JAKARTA - Kabar mengejutkan datang dari sektor industri maritim dan logistik tanah air. Emiten spesialis distribusi gas alam cair, PT GTS Internasional Tbk (GTSI), secara resmi mengumumkan pengunduran diri Direktur Utama mereka, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, yang lebih dikenal publik dengan nama Ari Askara. Langkah ini menandai babak baru dalam struktur kepemimpinan perusahaan di awal tahun 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), surat pengunduran diri Ari Askara Mundur dari Jabatan Direktur Utama tersebut telah diterima secara resmi oleh pihak manajemen pada tanggal 12 Februari 2026. Kabar ini tentu memancing perhatian para investor dan pelaku pasar modal, mengingat rekam jejak kepemimpinan Ari Askara di berbagai perusahaan besar sebelumnya.
Tidak hanya posisi pucuk pimpinan, perombakan di jajaran direksi juga meluas. Selain Ari Askara, Direktur GTSI lainnya, Dira Mokhtar, dilaporkan turut mengajukan surat pengunduran diri dalam waktu yang hampir bersamaan. Keputusan dua petinggi ini secara otomatis akan membawa perubahan signifikan dalam komposisi kemudi operasional emiten berkode saham GTSI tersebut.
Mekanisme Pengesahan melalui RUPSLB
Manajemen PT GTS Internasional Tbk menjelaskan bahwa permohonan pengunduran diri tersebut tidak serta-merta berlaku seketika. Sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan dan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penetapan resmi mengenai perubahan susunan pengurus ini akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Rencananya, RUPSLB tersebut akan digelar pada tanggal 26 Februari 2026 mendatang. Dalam agenda tersebut, pemegang saham akan memberikan suara dan keputusan final terkait pengunduran diri tersebut sekaligus menentukan siapa sosok yang akan menggantikan posisi strategis yang ditinggalkan.
Dampak Terhadap Operasional Perusahaan
Meski terjadi transisi kepemimpinan yang mendadak, pihak manajemen GTSI memberikan jaminan kepada seluruh pemangku kepentingan bahwa kondisi internal perusahaan tetap solid. Dalam keterangan resminya, perusahaan menegaskan bahwa hingga RUPSLB digelar, seluruh kegiatan operasional perseroan dipastikan tetap berjalan normal tanpa gangguan.
Pihak manajemen juga menggarisbawahi bahwa tidak ada fakta material yang merugikan atau mempengaruhi kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha (going concern) perseroan akibat mundurnya Ari Askara dan Dira Mokhtar. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar agar stabilitas harga saham GTSI tetap terjaga di tengah sentimen pergantian direksi.
Jejak Karier Ari Askara dan Jabatan Baru
Nama Ari Askara memang bukan sosok asing di dunia korporasi Indonesia. Sebelum menjabat di GTSI, ia dikenal luas saat menduduki kursi Direktur Utama maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada periode 2018 hingga 2019. Pengalamannya yang panjang di sektor transportasi dan logistik membuatnya sering dipercaya memegang kendali di perusahaan-perusahaan strategis.
Usut punya usut, langkah mundurnya Ari dari GTSI ternyata berkaitan dengan penugasan baru. Ari Askara diketahui telah diangkat sebagai Direktur Utama di PT Kumpus Maritim Internasional Tbk (HUMI) sejak pertengahan Januari 2026 lalu. Pemilihan Ari di entitas tersebut disebut-sebut karena faktor kompetensi, pengalaman luas, serta gaya kepemimpinannya yang dinilai mampu membawa transformasi positif.
Manajemen PT Kumpus Maritim Internasional Tbk menegaskan bahwa proses pengangkatan Ari Askara telah melalui prosedur yang ketat dan sesuai dengan seluruh ketentuan hukum yang berlaku. Dengan fokus barunya di HUMI, Ari diharapkan mampu memperkuat lini bisnis maritim di tengah tantangan ekonomi global yang semakin dinamis.
Fokus Masa Depan GTSI
Kini, mata para investor tertuju pada tanggal 26 Februari mendatang. Siapa sosok yang akan ditunjuk menggantikan posisi Ari Askara akan menjadi sinyal bagi arah kebijakan GTSI ke depannya. Apakah perusahaan akan tetap pada jalur ekspansi distribusi gas yang agresif atau akan melakukan reorientasi strategi bisnis di bawah kepemimpinan baru nanti? Semua akan terjawab dalam forum RUPSLB akhir bulan ini.
Editor : Natasha Eka Safrina