GAYA HIDUP - Dalam dunia yang serbacepat dan penuh tekanan, overthinking jadi kebiasaan yang nyaris tak terhindarkan.
Banyak orang overthinking merasa pikirannya tak pernah benar-benar diam, selalu khawatir soal masa depan, menyesali masa lalu, atau cemas tentang hal-hal kecil yang belum tentu terjadi.
Jika kamu merasa lelah dan overthinking, mungkin sudah waktunya mengenal stoicism, sebuah filosofi kuno yang bisa jadi solusi modern untuk hidup lebih tenang.
Stoicism atau stoikisme adalah aliran filsafat yang lahir di Yunani sekitar 300 SM. Meski sudah berusia ribuan tahun, ajaran ini kembali populer karena sederhana dan relevan dengan masalah psikologis manusia masa kini.
Inti dari stoicism adalah ajakan untuk menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan dan fokus hanya pada hal-hal yang bisa kita ubah, seperti sikap, pikiran, dan tindakan kita sendiri.
Filsuf-filsuf besar seperti Marcus Aurelius, Epictetus, dan Seneca menulis banyak tentang bagaimana menghadapi kesulitan hidup tanpa kehilangan kendali diri.
Mereka percaya bahwa ketenangan batin bukanlah hasil dari keadaan luar, tapi dari cara kita memilih untuk bereaksi terhadapnya. Dengan kata lain, bukan dunia yang harus diubah, tapi cara kita memandang dunia itu sendiri.
Stoicism berdiri di atas empat prinsip utama yang disebut kebajikan stoik. Keempat prinsip ini meliputi kebijaksanaan (wisdom), keberanian (courage), keadilan (justice), dan pengendalian diri (temperance).
Berikut contoh aplikasi nyata dari keempat prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari:
1. Kendalikan Apa yang Bisa Kamu Dikendalikan
Stoicism mengajarkan bahwa emosi negatif muncul karena kita berusaha mengontrol hal-hal di luar kuasa kita, seperti cuaca, pendapat orang lain, atau masa lalu. Fokuslah pada hal yang bisa kamu kendalikan, misalnya pikiran, sikap, dan tindakanmu sendiri.
2. Latih Diri Menghadapi Kesulitan
Stoic tidak takut pada kesulitan. Justru mereka melatih mental untuk menghadapi rasa sakit, kegagalan, atau kehilangan. Ini disebut negative visualization yakni membayangkan kemungkinan terburuk agar kita lebih siap secara mental.
3. Emosi Boleh Ada, tapi Jangan Dikuasai Emosi
Stoicism bukan berarti tidak punya emosi, tapi tidak diperbudak oleh emosi. Saat marah, sedih, atau kecewa, stoic mengajak kita untuk berpikir jernih dan tidak bertindak impulsif.
4. Hiduplah Sesuai Nilai, Bukan Dorongan
Stoic mendorong hidup yang bermakna, yaitu hidup sesuai nilai dan kebajikan, bukan berdasarkan mood, godaan, atau tekanan sosial.
Di era overthinking, stoicism bisa menjadi pegangan yang kokoh. Filosofi ini mengajarkan bahwa kita tidak harus menunggu dunia jadi sempurna untuk bisa hidup tenang.
Cukup dengan mengubah cara berpikir, kita bisa merasa lebih damai, lebih kuat, dan lebih bebas dari kecemasan yang tidak perlu.(*)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz