TULUNGAGUNG - Marak grup lesbi, gay, biseksual, transgender (LGBT), di media sosial (medsos) dengan ribuan anggota, membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tulungagung prihatin.
“Kenapa saya bilang prihatin? Sebab ini adalah gejala kelainan karakter atau keluar dari khittah asli insaniah,” ungkap Ketua MUI Tulungagung Hadi Muhammad Mahfudz kemarin (24/10).
Menurutdia,grupLGBT termasuk akun GayTulungagung.Blitar.KediriGym di Facebook, tentu membuat resah warga Tulungagung. Apalagi tak sedikit orang ikut bergabung.
Pihak berwenang layak dan harus memberikan pembinaan kepada mereka.
“Juga meminta kepada pihak berwenang untuk membuat perundang-undangan. Jangan sampai LGBT diperbolehkan di sebuah peraturan,” jelasnya.
“Kalau tidak segera ditangani, nanti jika terus berkembang, semakin sulit mengendalikan,” imbuhnya.
Dia menegaskan, aktivitasyang dilakukananggota LGBTbertentangandengan Pancasilasebagai dasarnegara Indonesia. Di semuaagama pun, LGBTtidak diperbolehkan.
“Nanti akan menjadi gejala buruk kepada generasi kita jika terus dibiarkan,” ujarnya.
Meski terkadang dari berbagai pihak, semisal tokoh nasional, ada beberapa yang mendukung aktivitas LGBT. Dengan dalih berkaitan hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, dan lain sebagainnya.
Disinggung mengenai azab yang akan diterima pelaku LGBT, pria ramah itu mengatakan jika kaum sodomi sudah ada sejak zaman Nabi Luth di daerah Sadum atau di kawasan Jordania.
“Di kisah itu masyarakatnya mengalami kebrobokan moral, maksiat merajalela, bahkan yang paling parah ada praktik homoseksual. Akhirnya, mereka diberi azab. Kota tersebut terbakar dan terkubur,” ungkapnya.
Dari sudut tasawuf keagamaan, pihaknya meyakini itu bisa dikaitkan dengan bencana. Suatu perbuatan buruk pasti akan menimbulkan energi negatif dan sebaliknya. Dengan teori tersebut, bisa dikaitkan kenapa kerusakan terjadi merupakan sebuah peringatan.
“Tentu bisa dikaitkan dengan peringatan untuk mengubah perilaku-perilaku menyimpang,” jelasnya.
Dia menambahkan, langkah terdekat yang dilakukan mengenai kasus mencuat itu yakni dengan mengoreksi data anggota terlebih dahulu. Dari itu nanti bisa menentukan sasarannya. Karena tidak semudah membalik telapak tangan, pihaknya mengimbau kepada orang tua untuk terus mengawasi anak mereka yang sedang dalam usia pertumbuhan.
“Yang jelas itu dosa. Namun, dilihat bagaimana kita membina karakter penerus bangsa ini,” ungkapnya. (yon/ed/din)
Editor : Anggi Septian Andika Putra