JAKARTA – Kasus anggota Brimob aniaya pelajar di Kota Tual hingga tewas kembali mengguncang publik. Seorang siswa Madrasah Aliyah, Arianto Tawakal (14), meninggal dunia setelah diduga dipukul menggunakan helm oleh oknum Brimob Polda Maluku.
Peristiwa anggota Brimob aniaya pelajar di Kota Tual hingga tewas itu terjadi pada Kamis pagi di ruas jalan sekitar RSUD Maren, Maluku Tenggara. Korban disebut dihentikan dan dianiaya karena dituduh sebagai bagian dari rombongan balap liar.
Insiden anggota Brimob aniaya pelajar di Kota Tual hingga tewas tersebut kini tengah ditangani aparat kepolisian. Oknum yang diduga melakukan pemukulan, Bripda Masias Siahaya dari Kompi 1 Batalyon C Pelopor Sat Brimob Polda Maluku, telah diamankan untuk menjalani proses hukum.
Kronologi: Dicegat dari Rerumputan, Dipukul dengan Helm
Berdasarkan keterangan saksi dan keluarga, peristiwa bermula ketika Arianto bersama kakaknya, Nasri Karim (15), melintas menggunakan sepeda motor di jalan menurun dekat RSUD Maren.
Karena kondisi jalan yang menurun, laju kendaraan disebut cukup kencang. Namun, keluarga membantah tudingan bahwa keduanya terlibat balap liar.
Diduga, Bripda Masias Siahaya telah memantau pergerakan korban. Saat melintas, oknum tersebut disebut bersembunyi di rerumputan di tepi jalan sebelum mencegat korban secara tiba-tiba.
Menurut saksi, oknum Brimob itu langsung melayangkan pukulan menggunakan helm hingga mengenai wajah Arianto. Pukulan tersebut membuat korban kehilangan kendali dan terjatuh dari sepeda motor.
Benturan keras menyebabkan korban mengalami luka serius. Meski sempat mendapatkan pertolongan, nyawanya tidak tertolong.
Dituduh Balap Liar, Keluarga Bantah
Dugaan awal menyebut korban dihentikan karena dianggap bagian dari rombongan balap liar yang kerap melintas di kawasan tersebut. Namun, keluarga membantah keras tuduhan itu.
Mereka menyebut motor melaju kencang semata-mata karena kondisi jalan yang menurun, bukan karena sedang mengikuti balapan.
Salah satu pernyataan warga menyebut bahwa aparat diduga langsung melakukan tindakan pemukulan tanpa memastikan terlebih dahulu apakah korban benar terlibat balap liar atau tidak.
“Kalau harus dihukum, ya dihukum sesuai hukum yang berlaku,” ujar salah satu perwakilan masyarakat.
Keluarga Minta Hukuman Setimpal
Kematian Arianto Tawakal memicu duka mendalam bagi keluarga. Mereka meminta agar pelaku dihukum setimpal demi menjaga keadilan dan nama baik institusi kepolisian.
Keluarga menilai penanganan kasus ini akan menjadi penentu citra aparat penegak hukum di mata masyarakat.
“Kalau dihukum sesuai aturan, citra polisi akan baik. Tapi kalau tidak adil, kami akan kawal terus,” tegas perwakilan keluarga.
Pernyataan itu mencerminkan harapan besar agar proses hukum berjalan transparan dan tidak ada upaya melindungi oknum yang terbukti bersalah.
Polisi Kumpulkan Saksi
Di sisi lain, pihak kepolisian menyatakan masih terus mengumpulkan keterangan saksi untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai peristiwa tersebut.
Beberapa saksi disebut memberikan keterangan bahwa sebelumnya memang ada aktivitas balap liar di lokasi. Namun, polisi masih mendalami apakah korban benar terlibat atau hanya melintas di tempat kejadian.
Proses penyelidikan dilakukan untuk memastikan kronologi yang sebenarnya sebelum berkas perkara dilimpahkan ke tahap berikutnya.
Kasus anggota Brimob aniaya pelajar di Kota Tual hingga tewas ini menjadi perhatian luas karena melibatkan anak di bawah umur dan aparat penegak hukum. Publik kini menunggu hasil penyidikan serta langkah tegas yang akan diambil terhadap oknum yang bersangkutan.
Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya profesionalisme aparat dalam menjalankan tugas di lapangan, terutama saat menghadapi dugaan pelanggaran seperti balap liar. Penegakan hukum yang tegas dan adil diharapkan mampu memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban dan masyarakat luas.
Editor : Ichaa Melinda Putri