Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menteri Keuangan Purbaya “Intip” Saldo Rekening Pejabat Kemenkeu, Klaim Tak Ada Lonjakan Drastis: Pengawasan Diperketat hingga Rotasi Jabatan

Natasha Eka Safrina • Minggu, 25 Januari 2026 | 11:00 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengaku bisa cek saldo rekening pejabat Kemenkeu. Benarkah jadi senjata antikorupsi?
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengaku bisa cek saldo rekening pejabat Kemenkeu. Benarkah jadi senjata antikorupsi?

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengungkapkan dirinya bisa mengakses dan memeriksa saldo rekening pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Langkah ini disebut sebagai bagian dari pengawasan internal sekaligus patokan untuk menentukan rotasi jabatan, terutama bagi pejabat eselon 1 hingga eselon 3.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa usai melantik sejumlah pejabat di lingkungan kantor wilayah DJP Jakarta Utara pada Kamis lalu. Dalam keterangannya, ia menegaskan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan transparansi dan mencegah celah penyimpangan yang berpotensi mengarah pada praktik korupsi.

Menurut Purbaya, pengecekan rekening tabungan pejabat dilakukan di luar laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang selama ini dilaporkan oleh pejabat Kemenkeu kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menyebut, data saldo rekening bisa menjadi pembanding penting untuk menilai kewajaran pertumbuhan kekayaan dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Singkirkan Fajar/Fikri di Indonesia Masters 2026, Senior Akui Ini Asa Baru Ganda Putra Indonesia

Pengawasan Rekening Pejabat Kemenkeu Jadi “Alarm” Pencegahan Korupsi

Purbaya menyatakan dirinya memiliki akses untuk memeriksa rekening para pejabatnya, terutama hingga level eselon 3. Alasannya, level tersebut menjadi jalur pejabat yang berpotensi naik jabatan sehingga perlu pengawasan lebih ketat sejak awal.

“Saya punya akses untuk pejabat saya semuanya. Tapi yang saya periksa sampai eselon 3, karena yang mau naikkan yang itu,” ujar Purbaya dalam pernyataannya.

Ia menambahkan, sebagian besar pejabat eselon 1 juga ikut dilihat pergerakan saldonya. Dari hasil pemantauan sementara, Purbaya mengklaim saldo rekening para pejabat cenderung “flat” atau tidak mengalami lonjakan mencolok.

LHKPN Tetap Dicek, Saldo Bank Jadi Pembanding Tahunan

Purbaya menegaskan pemeriksaan ini bukan menggantikan LHKPN, melainkan melengkapi sistem pengawasan yang sudah berjalan. Ia menyebut LHKPN tetap akan dilihat dan dinilai apakah masuk akal atau tidak jika dibandingkan dengan data rekening di bank.

Baca Juga: Profil Chafidz Yusuf, Pelatih di Balik Raymond Indra/Nikolaus Joaquin Juara Australian Open 2025, Jejak Sukses The Minions Terulang

Dengan cara itu, ia menilai ruang untuk “sembunyi” menjadi semakin sempit karena pergerakan saldo dapat dilihat dari tahun ke tahun. Ia juga menekankan bahwa pengawasan tidak berhenti pada temuan sementara yang terlihat normal.

“LHKPN juga kita lihat masuk akal apa enggak. Terus bandingkan dengan uangnya yang di bank dari tahun ke tahun,” ucapnya.

Menteri Keuangan Purbaya: Tak Ada Lonjakan Drastis dari Sektor Pajak

Berdasarkan hasil pengamatan awal, Purbaya mengaku belum melihat adanya peningkatan drastis saldo rekening pejabat Kemenkeu, khususnya yang berkaitan dengan area sensitif seperti pajak. Namun, ia menegaskan pengawasan akan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada celah yang dimanfaatkan oknum.

Baca Juga: Raymond Indra/Nikolaus Joaquin ke Final Australian Open 2025, Jejak ‘The New Minions’ Terulang di Sydney

Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga integritas aparatur negara, terutama di institusi yang mengelola keuangan negara. Purbaya menilai, pengawasan ketat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap Kemenkeu.

Rangkaian Peristiwa Lain: Longsor Pekalongan hingga Bandung Barat

Selain isu pengawasan pejabat Kemenkeu, laporan juga memuat sejumlah peristiwa bencana di berbagai daerah. Longsor terjadi di Desa Krompeng, Kecamatan Talun, Pekalongan. Tanah di tepian Sungai Kupang ambles dan menyeret pepohonan ke bawah, memicu kepanikan warga.

Peristiwa itu terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut seharian. Meski tidak ada korban jiwa, sejumlah rumah di tepian sungai dilaporkan terdampak dan kerusakan dinilai cukup signifikan.

Bencana lebih besar terjadi di Desa Pasir Langu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Longsor besar dilaporkan terjadi pada Sabtu sekitar pukul 02.00 dini hari. Puluhan rumah tertimbun material longsor, sementara proses evakuasi terkendala cuaca buruk dan ancaman longsor susulan.

Baca Juga: 7 HP 2 Jutaan Terbaik Awal 2026, Allrounder Buat Gaming, Kamera Stabil, dan Harian

Hingga Sabtu siang, petugas menemukan satu korban perempuan yang terseret longsor. Data sementara menyebut enam orang meninggal dan 84 orang masih hilang, sementara tim gabungan terus melakukan pencarian.

Kodam Jaya Turun Tangan Tangani Banjir Jakarta-Bekasi

Di sisi lain, Kodam Jaya Jayakarta bergerak membantu penanganan banjir yang melanda sejumlah wilayah Jakarta dan Bekasi. Prajurit TNI diterjunkan untuk mengevakuasi warga terdampak, menyalurkan makanan siap saji, hingga membantu penanganan tanggul jebol.

Di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, tanggul sungai yang jebol menyebabkan air meluap dan merendam permukiman. Kodam Jaya bersama unsur terkait menyalurkan bantuan seperti ribuan karung pasir, mie instan, roti, dan karpet untuk warga terdampak.

Editor : Natasha Eka Safrina
#menteri keuangan #Purbaya Yudha Dewa