RADAR TULUNGAGUNG – Kabar duka kembali menyelimuti Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Pacitan, setelah salah satu korban pembacokan sadis bernama Arga Novalleky Saputra mengembuskan napas terakhir.
Bocah berusia 11 tahun yang juga merupakan siswa kelas V SDN 2 Temon itu meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RS Bethesda, Yogyakarta.
Korban pembacokan ini, yang juga merupakan keponakan dari mantan istri pelaku, meninggal pada Rabu (24/9) pukul 00.30 WIB, meskipun sumber lain menyebutkan ia meninggal pada Selasa (23/9/2025) malam sekitar pukul 23.12 WIB.
Meninggalnya Arga menambah daftar korban tewas menjadi dua orang dalam tragedi pembunuhan keluarga mantan istri di Dusun Drono, Desa Temon, yang terjadi pada Sabtu malam, 20 September 2025.
Arga dilarikan ke RS Bethesda Yogyakarta setelah sebelumnya dirawat di RSUD dr. Darsono Pacitan karena kondisi kritis yang ia alami.
Peristiwa tragis ini berawal saat pelaku, Wawan (AS), mendatangi rumah mantan istrinya dan menyerang lima anggota keluarga korban menggunakan senjata tajam pada Sabtu malam (19/9/2025 atau 20/9/2025).
Korban pertama yang meninggal adalah Timi (60), mantan mertua pelaku, yang tewas di tempat akibat luka sayatan di leher. Dengan wafatnya Arga, kini total korban meninggal dunia menjadi dua orang.
Baca Juga: Wawan, Pelaku Pembunuhan Sadis di Pacitan Masih Buron, 10 Sekolah Terpaksa Diliburkan
Menurut dr. Netty Nurnaningtyas, Kepala IGD RSUD dr. Darsono Pacitan, Arga mengalami luka berat yang sangat parah di kepala, baik bagian depan maupun belakang.
Selain itu, ia juga mengalami pendarahan otak yang menyebabkan penurunan kesadaran drastis. Kondisi luka berat inilah yang akhirnya membuat Arga harus dirujuk ke RS Bethesda di Yogyakarta untuk mendapatkan penanganan lebih intensif.
Kepala Desa Temon, Jamiatin, membenarkan kabar duka atas berpulangnya Arga Novalleky. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang adik Arga Noval, korban tragedi pembacokan," ujarnya.
Sementara itu, korban luka lainnya masih menjalani perawatan di RSUD dr Darsono Pacitan. Miswati (40), mantan istri pelaku, masih dirawat di ruang ICU setelah menjalani transfusi darah dan operasi.
Korban lain, Miskun (60), masih dirawat pascaoperasi. Berdasarkan keterangan dari dr. Netty Nurna, dua korban lain, yaitu Miskun dan Eki, sempat dirawat.
Namun Eki (27), yang merupakan ipar pelaku, rencananya akan dipulangkan atau sudah dipulangkan setelah menjalani perawatan.
Baca Juga: Demo Hari Tani Nasional 2025 di Jakarta, Titik Aksi dan Rute Massa Menuju DPR dan Istana Negara
Pelaku pembacokan, AS alias Wawan, diketahui berprofesi sebagai penjaga sekolah. Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar menduga bahwa motif awal di balik serangan brutal ini adalah masalah keluarga.
Khususnya rasa sakit hati akibat perceraian dan rencana mantan istrinya, Miswati, untuk menikah lagi. Pihak kepolisian masih terus mendalami motif ini.
Hingga saat ini, pelaku pembunuhan sadis tersebut masih buron dan dalam pengejaran intensif oleh aparat kepolisian.
Polisi bekerja sama dengan tim K9 Polda Jatim untuk menyisir area perkebunan, ladang, dan rumah kosong di sekitar lokasi kejadian, yang berada di Desa Temon, Kecamatan Arjosari.
Pengejaran pelaku Wawan ini melibatkan anjing pelacak (Satuan K9). Pihak kepolisian bahkan telah memburu pelaku hingga ke hutan.
Tragedi ini juga melibatkan anak kandung pelaku, BM (17), yang merupakan anak dari Miswati. Awalnya, sempat tersiar kabar bahwa anak kandung pelaku disandera.
Namun, misteri hilangnya BM akhirnya terjawab setelah Polres Pacitan menemukannya dalam keadaan selamat. Kapolres Pacitan menjelaskan bahwa BM kini diamankan di Mapolres Pacitan sebagai saksi kunci untuk pemeriksaan.
Kepada polisi, BM menceritakan peristiwa berdarah tersebut. Menurut keterangan dari Kapolres, BM tidak disandera atau ditawan, melainkan justru ia melarikan diri ke hutan.
Kapolres menambahkan bahwa jika BM tidak kabur ke hutan, kemungkinan besar ia juga bisa menjadi korban pembacokan selanjutnya atau ikut menjadi korban.
Akibat kekhawatiran masyarakat terhadap pelaku yang belum tertangkap, aktivitas belajar mengajar di SDN 2 Temon sempat dihentikan.
Situasi ini menunjukkan betapa mencekamnya suasana di Desa Temon setelah insiden pembacokan massal ini terjadi.
Pihak kepolisian terus mengerahkan upaya maksimal, termasuk melibatkan ratusan warga dan aparat dalam pencarian, demi menangkap Wawan agar keamanan dan ketenangan Desa Temon dapat pulih kembali. Pengejaran pelaku terus dilakukan di hutan sekitar desa. ****
Editor : Dharaka R. Perdana