JAKARTA - Pesugihan Gunung Kemukus menjadi pilihan seorang perempuan asal Banten, Teh Ayu, ketika kehidupannya berada di titik terendah. Dalam kesaksiannya, ia mengaku menjalani ritual tersebut pada 2024 karena terdesak masalah rumah tangga, ekonomi, dan kebutuhan membiayai anak.
Kisah itu disampaikan Teh Ayu dalam sebuah tayangan YouTube Malam Mencekam. Ia mengaku mengenal informasi tentang pesugihan tanpa tumbal melalui media sosial ketika sedang mencari jalan keluar setelah berpisah dari suaminya.
Teh Ayu sebelumnya menghadapi persoalan rumah tangga dan mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ia kemudian meninggalkan rumah bersama dua anaknya dan pergi dari Jakarta menuju Banten dalam kondisi tidak memiliki uang.
Menurut kesaksiannya, kondisi ekonomi yang sulit membuat Teh Ayu mencari pekerjaan dan mencoba membuka usaha. Namun, lamaran kerja yang dikirim ke sejumlah perusahaan belum membuahkan hasil.
Saat melihat anak-anaknya tidur, ia mengaku semakin tertekan karena tidak tahu bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari pencarian di media sosial, ia kemudian menemukan informasi mengenai pesugihan yang disebut tidak menggunakan tumbal.
Teh Ayu lalu membuat unggahan di media sosial mengenai keinginannya pergi ke Gunung Kemukus, tetapi terkendala biaya. Seorang pria kemudian menghubunginya melalui pesan pribadi dan menawarkan biaya perjalanan sekaligus menjadi pasangan ritual.
Pria tersebut disebut menjelaskan bahwa ritual harus dilakukan secara konsisten selama tujuh kali dalam tujuh bulan. Teh Ayu yang mengaku belum mengetahui seluk-beluk Gunung Kemukus kemudian mengikuti perjalanan menuju Sragen, Jawa Tengah.
Dalam perjalanan, ia membeli sejumlah perlengkapan yang disebut sebagai bagian dari ritual, seperti buah tujuh macam, bunga tujuh rupa, dupa, serta kain berwarna putih.
Setibanya di kawasan Gunung Kemukus, Teh Ayu mengaku menjalani sejumlah tahapan, mulai dari mandi di pemandian yang disebutnya Wuter Wulan, berziarah, hingga mendatangi makam Pangeran Joko Samudro.
Ia kemudian menjalani ritual bersama pasangan yang ditemuinya melalui media sosial. Dalam kesaksiannya, ritual tersebut melibatkan hubungan seksual dan kain putih yang kemudian dipercaya digunakan sebagai sarana penglaris usaha.
Namun, setelah ritual pertama, pasangan tersebut disebut menghilang dan memutus komunikasi. Teh Ayu kemudian kembali mencari pasangan ritual melalui media sosial.
Pada ritual kedua, ia mengaku mengalami perubahan dalam usaha. Sebelumnya, dagangan gorengan, nasi uduk, dan minuman miliknya disebut hanya menghasilkan omzet sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Setelah ritual kedua, Teh Ayu mengklaim omzet dagangannya meningkat hingga sekitar Rp500 ribu sehari. Ia juga mengatakan pasangan ritualnya mengaku mendapatkan perkembangan dalam usaha kontraktor dan memenangkan tender.
Kesaksian tersebut merupakan pengalaman pribadi Teh Ayu dan tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara ritual dengan peningkatan pendapatan.
Masalah mulai muncul ketika pasangan ritual Teh Ayu tidak lagi memberikan kabar menjelang ritual keempat. Ia akhirnya tidak kembali ke Gunung Kemukus, sementara menurut pengakuannya usaha masih berjalan baik untuk sementara waktu.
Baca Juga: Dikenalkan Orang Tua sejak Kelas III SD, Ilma Naafi’an Tekuni Aeromodelling hingga Raih Prestasi
Memasuki bulan kelima, Teh Ayu mengaku mengalami penurunan usaha sekaligus sakit. Ia menyebut mengalami muntah darah dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar sepekan, tetapi hasil pemeriksaan yang diceritakannya tidak menemukan penyakit tertentu.
Ia kemudian mendatangi sejumlah ustaz untuk mencari bantuan. Salah seorang ustaz disebut meminta Teh Ayu membeli sebuah barang dengan biaya hingga puluhan juta rupiah untuk kemudian dibuang ke laut atau sungai yang mengalir.
Teh Ayu mengaku harus meminjam uang untuk memenuhi biaya tersebut. Setelah barang itu dibuang, ia mengatakan kondisinya membaik, tetapi tabungan habis dan utang bertambah.
Kini, ia mengaku kondisi usahanya kembali sulit. Pada 2024, sekitar Agustus, kehidupannya disebut mulai kembali terpuruk dan pendapatan dari berdagang bahkan untuk mendapatkan Rp80 ribu per hari pun terasa berat.
Dari pengalaman tersebut, Teh Ayu menyampaikan pesan agar orang tidak mencari jalan pintas melalui pesugihan. Ia mengaku menyesal dan memilih menjalani kehidupan dengan cara yang dianggapnya lebih aman.
“Kalau bisa ya udah jalanin aja kehidupan yang ada,” ujarnya dalam tayangan tersebut. Ia berharap usahanya kembali stabil dan kedua anaknya tetap sehat.
Editor : Brilian Syifa Almasih