RADAR TULUNGAGUNG – Masih ingat masa kejayaan batu akik beberapa tahun lalu? Hampir di setiap sudut pasar, warung kopi, hingga majelis, orang berburu cincin batu mulia dengan aneka warna dan corak.
Salah satu jenis batu mulia asal Tulungagung yang sempat menjadi primadona pecinta batu akik adalah pirus lazuli.
Pirus lazuli beberapa tahun lalu pernah ditemukan di Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung dan langsung jadi buruan masyarakat.
Baca Juga: Jejak Batu Akik di Tulungagung Dulu Trend Nasional, Kini Warisan Budaya yang Tersembunyi
Nama pirus lazuli sendiri membawa nuansa nostalgia pada dua batu legendaris dunia. Batu pirus (turquoise) yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu berasal dari wilayah Persia (sekarang Iran).
Di masa lalu, banyak ulama di Indonesia mengenakan cincin pirus, seakan menjadi simbol keterhubungan spiritual dengan tanah Arab, tempat lahirnya Islam.
Sementara itu, lapis lazuli adalah batu biru estetik yang sudah ditambang sejak 6.000 tahun silam di Badakhshan, Afghanistan.
Baca Juga: Alasan Kenapa Orang Tulungagung Bangga Punya Batu Akik
Konon, batu ini pernah dibawa hingga Mesir Kuno, bahkan digunakan sebagai bahan hiasan oleh para bangsawan.
Kedua nama besar itu seakan berpadu dalam batu yang pernah ditemukan di tanah Jawa, yakni pirus lazuli asal Tulungagung.
Perpaduan karakteristik pirus dan lapis lazuli ini menghadirkan batu dengan aura klasik sekaligus langka.
Baca Juga: Kerajinan Cobek Batu di Desa Sanggrahan Tulungagung, Warisan Budaya yang Terjaga
Kehadirannya membuat para pecinta batu mulia kembali bernostalgia, teringat masa-masa ketika batu bukan sekadar hiasan, tetapi juga simbol status, spiritualitas, dan kebanggaan daerah.
Penemuan batu ini beberapa tahun lalu membawa harapan baru. Bukan hanya bagi kolektor, tetapi juga bagi masyarakat Tulungagung yang dulu ikut merasakan geliat ekonomi dari tren batu akik.
Pirus lazuli bisa menjadi pemantik semangat untuk menghidupkan kembali kerajinan, perdagangan, sekaligus wisata batu mulia di daerah tersebut.
Tentunya kenangan pirus lazuli asal Tulungagung masih terpatri dengan kuat di benak pecinta batu akik. ****
Editor : Dharaka R. Perdana