TULUNGAGUNG - Penyebaran HIV AIDS di Kabupaten Tulungagung kian memprihatinkan.
Bahkan yang perlu diwaspadai kasus HIV di Tulungagung ini telah menyebar ke kelompok masyarakat dengan risiko rendah seperti ibu rumah tangga dan pelajar.
Hal ini disampaikan oleh Ifada Nur Rohmaniah, M.Psi., Psikolog sekaligus Sekretaris I Komisi Penanggulangan AIDS Tulungagung.
Dia mengaku cukup prihatin dengan kasus HIV yang terjadi di Kabupaten Tulungagung. Apalagi penyebarannya sekarang tidak hanya pada kelompok masyarakat dengan resiko tinggi saja.
Kelompok masyarakat dengan risiko tinggi terinfeksi HIV umumnya adalah mereka yang terlibat dalam perilaku berisiko atau terpapar faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan penularan.
Beberapa kelompok tersebut meliputi pekerja seks dan pelanggan mereka, waria, pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL), pengguna narkoba suntik, serta bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV.
“Jika ditanya apakah ini berbahaya atau tidak, saya jawab, ya, ini bahaya. Karena infeksinya tidak hanya di populasi kunci seperti pekerja seks atau waria, tapi juga sudah menjangkau ibu rumah tangga dan remaja,” terang Ifada, Rabu (24/7/2025).
KPA mencatat, remaja usia 15–24 tahun menjadi kelompok yang kini cukup rentan. Ifada menjelaskan, temuan kasus HIV dari kelompok ini telah menembus angka lebih dari 400 orang. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran akan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi dan kontrol diri di kalangan muda.
Remaja yang belum menikah tetapi sudah aktif secara seksual menjadi faktor utama. Sayangnya, kesadaran untuk melakukan tes HIV secara sukarela (VCT) masih rendah.
Banyak masyarakat yang baru mengetahui statusnya setelah berada di stadium 3 atau 4, dengan gejala infeksi oportunistik yang parah. Hal ini menunjukkan bahwa stigma dan rasa takut masih menjadi penghalang utama untuk deteksi dini.
Meskipun begitu, ada harapan positif dari kalangan ibu rumah tangga. Mereka kini mulai terbuka dan melakukan tes HIV sebagai bentuk proteksi diri, khususnya jika mengetahui pasangannya tidak setia.
Maka pemberian edukasi akan bahaya HIV AIDS kepada masyarakat sangat penting dilakukan. Agar penyebaran penyakit ini tidak semakin merambah kemana-mana.
“Edukasi harus dilakukan secara masif, tanpa kecuali. Karena HIV AIDS bisa menyerang siapa saja, bukan hanya yang kita anggap berisiko,” pungkas Ifada. (sri)
Editor : Didin Cahya Firmansyah