RADAR TULUNGAGUNG – Bulan Agustus dikenal sebagai periode dengan tiupan angin yang cukup kencang akibat puncak musim kemarau.
Kondisi cuaca ini dimanfaatkan oleh masyarakat Tulungagung untuk menerbangkan layang-layang di ruang terbuka, terutama pada sore hari.
Warga dari berbagai kecamatan seperti Boyolangu, Campurdarat, dan Kedungwaru, tampak memenuhi lapangan, area persawahan, hingga pekarangan rumah untuk menikmati kegiatan tersebut.
Baca Juga: Melihat Dunia Lewat Lensa: Hobi Fotografi yang Menghadirkan Makna di Tiap Jepretan
Warna-warni layang-layang menghiasi langit, menciptakan suasana yang meriah dan mengundang perhatian.
Layang-layang yang diterbangkan pun sangat beragam, mulai dari bentuk tradisional seperti wajik, hingga bentuk modern seperti naga, burung garuda, dan tokoh kartun.
Baca Juga: Tanpa Tanggal Merah, Bulan Agustus Mendatang Sepi Libur, Ini Faktanya
Banyak anak-anak yang membuat sendiri layang-layang dari bambu dan plastik, sementara sebagian lainnya memilih membeli dari pedagang keliling.
Harga layang-layang bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp 25.000, tergantung pada ukuran dan desain. Fenomena ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian kecil warga.
Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap memperhatikan keselamatan. Pihak PLN Tulungagung mengingatkan agar tidak menerbangkan layang-layang di dekat jaringan listrik dan tidak menggunakan benang gelasan atau benang berbahan kawat.
Karena hal tersebut berpotensi membahayakan keselamatan serta mengganggu jaringan listrik.
Baca Juga: Motuba Gaya Baru Anak Muda dari Hobi hingga Simbol Karakter
Selain sebagai hiburan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat kreativitas, sportivitas, dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Editor : Dharaka R. Perdana