KOTA BLITAR – Jaringan pipa milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patria sudah mulai keropos dan berkarat. Hal ini diduga karena pipa-pipa tersebut sudah berumur puluhan tahun. Akibatnya, distribusi air kepada masyarakat sering terganggu karena pipa mengalami kebocoran.
Direktur PDAM Tirta Patria, Basuki Agus Riono mengatakan, pengelolaan air bersih sudah dilakukan secara maksimal. Namun, sarana untuk menyalurkan air kepada pelanggan kurang baik. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kerak yang menempel pada pipa saluran air. Akibatnya, air yang akan disalurkan ke pelanggan terhambat. “Karena usianya sudah tua, jadi kotoran semakin lama semakin menumpuk,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (27/2).
Basuki mengaku telah berupaya membersihkan kerak yang terdapat pada jaringan pipa milik perusahaan daerah ini. Namun, sampai saat ini pekerjaan terebut belum sepenuhnya tuntas. Bahkan, tak jarang kerak ikut mengalir sampai rumah pelanggan. “Kami sudah berupaya membersihkan kerak sejak dua minggu lalu,” akunya.
Pihaknya tidak menampik, banyak jaringan pipa saluran air yang kini dalam kondisi buruk alias keropos. Diduga, karena pipa yang berbahan besi itu sudah uzur. “Pemasangan pipa ini dilakukan sejak 1992, jadi wajar kalau kondisi pipa seperti itu,” paparnya.
Basuki menjelaskan, penggunaan pipa besi memang kuat secara mekanik. Namun ternyata, pemakaian pipa tersebut tidak tepat untuk kurun waktu lama. Menurutnya, pemakaian pipa dari PVC lebih baik daripada pipa besi. Sebab, pipa PVC tidak menimbulkan reaksi apa pun. Bahkan, pipa tersebut tahan terhadap karat. “Sehingga mengurangi potensi penurunan kualitas air yang telah disterilkan,” jelas pria berseragam biru muda ini.
Dia mengungkapkan, biaya yang digunakan untuk mengganti pipa saluran air cukup besar. Maklum saja, panjang jaringan perpipaan milik PDAM ini mencapai ratusan kilometer. Selain itu, penggantian pipa perlu merekonstruksi infrastruktur jalan. “Penggantian pipa tidak hanya memperhatikan harga dan jasa pasang, tetapi juga infrastruktur yang lain,” terangnya.
Pihaknya mengaku hampir setiap hari mendapat laporan kebocoran pipa. Sayangnya, hingga kini masih belum ada rencana untuk penggantian pipa. Untuk sementara yang bisa dilakukan hanya memperbaiki pipa yang bocor. “Saya kira penggantian pipa ini perlu anggaran dari APBN, kalau APBD saja tidak cukup,” tandasnya. (mg1/c1/hai) Editor : Endah Sriwahyuni