Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengakuan Saksi Kunci Bongkar Jejak Gelap di Balik Pembunuhan Alvaro, Pelaku Ternyata Sudah Diincar Sejak September

Vidya Sajar Fitri • Rabu, 26 November 2025 | 17:50 WIB

 

Laporan saksi menjadi titik terang yang mempercepat langkah polisi memburu pelaku.(freepik.com)
Laporan saksi menjadi titik terang yang mempercepat langkah polisi memburu pelaku.(freepik.com)

RADAR TULUNGAGUNG - Kasus pembunuhan Alvaro kembali memasuki babak baru setelah munculnya pengakuan seorang saksi kunci yang pertama kali melaporkan dugaan tindak kejahatan tersebut ke polisi.

Saksi yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) dari seorang warga komplek di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa informasi mengenai pembunuhan itu telah diketahui sejak September.

Namun, laporan resmi baru disampaikan seminggu sebelum pelaku ditangkap.

Pengungkapan ini menjadi bagian penting dalam penelusuran aparat atas pembunuhan Alvaro, bocah yang hilang selama delapan bulan sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Tenjo, Kabupaten Bogor.

Laporan saksi menjadi titik terang yang mempercepat langkah polisi memburu pelaku.

Saksi Menyimpan Informasi Sejak September

Menurut pengakuan pria yang menjadi pelapor utama ke Polsek, saksi pertama kali bercerita kepadanya mengenai dugaan pembunuhan.

Saksi sendiri adalah ART yang bekerja di rumah pelapor. Informasi itu berawal dari keponakan pelaku, yang merupakan teman sekolah ART tersebut.

“Sebenarnya kita sudah tahu dari bulan September. Cuma saya ini awalnya masih takut untuk melapor karena saya enggak ngerti detailnya,” ujar pelapor saat diwawancarai.

Ia menjelaskan bahwa saksi kunci, seorang remaja berusia 16 tahun, mengetahui informasi penting tentang pembunuhan Alvaro melalui cerita yang beredar di lingkungan sekolah.

Remaja itu adalah keponakan tersangka, sehingga informasi tersebut diduga berasal dari percakapan internal keluarga pelaku.

Laporan Baru Dilayangkan Seminggu Lalu

Pelapor mengaku baru memberanikan diri menghubungi polisi sekitar satu minggu sebelum tersangka ditangkap.

Keputusan itu muncul setelah ia merasa tidak sanggup lagi memendam informasi yang berkaitan dengan hilangnya nyawa seorang anak.

“Akhirnya seminggu yang lalu saya beranikan untuk melapor. Karena rasa kemanusiaan saya tergerak, melihat orang tuanya sedih saya lihat dari Instagram,” katanya.

Ia menegaskan bahwa laporan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh Polsek Pesanggrahan.

Gerak cepat polisi membuat pelaku segera ditangkap dan lokasi pembuangan jenazah ditemukan.

Informasi Awal Datang dari Keponakan Pelaku

Informasi yang diterima saksi sangat mengejutkan.

Keponakan pelaku, yang masih duduk di bangku SMA, mengaku mengetahui bahwa pamannya telah melakukan pembunuhan terhadap seorang anak.

“Dia bilang, om saya melakukan pembunuhan terhadap seorang anak,” kata pelapor menirukan pengakuan saksi.

Tidak hanya itu, remaja tersebut menunjukkan foto anak yang menjadi korban melalui media sosial.

Dari situ diketahui bahwa korban adalah Alvaro Kiano Nugroho.

Saksi memang tidak mengetahui detail cara pembunuhan, namun pengakuan dari pihak keluarga pelaku menjadi bukti awal yang sangat kuat.

Aparat kepolisian kemudian memperkuat temuan ini dengan penyelidikan lapangan hingga memastikan identitas pelaku.

Pelapor Membawa Bukti Rekaman Pembicaraan

Saat mendatangi polisi, pelapor tidak datang dengan tangan kosong.

Ia membawa beberapa bukti yang berhasil ia kumpulkan, termasuk rekaman percakapan antara dirinya dengan ART serta anak remaja yang menjadi saksi kunci.

“Saya membawa bukti rekaman. Itu hasil pembicaraan saya dengan ART dan anaknya,” kata pelapor.

Meski tidak memiliki bukti berupa CCTV, polisian mampu menindaklanjuti laporan tersebut karena rekaman dan kesaksian saksi dinilai cukup kuat untuk membuka penyelidikan.

Pelaku Dikenal Warga, Tapi Tak Pernah Mencurigakan

Pelapor mengaku tidak mengenal pelaku secara pribadi.

Namun, adik pelaku tinggal di perumahan yang sama dengannya.

Ia menyebut bahwa selama ini pelaku tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.

“Orangnya biasa saja. Enggak aneh, enggak mencurigakan,” katanya.

Meski demikian, cerita yang dihimpun dari saksi dan keponakan pelaku justru menunjukkan sisi gelap yang sama sekali tidak tampak di permukaan.

Fakta bahwa pelaku tinggal tidak jauh dari lingkungan pelapor menjadi salah satu alasan mengapa kasus ini terasa begitu dekat dan mengusik ketenangan warga komplek.

Kasus Pembunuhan Alvaro Terang Berkat Keberanian Saksi

Aksi pelapor yang akhirnya berani membuat laporan ke polisi menjadi titik balik penting dalam menguak pembunuhan Alvaro.

Pihak kepolisian pun bergerak cepat untuk menangkap pelaku dan menemukan jenazah korban.

Meski saksi remaja berusia 16 tahun tidak mengetahui detail pembunuhan, keterangannya menjadi fondasi awal bagi penyidik untuk merangkai kronologi.

Polisi kemudian memastikan bahwa tersangka adalah individu yang sama yang menghilangkan nyawa Alvaro.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keberanian warga dalam memberikan informasi sering kali berperan besar dalam membuka kejahatan yang tertutup rapat.

Tanpa laporan tersebut, kasus ini mungkin tak pernah terungkap secepat sekarang.***

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Alvaro #pengakuan #polsek pesanggrahan #pembunuhan #saksi kunci #pelaku