Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

6 Kebiasaan Sosial Warga Tulungagung: Antara Tradisi, Keakraban, dan Gotong Royong

Rinto Wahyu Hidayat • Minggu, 20 Juli 2025 | 19:30 WIB

 

Salah satu kebiasaan paling khas adalah “cete rokok”, duduk santai sambil merokok dan ngopi di gardu, teras rumah, atau warung kopi.
Salah satu kebiasaan paling khas adalah “cete rokok”, duduk santai sambil merokok dan ngopi di gardu, teras rumah, atau warung kopi.

TULUNGAGUNG — Tulungagung terletak di pesisir selatan Jawa Timur.

Tulungagung dikenal bukan hanya karena marmernya, tapi juga karena karakter masyarakatnya yang hangat, guyub, dan menjunjung tinggi nilai sosial.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah kebiasaan sosial warga Tulungagung tetap lestari dan menjadi bagian penting dari identitas kultural daerah ini.

1. Cete Rokok dan Ngopi: Simbol Keakraban Lelaki di Tulungagung.

Salah satu kebiasaan paling khas adalah “cethe rokok”, duduk santai sambil merokok dan ngopi di gardu, teras rumah, atau warung kopi.

Aktivitas ini bukan semata soal menikmati rokok atau kopi, tapi lebih sebagai media bersosialisasi, bertukar cerita, hingga membahas isu-isu lokal dengan suasana santai.

Hampir setiap sore, pemandangan ini mudah dijumpai, terutama di daerah pedesaan dan pinggiran kota.

Tradisi ini telah mengakar kuat sejak era 1970-an dan hingga kini menjadi semacam “ritual sosial” yang mempererat hubungan antar warga.

2. Kerja Bakti dan Gotong Royong: Jiwa Kolektif yang Masih Hidup.

Warga Tulungagung juga masih memegang teguh nilai gotong royong, terutama dalam bentuk kerja bakti baik untuk membersihkan lingkungan, memperbaiki saluran air, hingga pembangunan fasilitas umum seperti jalan desa atau balai RW.

Biasanya, kegiatan ini dijadwalkan rutin oleh RT/RW atau dilaksanakan secara spontan bila ada kepentingan mendesak.

Yang menarik, semangat gotong royong ini tetap hidup meski zaman sudah modern dan sebagian generasi muda merantau ke kota.

3. Sambatan: Gotong Royong Saat Ada Hajatan.

Satu lagi kebiasaan sosial yang unik adalah tradisi “sambatan”. Ketika ada warga yang menggelar hajatan seperti pernikahan atau sunatan, tetangga sekitar akan membantu dalam bentuk tenaga, peralatan, bahkan bahan makanan.

Mulai dari memasak, mendirikan tenda, hingga membersihkan setelah acara.

Prinsipnya sederhana: siapa yang membantu hari ini akan dibantu ketika punya hajat nanti.

Kebiasaan ini memperkuat solidaritas dan rasa saling memiliki antarwarga.

4. Tahlilan dan Arisan Warga: Menjaga Hubungan Spiritual dan Sosial.

Selain aktivitas fisik, masyarakat Tulungagung juga menjaga kebersamaan melalui tahlilan rutin atau pengajian, baik mingguan maupun saat memperingati kematian anggota keluarga.

Tradisi ini bukan hanya soal doa, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi dan tukar kabar.

Sementara itu, arisan ibu-ibu juga menjadi sarana penting dalam membangun relasi sosial antarperempuan di lingkungan kampung.

Dari sini, lahir kebersamaan, bantuan sosial, dan rasa saling mendukung dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

5. Guyub di Warung Kopi dan Pasar Tradisional.

Warung kopi dan pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, tapi juga pusat kehidupan sosial.

Di sinilah warga bertukar informasi, menyampaikan keluhan, bahkan mencari solusi atas persoalan bersama.

Baca Juga: Semarak Hari Bakti IDI Ke-117, IDI Cabang Tulungagung Gelar Fun Walk dan Cek Kesehatan Gratis untuk Masyarakat

Banyak keputusan kampung bahkan bermula dari obrolan ringan di warung kopi.

6. Sopan Santun dan Tata Krama Jawa yang Kental.

Warga Tulungagung masih sangat menjaga etika sosial khas Jawa seperti unggah-ungguh dalam berbicara, menghormati orang tua, serta menghindari konflik terbuka.

Hal ini membuat kehidupan bermasyarakat terasa adem dan harmonis, meski tantangan zaman terus berubah.

Kebiasaan sosial warga Tulungagung mencerminkan karakter masyarakat yang ramah, gotong royong, dan kuat menjaga harmoni.

Di tengah perkembangan zaman, mereka tetap mempertahankan tradisi lokal yang menjadi pondasi kehidupan bersama.

Dari cete rokok hingga kerja bakti, semua berakar dari semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang tulus. (rin)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #kopi cethe