Kasus ijazah Jokowi kembali memanas dan menyita perhatian publik. Polemik lama yang sempat mereda itu kini kembali mencuat setelah muncul perbedaan versi terkait pertemuan antara Egi Sujana dan Presiden Joko Widodo. Dalam sebuah diskusi yang beredar luas di YouTube, sejumlah tokoh menyampaikan kesaksian berbeda soal apakah benar ada permintaan maaf dalam pertemuan tersebut.
Dalam pernyataannya, Michael—salah satu narasumber—menyebut bahwa sosok sentral di balik kasus ijazah Jokowi sejak awal adalah Egi Sujana. Ia mengingatkan bahwa Egi merupakan pihak pertama yang berani melaporkan dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi ke Bareskrim Polri pada Desember 2024.
“Tidak ada yang berani waktu itu, tapi Bang Egi berani. Itu harus kita akui,” ujar Michael. Ia menegaskan bahwa laporan tersebut berkaitan dengan dugaan pemalsuan dan penggunaan ijazah palsu dengan terlapor Presiden Joko Widodo.
Michael juga mengungkapkan bahwa dirinya ditelepon langsung oleh Egi Sujana. Dalam percakapan itu, Egi disebut menyampaikan bahwa ia memang datang ke rumah Jokowi, namun tidak pernah menyampaikan permintaan maaf.
Baca juga:Bantahan Permintaan Maaf dalam Kasus Ijazah Jokowi
Menurut Michael, isu permintaan maaf menjadi krusial karena berkembangnya narasi di publik yang mengaitkan pertemuan tersebut dengan upaya restorative justice. Ia menilai, permintaan maaf seolah menjadi tanda bahwa pihak pelapor mengakui kesalahan dan bersedia menghentikan perkara hukum.
“Padahal Bang Egi bilang ke saya, tidak ada permintaan maaf. Dan sikapnya masih sama, bahwa ijazah itu tetap dipersoalkan,” tegasnya.
Michael pun mempertanyakan klaim yang disampaikan sejumlah pihak, termasuk Yakub Hasibuan, yang menyebut seolah-olah permintaan maaf itu benar-benar terjadi. Ia menilai, pernyataan semacam itu berpotensi menyesatkan publik jika tidak berdasarkan fakta langsung dari pelaku utama.
Baca juga:Versi Berbeda dari Lingkar Relawan Jokowi
Sementara itu, versi berbeda disampaikan oleh narasumber lain yang berada di lingkaran relawan Jokowi. Mereka memaparkan kronologi pertemuan yang disebut berlangsung pada 8 Januari 2025, setelah sebelumnya ada pertemuan awal pada 17 Desember 2024.
Diceritakan, Egi Sujana didatangi oleh Darmizal dan Rahmat—keduanya relawan Jokowi—yang menjalin komunikasi secara personal. Dalam rangkaian pertemuan tersebut, Egi disebut menulis sebuah buku dan menyatakan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Jokowi.
Pada 7 Januari 2025, Egi bahkan disebut pernah menyampaikan pernyataan terbuka: jika dirinya melihat ijazah Jokowi dan terbukti asli, maka ia siap meminta maaf dan mengakhiri kasus.
Hal itu kemudian dikaitkan dengan gelar perkara khusus, di mana pengacara Egi, Eli Neti, mengaku telah melihat langsung dokumen ijazah Jokowi. Menurutnya, seluruh unsur yang selama ini dipersoalkan—mulai watermark, embos, hingga lintasan merah—dinyatakan ada dan asli.
Baca juga:Pertemuan 55 Menit dan Doa 12 Menit
Dalam pertemuan di rumah Jokowi, yang berlangsung sekitar 55 menit, Egi Sujana disebut hadir bersama sejumlah pihak, termasuk kuasa hukum dan relawan. Salah satu momen yang disorot adalah doa panjang selama 12 menit yang dipimpin langsung oleh Egi.
Dalam doa itu, Egi disebut menyebut Jokowi sebagai “ayahanda” dan mendoakan keselamatan Presiden. Bahkan, Jokowi dikisahkan menyambut Egi dengan penuh kehangatan, mengenang pertemuan lama mereka saat peresmian LBH di Solo pada 2005.
“Kalau dibilang tidak ada minta maaf, lalu buat apa datang jauh-jauh?” ujar salah satu narasumber yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Namun demikian, pihak ini juga menegaskan bahwa tidak pernah ada transaksi uang atau kompensasi apa pun sebagaimana isu liar yang beredar di media sosial. Tuduhan adanya uang ratusan miliar disebut sebagai fitnah.
Baca juga:Restorative Justice dan Harapan Penyelesaian
Narasi restorative justice pun mengemuka dalam kasus ijazah Jokowi ini. Disebutkan bahwa pintu penyelesaian secara kemanusiaan terbuka, seiring berjalannya proses hukum sesuai aturan.
“Pak Jokowi dikenal selalu memaafkan. Hablu minannas itu beliau pegang,” ujar salah satu relawan.
Meski demikian, perbedaan versi soal permintaan maaf menunjukkan bahwa polemik kasus ijazah Jokowi belum sepenuhnya selesai. Publik kini menanti kejelasan resmi agar isu yang berlarut-larut ini tidak terus memicu spekulasi dan kegaduhan.
Editor : Ayu Dhea Cheryl