RADAR TULUNGAGUNG - Harajuku style lahir di Tokyo pada awal 1950-an setelah Jepang bangkit dari Perang Dunia II. Saat itu, anak muda mulai menolak aturan sosial yang kaku dan menjadikan distrik Harajuku sebagai ruang bebas berekspresi lewat fashion.
1970–1980: Pusat Kreativitas
Pada era ini, Harajuku berkembang jadi tempat berkumpul komunitas pelajar, seniman, dan desainer independen.
Budaya DIY fashion menguat, dan Takeshita Street menjadi pusat munculnya gaya unik dan anti-mainstream.
1990–2000: Puncak Popularitas
Majalah FRUiTS mengabadikan gaya ekstrem dan kreatif dari anak muda Harajuku. Muncul berbagai subculture ikonik seperti Lolita, Punk, dan lain sebagainya.
Harajuku makin dikenal global setelah dipopulerkan selebriti internasional pada awal 2000-an.
Baca Juga: Budaya Thrifting di Indonesia: Tren Fashion Ramah Kantong dan Lingkungan
Era Modern
Setelah 2010, Harajuku mengalami komersialisasi, tetapi generasi baru tetap mempertahankan identitasnya dengan gaya modern seperti Y2K Jepang, techwear, dan minimalisme urban.
Harajuku kini menjadi simbol keberanian mengekspresikan diri tanpa batas.
Baca Juga: Streetwear Bukan Sekadar Fashion, Ada Cerita Menarik di Balik Gaya Hits Gen Z di Era Digital Ini
Kenapa Harajuku Ikonik
-
Melawan standar fashion tradisional
-
Ruang aman kreativitas anak muda
-
Menjadi inspirasi fashion dunia