JAKARTA – Timor Leste kerap menjadi bahan diskusi publik, termasuk dalam pelajaran sejarah Indonesia, sebagai wilayah yang dulu dikenal dengan nama Timor Timur. Negara kecil di Asia Tenggara ini pernah menjadi bagian dari Indonesia sebelum akhirnya merdeka pada 2002. Namun, lebih dari dua dekade berlalu, pertanyaan besar kembali mengemuka: seberapa mandirikah Timor Leste saat ini?
Pada 2007 silam, dunia internasional sempat dikejutkan oleh pernyataan Presiden Timor Leste kala itu yang menyebut negaranya suatu hari akan menjadi “next Dubai”. Klaim tersebut terdengar ambisius, namun bukan tanpa dasar. Timor Leste memiliki cadangan minyak dan gas alam yang sangat besar dibandingkan jumlah penduduknya yang hanya sekitar 1,4 juta jiwa.
Berdasarkan berbagai laporan, Timor Leste tercatat memiliki cadangan gas alam sekitar 5,1 triliun kaki kubik serta cadangan minyak mencapai 226 juta barel kondensat. Dengan kekayaan sumber daya alam tersebut, banyak pihak kala itu optimistis Timor Leste akan mengikuti jejak negara-negara kaya berbasis energi seperti Qatar atau Uni Emirat Arab.
Mimpi Besar yang Tak Berbanding Lurus dengan Realita
Namun, kenyataan berbicara sebaliknya. Lebih dari 17 tahun sejak mimpi besar “next Dubai” diumumkan, kondisi Timor Leste justru masih jauh dari kata sejahtera. Laporan Asian Development Bank (ADB) tahun 2023 mencatat tingkat kemiskinan ekstrem di Timor Leste masih berada di angka 29,7 persen. Bahkan sejumlah sumber menyebut angka kemiskinan mencapai 42 persen, tertinggi di Asia Tenggara.
Ironisnya, tingkat kemiskinan ini disebut lebih buruk dibanding Myanmar yang tengah dilanda konflik berkepanjangan. Fakta tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengelolaan kekayaan alam dan arah pembangunan ekonomi nasional Timor Leste.
Masalah semakin kompleks karena sumber utama pendapatan negara yang menopang sekitar 80 persen anggaran nasional diperkirakan mulai mengering pada 2034. Artinya, dalam waktu kurang dari satu dekade, Timor Leste berpotensi kehilangan tulang punggung ekonominya.
Proyek Greater Sunrise dan Ancaman Waktu
Harapan sempat muncul lewat proyek gas raksasa Greater Sunrise yang terletak di perairan antara Timor Leste dan Australia. Proyek ini direncanakan mulai beroperasi sekitar 2030 dan diperkirakan hanya bertahan hingga 2049. Namun, proyek tersebut tetap menyimpan risiko tinggi dan waktu pemanfaatannya sangat terbatas.
Kondisi ini mempertegas persoalan klasik Timor Leste, yakni ketergantungan pada satu sektor ekonomi tanpa diversifikasi yang kuat. Salah kelola dan minimnya pengembangan sektor lain membuat kekayaan alam tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas.
Ketergantungan Besar Timor Leste pada Indonesia
Di tengah keterbatasan tersebut, Timor Leste justru sangat bergantung pada Indonesia di berbagai sektor vital. Di sektor energi, misalnya, kebutuhan bahan bakar minyak Timor Leste dipasok oleh Indonesia sejak 1984. Melalui Pertamina Internasional Timor, Indonesia menjadi pemain utama penyedia BBM, LPG, avtur, hingga produk petrokimia di Timor Leste.
Pasokan energi ini sebagian besar berasal dari Surabaya, Kupang, Atapupu, hingga Singapura, dengan penyaluran BBM mencapai lebih dari 8.800 kiloliter per bulan. Tanpa pasokan tersebut, aktivitas ekonomi Timor Leste disebut berpotensi lumpuh.
Ketergantungan juga terlihat di sektor infrastruktur. Aspal untuk pembangunan jalan di Timor Leste sebagian besar masih diimpor dari Indonesia. Bahkan pada 2017, Indonesia melakukan ekspor perdana aspal ke Timor Leste dari Gresik, Jawa Timur.
Dari Internet hingga Kebutuhan Pokok
Di era digital, Timor Leste juga menghadapi persoalan konektivitas. Negara ini dikenal memiliki koneksi internet sangat lambat, dengan kecepatan rata-rata sekitar 2,5 Mbps. Kondisi tersebut mendorong pelajar Timor Leste menyeberang ke wilayah perbatasan Indonesia demi mengakses internet yang lebih baik.
Sekitar 80 persen kebutuhan pokok masyarakat Timor Leste juga dipasok dari Indonesia, mulai dari bahan makanan, minuman, hingga produk rumah tangga. Produk buatan Indonesia mendominasi toko-toko di Dili.
Di sektor pendidikan, banyak pejabat dan aparatur Timor Leste merupakan lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan bahasa Indonesia masih diajarkan dalam kurikulum pendidikan nasional Timor Leste.
Ketergantungan serupa terlihat di sektor kesehatan, di mana warga Timor Leste kerap berobat ke fasilitas kesehatan di wilayah perbatasan Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Timur.
Lebih dari 20 tahun merdeka, Timor Leste masih menghadapi tantangan besar untuk benar-benar mandiri secara ekonomi. Pertanyaannya kini, apakah Timor Leste telah sepenuhnya berdiri di atas kakinya sendiri, atau masih hidup dalam bayang-bayang ketergantungan terhadap Indonesia?
Editor : Natasha Eka Safrina