JAKARTA - Makam wali di Tulungagung menjadi salah satu destinasi wisata religi yang terus menarik perhatian peziarah dari berbagai daerah. Kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini ternyata menyimpan banyak situs makam tokoh penyebar Islam yang sarat nilai sejarah dan spiritualitas.
Tak kalah dengan daerah lain di Jawa Timur, keberadaan makam wali di Tulungagung memperkaya khazanah religi sekaligus menjadi bagian penting dari jejak dakwah Islam di tanah Jawa. Beberapa di antaranya bahkan diyakini sudah ada sebelum era Wali Songo.
Berikut deretan makam wali di Tulungagung yang hingga kini masih ramai dikunjungi masyarakat untuk berziarah maupun napak tilas sejarah.
Makam Mbah Gurowali di Kawasan Pantai Popoh
Salah satu yang cukup dikenal adalah Makam Mbah Gurowali yang berada di Dusun Popoh, Desa Besoleh, Kecamatan Besuki, Tulungagung. Lokasinya berada di dalam kawasan wisata Pantai Popoh, sehingga sering menjadi tujuan peziarah sekaligus wisatawan.
Konon, Mbah Gurowali memiliki nama asli Syekh Shamsuddin. Sebagian masyarakat juga mengenalnya dengan sebutan Mbah Suryo. Ia disebut sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa sebelum masa Wali Songo. Tak heran jika makam ini kerap didatangi peziarah yang ingin mengenang perjuangan dakwah beliau.
Makam KH Raden Abdul Fattah, Pendiri Pesantren
Makam wali di Tulungagung berikutnya adalah Makam KH Raden Abdul Fattah yang terletak di Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru. Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Menara Al Fattah Mangunsari.
KH Raden Abdul Fattah merupakan putra dari KH Hasan Thabi yang masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Bayat dari Sragen. Ia wafat pada Selasa, 3 Rabiul Akhir 1372 Hijriah atau tahun 1954 Masehi dalam usia 82 tahun. Hingga kini, makamnya masih sering diziarahi para santri dan masyarakat umum.
Kisah Nyai Lidah Hitam dan Perlawanan pada Kolonial
Di Desa Tawangsari, Kecamatan Kedungwaru, terdapat Makam Nyai Lidah Hitam. Nama aslinya adalah Fatimah, istri dari Kiai Abu Mansur yang dikenal sakti mandraguna.
Julukan “Lidah Hitam” konon diberikan oleh pihak kompeni Belanda. Ucapan Fatimah dipercaya selalu bertuah dan sering membuat penjajah kelabakan menghadapi langkah-langkahnya. Kisahnya menjadi bagian dari sejarah perlawanan lokal terhadap kolonialisme.
Raden Mas Jayeng Kusumo dan Cikal Bakal Desa Demuk
Di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, terdapat Makam Raden Mas Jayeng Kusumo. Ia dikenal gigih melawan penjajah Belanda dan bahkan disebut berhasil membunuh seorang petinggi kolonial.
Saat tertangkap pada 1866, ia tidak dipenjara melainkan dibuang ke hutan belantara. Bersama 40 pengikutnya, ia membuka lahan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Desa Demuk. Kisah perjuangannya masih dikenang masyarakat setempat.
Baca Juga: Suzuki Fronx di IMS 2026 Diserbu Pembeli, DP 10 Persen dan Cicilan Ringan Jadi Buruan!
Makam Syekh Syarqowi yang Sarat Kisah Spiritual
Makam Syekh Syarqowi di Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, juga menjadi salah satu makam wali di Tulungagung yang ramai diziarahi. Ada kisah menarik tentang seorang pengusaha dari Nganjuk yang pernah ditolong sosok tua misterius di masa sulitnya.
Setelah sukses dan menunaikan ibadah haji ke Makkah, pengusaha itu kembali bertemu sosok yang sama. Ia kemudian menelusuri alamat yang diberikan dan mendapati bahwa alamat tersebut adalah sebuah makam tua dengan batu nisan bertuliskan Syekh Syarqowi. Sejak saat itu, makam tersebut semakin dikenal dan sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Sunan Kuning hingga Pangeran Benowo
Di Desa Macanbang, Kecamatan Gondang, terdapat Makam Sunan Kuning yang memiliki nama asli Raden Mas Garandi. Ia berasal dari Mataram dan dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda.
Sementara itu, Makam Pangeran Benowo berada di Desa Bedalem, Kecamatan Besuki. Ia merupakan putra Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Pangeran Benowo memilih meninggalkan istana untuk berdakwah dan mendirikan masjid serta pondok di berbagai wilayah yang disinggahinya.
Tak ketinggalan, Makam Syekh Basharuddin di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, juga tak pernah sepi peziarah, terutama pada malam Jumat Legi. Banyak santri dari berbagai pondok pesantren datang untuk berziarah.
Keberadaan makam wali di Tulungagung ini bukan hanya menjadi destinasi wisata religi, tetapi juga penanda kuatnya jejak dakwah Islam dan perlawanan terhadap kolonialisme di wilayah selatan Jawa Timur. Bagi masyarakat, ziarah bukan sekadar tradisi, melainkan cara merawat sejarah dan mengambil hikmah dari perjuangan para pendahulu.
Editor : Dyah Wulandari