RADAR TULUNGAGUNG - Belakangan, mendaki gunung kembali menjadi tren di kalangan anak muda. Setiap akhir pekan, jalur pendakian ramai, dan hampir semua momen diabadikan lalu diunggah ke media sosial.
Dari pemandangan sunrise hingga potret di puncak, semua berlomba-lomba menunjukkan pengalaman terbaik mereka.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah mendaki kini menjadi hobi baru, atau sekadar efek fear of missing out (FOMO)?
Banyak yang beranggapan, keinginan untuk mendaki muncul karena dorongan eksistensi. Melihat teman atau influencer menikmati keindahan alam mendorong orang lain untuk ikut mencoba. Media sosial pun menjadi panggung baru untuk menunjukkan gaya hidup “dekat dengan alam”.
Namun, tak sedikit juga yang justru menemukan ketenangan dari aktivitas mendaki. Setelah pandemi, kegiatan luar ruangan dianggap sebagai cara untuk melepas stres dan menyegarkan pikiran.
Bagi mereka, mendaki bukan sekadar tren, tapi menjadi bagian dari perjalanan pribadi.
Apapun alasannya, mendaki gunung kini telah menjadi bagian dari budaya baru generasi muda. Selama dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab terhadap alam.
Tak masalah apakah itu demi konten atau karena hobi — yang penting, langkahnya tetap berpijak pada rasa hormat terhadap bumi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana