RADAR TULUNGAGUNG - Insiden penjarahan rumah yang menimpa Uya Kuya beberapa waktu lalu masih menyisakan misteri. Sang pemilik rumah kini mengisyaratkan bahwa ia mengetahui adanya kepentingan tersembunyi di balik insiden tersebut.
Uya Kuya mengindikasikan bahwa peristiwa penjarahan ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa. Ia merasa ada agenda atau "dalang" yang mendalangi serangan terhadap kediamannya.
Meskipun menyadari adanya pihak yang bermain, Uya Kuya tetap menegaskan bahwa semua narasi negatif tentang dirinya adalah fitnah. Narasi buruk ini diduga sengaja disebarkan untuk menjatuhkan kredibilitasnya.
Uya Kuya tidak menyesali keputusannya untuk terjun ke dunia politik. Ia menyatakan bahwa semua yang ia lakukan selama ini adalah demi kemanusiaan.
Kasus penjarahan rumah Uya Kuya terjadi pada akhir Agustus 2025. Peristiwa ini menjadi buntut dari polemik video joget anggota DPR yang disebarkan dengan narasi hoaks.
Setelah penyelidikan, belasan pelaku berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Polisi berhasil mengungkap motif penjarahan tersebut.
Namun, Uya Kuya telah mengambil sikap yang mengejutkan terhadap para pelaku. Ia memilih memaafkan para penjarah agar mereka bisa dibebaskan.
Uya Kuya menyebut bahwa para pelaku penjarahan tersebut hanyalah korban. Mereka bertindak di bawah pengaruh provokasi yang masif di media sosial.
Menurut Uya Kuya, narasi fitnah dan hoaks mengenai kenaikan gaji DPR adalah pemicu utamanya. Penyebaran informasi palsu ini membuat massa termakan emosi.
Isyarat Uya Kuya tentang adanya dalang memperkuat dugaan adanya unsur TSM (terstruktur, sistematis, dan masif). Upaya framing negatif terhadap dirinya juga terjadi secara serentak.
Sebelumnya, MKD DPR telah memutus bahwa Uya Kuya kembali aktif sebagai anggota dewan. Ia dinyatakan tidak melanggar kode etik dewan terkait isu joget tersebut
Meskipun Uya Kuya memaafkan para pelaku di lapangan, ia tetap mengisyaratkan adanya aktor intelektual. Ia menyadari betul bahwa ia menjadi target serangan kepentingan tertentu.
Motif penjarahan ini terungkap usai belasan pelaku ditahan dan diperiksa. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana hoaks dapat memicu tindakan kriminal yang didorong oleh kepentingan pihak tertentu.
Uya Kuya dan keluarganya sempat memilih tinggal di safe house setelah kejadian. Mereka tidak kabur ke luar negeri seperti narasi hoaks yang beredar.
Keputusan MKD mengaktifkan Uya Kuya menunjukkan ia tidak bersalah secara etik. Namun, perjuangan melawan kepentingan di balik fitnah ini masih berlanjut. ****
Editor : Dharaka R. Perdana