RADAR TULUNGAGUNG - Ibunda Alvaro Kiano Nugroho atau Alvaro akhirnya angkat bicara terkait tragedi pembunuhan Alvaro yang mengguncang kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Dalam pernyataannya, Arum membeberkan sisi gelap mantan suaminya, Alex Iskandar, yang kini menjadi tersangka sekaligus pelaku hilangnya nyawa bocah 6 tahun tersebut.
Ancaman Penculikan Sudah Pernah Dilontarkan
Menurut Arum, pembunuhan Alvaro bukanlah peristiwa spontan.
Ia mengaku Alex sudah pernah mengancam akan menculik Alvaro bila Arum menolak untuk kembali kepadanya.
Ancaman itu terjadi pada pertengahan 2024, tepatnya sekitar Juni–Juli.
“Emang dia pernah ngomong, kalau lu enggak mau balik lagi sama gue, gue bakal culik anak itu,” kata Arum saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/11) malam.
Kala itu, Arum menganggap ancaman tersebut hanyalah gertak sambal.
Ia tidak membayangkan bahwa mantan suaminya, yang dikenal temperamental, akan benar-benar melakukan aksi sekeji itu.
Kekerasan dalam Rumah Tangga Mengawali Konflik
Arum mengungkapkan alasan ia berpisah dari Alex: kekerasan dalam rumah tangga.
Ia pernah mengalami pemukulan, bahkan memiliki bukti foto yang sayangnya hilang saat ia mengganti ponsel.
“Dia orangnya temperamental, tidak bisa diajak tukar pikiran. Harus ikut kemauan dia,” ungkap Arum.
Meski demikian, Arum tak pernah melaporkan kekerasan itu ke polisi karena menganggap masalah tersebut adalah ranah internal rumah tangga.
Setelah berpisah, Alex masih sering datang ke rumah dan mencoba kembali mendekat dengan anak-anak.
Detik-Detik Aksi Penculikan dan Kematian Tragis Alvaro
Kasus pembunuhan Alvaro bermula pada 6 Maret lalu.
Saat itu, Alvaro tengah bermain di masjid dekat rumahnya di Pesanggrahan.
Alex datang dan membawa bocah tersebut tanpa sepengetahuan keluarga.
Arum sempat menelepon Alex ketika panik mencari keberadaan Alvaro.
Namun, ia justru mendengar suara napas Alex yang ngos-ngosan.
Ia tak menyadari bahwa kemungkinan besar saat itu Alex baru saja mengeksekusi sang bocah.
Belakangan diketahui, Alvaro dibunuh karena menangis ketika dibawa pergi oleh ayah tirinya tersebut.
Tragisnya, jasad Alvaro tidak langsung dibuang.
Alex menyimpannya di garasi rumah selama tiga hari sebelum akhirnya membuangnya di kawasan Tinjolaya, Kabupaten Bogor, yang dekat dengan rumah kerabatnya.
Jenazah Ditemukan Setelah 8 Bulan, Pelaku Bunuh Diri
Kasus ini terungkap setelah delapan bulan mengendap, ketika polisi menemukan kerangka yang diduga milik Alvaro.
Alex kemudian ditangkap, namun tak sempat menjalani proses hukum karena mengakhiri hidupnya di ruang konseling Polres Metro Jakarta Selatan.
Polisi menyatakan motif Alex didorong oleh rasa dendam dan kecemburuan terhadap Arum.
Kenangan Terakhir Arum tentang Alvaro
Di tengah pemeriksaan DNA yang masih berlangsung, Arum mengenang sosok Alvaro sebagai anak yang ceria, cerewet, dan penuh cita-cita.
“Dia suka banget ngaji. Katanya mau jadi pilot. Bahkan waktu foto di sekolah, dia maunya pakai baju pilot,” kenang Arum.
Arum yang bekerja di luar negeri sebagai TKI baru bisa pulang pada April, sebulan setelah Alvaro dinyatakan hilang.
Ia bahkan sempat mencari Alvaro bersama pelaku, karena tidak menyangka bahwa Alex-lah dalang dibalik menghilangnya sang anak.
Tak Ada Iktikad Baik dari Keluarga Pelaku
Hingga kini, keluarga Alex belum berkomunikasi dengan Arum.
Ia berharap ada sedikit keberanian maupun empati dari pihak keluarga mantan suaminya tersebut.
“Adik-adiknya tahu saya pernah dipukulin, tapi sampai sekarang enggak ada yang datang minta maaf,” ujar Arum.
Arum kini hanya ingin proses identifikasi DNA segera selesai agar ia dapat memakamkan Alvaro dengan layak.
Tragedi pembunuhan Alvaro bukan hanya menyisakan luka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menjadi peringatan keras tentang dampak kekerasan dalam rumah tangga dan ancaman yang sering dianggap sepele.***
Editor : Vidya Sajar Fitri