi terasa gampang. Video EDK membahas prinsip desirable difficulties, yaitu kondisi ketika tantangan tertentu justru dapat membantu proses pembelajaran.
Kesulitan mengerjakan soal, salah menjawab, atau kesulitan menjelaskan suatu konsep dapat menjadi sinyal bahwa seseorang perlu memperkuat pemahamannya. Daripada langsung menghindari bagian yang sulit, kesalahan dapat digunakan sebagai bahan latihan.
Video tersebut juga membahas mitos gaya belajar. Label seperti visual, auditori, membaca-menulis, dan kinestetik dinilai tidak seharusnya menjadi batasan seseorang ketika belajar.
Metode yang digunakan lebih tepat disesuaikan dengan karakter materi. Peta dapat membantu mempelajari geografi, sedangkan keterampilan seperti bermain basket membutuhkan praktik gerakan. Penggabungan berbagai indra atau multisensori learning juga menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan.
Nilai Jelek Bukan Akhir, Jadikan Data
Hal lain yang kerap diabaikan adalah refleksi. Setelah mengerjakan tryout, sebagian pelajar mungkin hanya melihat skor akhir. Padahal, jawaban yang salah dapat memberikan informasi tentang bagian materi yang belum dikuasai.
Kesalahan dapat dianalisis satu per satu untuk mengetahui apakah penyebabnya adalah lupa konsep, salah memahami pertanyaan, kurang teliti, atau belum menguasai materi. Dari sana, strategi belajar berikutnya dapat dibuat lebih terarah.
Proses belajar pun tidak berhenti ketika buku ditutup atau ujian selesai. Evaluasi terhadap metode yang digunakan menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas belajar berikutnya.
Pada akhirnya, enam strategi tersebut tidak harus diterapkan sekaligus. Pelajar dapat memulainya dari satu atau dua metode yang paling relevan, kemudian melihat hasilnya melalui latihan dan refleksi. Tujuannya bukan sekadar belajar lebih lama, melainkan menggunakan waktu belajar secara lebih terarah dan bermakna.
Baca Juga: Cara Belajar Efektif Bukan SKS, Ini 6 Strategi agar Materi Nempel di Otak
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Edutektif