Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Marak Kasus Bullying di Luar Daerah, Dinas Perlindungan Anak Kota Blitar Ungkap Faktor Penyebabnya

Mila Inka Dewi • Selasa, 3 Oktober 2023 | 17:00 WIB
USIA EMAS: Pola asuh yang baik dari ortu akan membentuk karakter baik pada anak-anak. Mendampingi anak dengan membaca dan bercerita merupakan hal positif.
USIA EMAS: Pola asuh yang baik dari ortu akan membentuk karakter baik pada anak-anak. Mendampingi anak dengan membaca dan bercerita merupakan hal positif.

BLITAR - Maraknya aksi bullying di luar daerah juga menjadi perhatian dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Blitar. Aksi bullying dinilai terdapat unsur mencari perhatian dari pelakunya.

Ya, karakter anak dibentuk dari pola asuh orang tua (ortu) di lingkup keluarga. Seringkali, ketika ada kasus bullying atau perundungan, ortu cenderung menyalahkan pihak sekolah. Dengan alasan tidak bisa mendidik anak dengan baik.

Padahal, kualitas keluarga bisa menjadi faktor penyebab seorang anak melakukan perundungan.

"Jadi, jangan asal menyalahkan sekolah. Dilihat dulu bagaimana kualitas keluarganya. Utamanya delapan fungsi keluarga," ujar Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak DP3A2KB Kota Blitar, Dian Rahmawati, Selass (3/10/2023).

Delapan fungsi keluarga, lanjut dia, meliputi fungsi agama, cinta kasih, reproduksi dan ekonomi. Kemudian, fungsi sosial budaya, perlindungan, pendidikan, dan lingkungan.

Jika penguatan karakter anak sudah bagus dan mendapat kasih sayang ortu, risiko anak untuk melakukan hal-hal negatif di luar rumah akan berkurang

Berdasarkan pantauan DP3A2KB, di Kota Blitar memang terdapat kasus perundungan. Namun, kasus tersebut belum sampai menjurus ke ranah hukum.

Artinya, permasalahan bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Menurut Dian, perundungan bisa datang dari hal-hal sepele seperti perkataan. Biasanya, memanggil nama teman dengan nama ortu, atau mengolok-olok bentuk fisik tubuh. Nah, ketika korban merasa tersinggung dan tidak terima akhirnya terjadi kekerasan.

"Ya, dari verbal ke tindakan fisik," imbuh perempuan berjilbab ini.

Nah, jika terjadi kasus kekerasan, hingga mengakibatkan korban meninggal dunia, DP3A2KB segera melakukan pendampingan. Baik itu kepada korban ataupun pelaku. Seperti pendampingan dari psikolog untuk menguatkan mental anak.

Sementara itu, faktor lainnya, yakni menurunnya rasa empati dan respect anak terhadap lingkungan atau pertemanan terutama kini. Anak cenderung bersifat acuh, hal itu juga diduga lantaran perkembangan media sosial (medsos) yang tidak terkontrol.

Maka dari itu, harus ada pendampingan dari sejumlah pihak terkait. Seperti dari sekolah yang harus lebih gencar mengawasi anak didiknya.

Yang terpenting, dimulai dari pembentukan karakter anak di lingkungan keluarga.

"Sebenarnya kami sering bekerja sama dengan pihak sekolah untuk sosialisasi kepada siswa. Tapi, kembali lagi pada karakter anak yang berbeda-beda," jelasnya.

Di samping itu, peran media juga penting. Utamanya dalam memberikan konten yang ramah anak.

Sebab, dalam media online bukan hanya dinikmati oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Dengan begitu, akan tercipta media ramah anak. Yang penting, anak bijak dalam menggunakan gadget. Karena itu, orang tua perlu mendampingi dan mengawasi anak.

”Pilih konten atau tontonan yang sesuai dengan usia. Jangan hanya ikut-ikutan tren supaya viral. Apalagi orang tua punya peran yang sangat penting dalam perkembangan anak di masa yang akan datang," pungkasnya. (ink/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#bullying anak sekolah #dampak bullying #Penyebab bullying #kasus bullying #bullying anak #Faktor bullying #Kota Blitar