TULUNGAGUNG-Beberapa waktu terakhir, langit sore di sejumlah wilayah Tulungagung tampak berbeda.
Warna-warni layangan tampak mengudara hampir setiap hari di Tulungagung, menjadi pemandangan yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Tradisi menerbangkan layang-layang di Tulungagung kini kembali digemari, tak hanya oleh anak-anak, tetapi juga kalangan remaja hingga orang dewasa.
Fenomena ini mulai mencuri perhatian ketika banyak warga terlihat membawa gulungan benang dan layangan saat menjelang senja.
Di berbagai ruang terbuka, mulai dari tanah lapang, lahan kosong, hingga pinggir area pemukiman, kegiatan menerbangkan layangan menjadi rutinitas baru yang cukup ramai.
Bermain layangan menjadi cara melepas penat sekaligus mengenang masa kecil. Ada yang sekadar bermain untuk hiburan, namun tak sedikit pula yang terlibat dalam adu layangan, sebuah tradisi yang telah lama dikenal di berbagai daerah.
Layangan yang diterbangkan pun beragam bentuk dan warna. Ada yang dibuat sederhana dari kertas minyak dan bambu, namun tak sedikit pula yang dirancang lebih unik dengan desain hewan, karakter populer, atau model 3D.
Beberapa layangan bahkan dibuat secara khusus untuk "adu", menggunakan benang yang diberi serpihan gelasan meski praktik ini mulai dibatasi karena faktor keselamatan.
Di tengah maraknya gadget dan dunia digital, permainan tradisional seperti ini seolah menghadirkan keseimbangan baru.
Banyak orang tua merasa senang melihat anak-anaknya bermain di luar rumah, bersosialisasi, dan menggerakkan tubuh.
Aktivitas ini juga menjadi ruang sosial baru bagi warga. Ada yang datang hanya untuk menonton, ada pula yang saling berbagi tips soal teknik terbang dan pembuatan layangan.
Semangat kebersamaan dan antusiasme membuat suasana sore terasa lebih hidup.
Baca Juga: Ratusan Pelanggan PLN Rugi Kena Dampak Layangan Nyangkut di Kabel Listrik
Meski demikian, beberapa pihak mengingatkan pentingnya memperhatikan keselamatan saat bermain layangan.
Pemilihan lokasi yang aman dan menghindari penggunaan benang tajam menjadi hal yang perlu diperhatikan agar keseruan ini tetap positif dan tidak menimbulkan risiko.
Fenomena layangan sore hari di Tulungagung seolah menjadi penanda bahwa budaya tradisional belum sepenuhnya hilang. Ia hanya tertidur sebentar, menunggu momen yang tepat untuk kembali mengudara bersama angin, tawa, dan kenangan masa kecil. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah