DEPOK - Era Bonsai di kawasan K3D, Jalan Margonda Raya jalur pipa gas Pertamina, Kemiri Muka, Beji, Kota Depok, menjadi salah satu pusat koleksi bonsai terbesar di Depok. Pengelola Era Bonsai, Ruli Pangalila, menyebut tempat yang berdiri sejak 2005–2006 itu memiliki lebih dari 30 jenis spesies bonsai, termasuk Anting Putri, Serut, Cemara Udang, Sinensis, dan Hokianti.
Dalam peninjauan koleksi yang ditayangkan di kanal YouTube, sejumlah pohon bonsai bernilai tinggi diperlihatkan kepada publik. Salah satunya adalah bonsai Anting Putri yang telah diproses selama sekitar 26 tahun dan dibuka dengan harga sekitar Rp150 juta.
Ruli menjelaskan bahwa pohon tersebut mulai diprogram sejak tahun 2000. Proses panjang itu mencakup pembentukan karakter batang, pengaturan percabangan, hingga penyesuaian posisi muka atau front agar tampilan pohon tidak terlalu simetris dan terlihat lebih natural.
“Perubahan front dilakukan supaya gerak pohon tidak kaku dan estetika bonsainya lebih hidup,” ujar Ruli.
Koleksi Lebih dari 30 Jenis Bonsai
Era Bonsai dikenal memiliki keragaman spesies yang cukup lengkap. Jenis yang paling dominan di lokasi tersebut adalah Anting Putri, Serut, Cemara Udang, Sinensis, dan Hokianti.
Ruli juga membuka ruang belajar bagi pemula. Ia mengundang masyarakat yang ingin memahami dasar-dasar bonsai untuk datang langsung ke lokasi atau berdiskusi melalui media sosial dengan nama akun Ruli Pangalila di Instagram, Facebook, dan TikTok.
Menurutnya, banyak pemula bingung memulai dari pemilihan bahan, media tanam, hingga teknik pengawatan. Karena itu, diskusi langsung dianggap lebih efektif dibanding hanya melihat hasil akhir pohon.
Kawasan Penampungan Bonsai di Depok
Host video, King of the Jungle, mengungkapkan bahwa di area belakang Polsek Depok terdapat kawasan penampungan bonsai milik para kolektor dengan jumlah sekitar 1.000 pohon.
Kawasan tersebut disebut telah diupayakan menjadi area bonsai khusus sejak 2003–2004. Berbagai komunitas bonsai di Depok juga aktif di lokasi tersebut, mulai dari PPBI, Ruby, Black Beard, Cosby, Warback, komunitas artis internasional, hingga The Max.
The Max dikenal sebagai komunitas yang fokus pada bonsai ukuran mame di bawah 30 sentimeter dan kelas Bali.
Cemara Udang Bunjin dan Teknik Kayu Mati
Peninjauan koleksi dimulai dari bonsai Cemara Udang bergaya bunjin atau literati. Pada gaya ini, sebagian batang sengaja dimatikan untuk membentuk karakter kayu kering yang terlihat alami.
Ruli menjelaskan bahwa efek tersebut diperkuat dengan teknik jin, yaitu pengupasan kulit kayu untuk menampilkan kesan pohon tua yang pernah mengalami kerusakan alam, seperti tersambar petir.
Teknik ini tidak dilakukan sembarangan karena harus tetap mempertahankan jalur nutrisi utama agar pohon tetap hidup.
Anting Putri Siap Lepas Kawat
Beberapa bonsai Anting Putri ukuran medium juga diperlihatkan dalam kondisi hampir selesai dibentuk. Ruli menyebut tingkat penyelesaiannya sudah mencapai sekitar 99,9 persen dan tinggal menunggu pelepasan kawat.
Pelepasan kawat menjadi tahap penting karena dilakukan setelah cabang benar-benar mengunci pada posisi yang diinginkan. Jika terlalu cepat dilepas, bentuk cabang bisa kembali ke posisi semula.
Bonsai Serut Dibuka Rp350 Juta
Koleksi lain yang menarik perhatian adalah bonsai Serut hasil galian alam atau yamadori. Pohon ini memiliki bonggol miring alami yang menjadi daya tarik utama.
Ruli menjelaskan bahwa teknik pemrograman Serut berbeda dengan Anting Putri karena karakter pertumbuhannya tidak sama. Pada pohon yang ditampilkan, harga buka disebut mencapai sekitar Rp350 juta.
Ia menambahkan bahwa bahan Serut tersebut dibeli dari Malaysia sebelum pandemi COVID-19 dengan harga sekitar 12.000 dolar AS.
Gaya Cascade dan Windswept Bernilai Tinggi
Selain gaya tegak dan bunjin, Era Bonsai juga memiliki Anting Putri bergaya cascade atau menggantung. Pohon tersebut dikombinasikan dengan media batu buatan untuk memperkuat kesan tebing dan aliran gerak cabang.
Ada pula Anting Putri bergaya windswept atau tertiup angin. Bonsai ini telah menjalani proses pengawatan selama lebih dari 10 tahun dan dibanderol sekitar Rp100 juta.
Menurut Ruli, gaya windswept menuntut konsistensi arah gerak cabang sehingga proses pembentukannya bisa berlangsung sangat lama.
Bonsai di Atas Batu Asli Madura
Eksplorasi koleksi berlanjut ke jenis Lohansung Blue Ice, Sianto atau Dewandaru, dan Mustam (Diospyros montana). Ketiga jenis ini ditampilkan tumbuh langsung di atas batu asli asal Madura.
Penggunaan batu asli dipilih untuk mempertahankan karakter alami komposisi. Akar diarahkan mengikuti kontur batu sehingga tercipta kesan pohon yang tumbuh di tebing.
Risiko Gagal dan Solusi Restyling
Ruli tidak menutupi bahwa perawatan bonsai memiliki risiko kegagalan. Ia menjelaskan kondisi ketika batang tua mengalami pecah kulit, renggang, atau jalur kambium terputus sehingga sebagian pohon bisa mati.
Namun, batang mati tersebut tidak selalu dibuang. Dalam beberapa kasus, bagian yang mati justru dimanfaatkan sebagai elemen jin untuk menciptakan karakter pohon tua yang lebih dramatis.
Pendekatan ini disebut sebagai proses restyling, yaitu mengubah arah desain ketika kondisi pohon tidak lagi sesuai rencana awal.
Baca Juga: Weton Senin Pahing Menurut Primbon Jawa: Karakter, Jodoh, Rezeki dan Pekerjaan yang Dianggap Cocok
Filosofi Kaki Bonsai
Perbedaan sudut pandang antara pelomba dan seniman bonsai juga dibahas dalam video. Bagi peserta kontes, kaki atau nebari biasanya diharapkan lengkap dan melingkar.
Sementara itu, bagi pencipta karya, bentuk kaki dapat disesuaikan dengan gerak dasar pohon. Ruli menilai kreativitas dalam membaca karakter pohon tidak selalu harus mengikuti pola melingkar yang kaku.
Beringin Besar Bernilai Ratusan Juta
Salah satu koleksi terbesar di lokasi tersebut adalah beringin setinggi sekitar satu meter. Pohon ini merupakan hasil konversi dari beringin karet yang kemudian ditempel daun elegan.
Ruli menyebut nilai bahannya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Nilai tersebut berasal dari ukuran batang, usia program, dan kompleksitas proses konversi.
Koleksi yang Dirawat Selama 40 Tahun
Di bagian akhir peninjauan, Ruli memperlihatkan pohon-pohon awal miliknya yang telah dirawat selama sekitar 40 tahun sejak ia mulai menekuni hobi bonsai.
Pohon-pohon tersebut menjadi saksi perjalanan panjangnya dalam dunia bonsai, dari koleksi sederhana hingga memiliki ratusan pohon dengan berbagai spesies.
Jenis lain yang juga dibonsai di Era Bonsai antara lain Kimeng (Beringin Taiwan), Lohansung Sincuan, Kopi Arabika, Amplas, Beringin Filipin, Asem, Bucida atau Ketapang Kunci, Soka, dan Beringin Korea.
Kunci Utama: Sabar dan Telaten
Menjelang penutupan video, Ruli menegaskan bahwa kunci utama merawat bonsai adalah kesabaran dan ketelatenan.
Ia menjelaskan bahwa proses pembesaran batang, pembentukan percabangan, hingga pelepasan kawat bisa memakan waktu satu hingga dua tahun. Selama periode tersebut, pohon harus disiram setiap hari dan dipantau secara rutin.
“Yang paling penting sabar dan telaten. Bonsai itu prosesnya panjang,” kata Ruli.
Ia kembali menegaskan bahwa Era Bonsai berlokasi di K3D Jalan Margonda Raya jalur pipa gas Pertamina, Kemiri Muka, Beji, Kota Depok, dan buka setiap hari bagi pengunjung yang ingin belajar maupun melihat koleksi bonsai secara langsung.
Editor : Davina Ar RaafikaSumber : Yt Indo Exotic Animals