SURABAYA – Cuaca ekstrem Jawa Timur diperkirakan akan mendominasi hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota pada awal Januari ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang yang diprediksi berlangsung setidaknya selama 10 hari ke depan dan dapat mengganggu aktivitas masyarakat darat, laut, hingga udara.
BMKG menyebut cuaca ekstrem Jawa Timur dipicu oleh aktifnya monsun Asia serta adanya pola pertemuan angin atau konvergensi di wilayah Jawa Timur. Kondisi tersebut diperparah dengan melintasnya gangguan gelombang atmosfer yang meningkatkan intensitas hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang laut.
“Penyebab utama angin kencang dan gelombang tinggi di Jawa Timur adalah adanya daerah pertemuan angin atau konvergensi. Ini menyebabkan kecepatan angin meningkat dan gelombang laut bisa mencapai lebih dari 1,5 meter,” ujar petugas BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya.
Gelombang Tinggi Ganggu Aktivitas Perairan
BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya mencatat, sejumlah wilayah perairan di Jawa Timur telah terdampak signifikan. Perairan Bawean dan Sapeken dilaporkan mengalami hujan deras disertai angin kencang sejak Minggu pagi, yang berdampak langsung pada aktivitas pelayaran dan nelayan.
Ketinggian gelombang di wilayah tersebut tercatat mencapai lebih dari 1,5 meter di atas permukaan laut, dengan kecepatan angin meningkat hingga lebih dari 20 knot. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi kapal kecil, perahu nelayan, dan aktivitas bongkar muat di pelabuhan.
BMKG Maritim secara aktif melakukan koordinasi dengan masyarakat pesisir dan pelaku transportasi laut. Setiap potensi gelombang tinggi, BMKG langsung mengeluarkan peringatan dini yang disebarkan melalui grup informasi maritim.
“Kami menyampaikan peringatan dini ke grup informasi BMKG Maritim Jawa Timur. Di sana ada nelayan dan kapten kapal, sehingga mereka bisa mengantisipasi potensi gelombang tinggi beberapa hari ke depan,” jelasnya.
Hujan Lebat dan Angin Kencang Masih Berlanjut
Sementara itu, BMKG Juanda Surabaya memprediksi hujan lebat dan angin kencang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur. Daerah dataran tinggi, wilayah rawan longsor, serta kawasan perkotaan dengan sistem drainase buruk diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan pohon tumbang.
BMKG menegaskan, kondisi atmosfer yang masih labil membuat perubahan cuaca bisa terjadi secara cepat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG.
BMKG Keluarkan Peringatan untuk Penerbangan
Tak hanya berdampak di darat dan laut, cuaca ekstrem Jawa Timur juga berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan. BMKG Juanda secara rutin mengeluarkan peringatan khusus untuk menjamin keselamatan penerbangan.
“Kami mengeluarkan aerodrome warning saat terjadi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang. Selain itu, ada juga windshear warning, yaitu peringatan terkait pergeseran arah dan kecepatan angin,” ungkap petugas BMKG Juanda.
Fenomena windshear sering kali dirasakan penumpang sebagai guncangan saat pesawat lepas landas atau mendarat. Oleh karena itu, BMKG terus menjalin komunikasi intens dengan petugas pengatur lalu lintas udara (ATC).
“ATC akan menyampaikan informasi kepada pilot berdasarkan peringatan yang kami keluarkan. Kami juga memberikan prakiraan cuaca 24 jam ke depan dan update jika ada perubahan signifikan dalam dua jam,” tambahnya.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan selama beberapa hari ke depan, khususnya warga yang tinggal di wilayah perairan, pesisir, dan dataran tinggi. Nelayan diminta menunda pelayaran jika kondisi cuaca tidak memungkinkan, sementara masyarakat darat diharapkan mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah percaya pada informasi cuaca yang tidak bersumber resmi. BMKG meminta warga selalu memantau perkembangan cuaca melalui situs resmi, media sosial, dan kanal informasi BMKG setempat.
Dengan meningkatnya intensitas cuaca ekstrem ini, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan.
Editor : Natasha Eka Safrina