Kisah tersebut disampaikan Mas Surya dalam tayangan YouTube Malam Mencekam. Ia mengatakan kejadian itu berlangsung pada 2020, ketika aktivitasnya sebagai pengemudi ojek sekaligus kreator konten sedang dijalani.
Saat itu, Mas Surya mengaku tertarik menelusuri Gunung Kemukus setelah kanal YouTube miliknya yang sebelumnya berisi konten musik sepi akibat pandemi Covid-19. Ia kemudian beralih membuat konten bertema misteri dan tempat-tempat ritual.
Baca Juga: Kembali ke SMK Telkom, Menemukan Sekolah yang Sudah Berlari ke Masa Depan
Dalam penuturannya, Mas Surya pertama kali datang ke Gunung Kemukus seorang diri pada Jumat Pon untuk melakukan siaran langsung. Ia melihat kawasan tersebut tetap ramai meski pandemi, termasuk keberadaan warung, tempat hiburan, serta orang-orang yang menawarkan jasa pasangan ritual.
Menurut Mas Surya, pasangan untuk ritual seharusnya sudah disepakati sejak dari rumah. Namun, ia juga mengaku menemukan banyak orang yang menawarkan diri sebagai pasangan di sekitar kawasan tersebut.
Setelah mengunggah konten mengenai Gunung Kemukus, Mas Surya mendapat komentar dari seorang perempuan bernama Sekar. Perempuan tersebut kemudian menghubunginya melalui WhatsApp dan mengaku ingin melakukan pesugihan karena terlilit persoalan ekonomi.
Baca Juga: Bernostalgia Fest 2026 Hadirkan Suasana 90-an di Tulungagung, Libatkan Pengunjung hingga Pelaku Seni
Sekar disebut memiliki utang sekitar Rp500 juta akibat persoalan rumah tangga. Ia juga mengaku telah bercerai dan menghadapi masalah dengan anaknya.
Karena khawatir menjadi korban calo, Sekar meminta bantuan Mas Surya untuk mendampinginya. Keduanya kemudian sepakat bertemu di Terminal Tirtonadi, Solo, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Kemukus.
Mas Surya awalnya mengaku hanya berniat mengantar. Namun, karena kondisi ekonominya juga sedang sulit sebagai pengemudi ojek dan YouTuber pemula, ia akhirnya memutuskan ikut menjalani ritual.
Baca Juga: 11 Hektare Sawah di Tulungagung Terdampak Kekeringan, Waspadai Puncak Kemarau Agustus–September 2026
Keduanya patungan untuk membeli perlengkapan ritual dengan biaya sekitar Rp400 ribu. Mereka kemudian menjalani sejumlah tahapan, termasuk mandi di Sendang Ontrowulan, berdoa di Punden Ontrowulan, serta berziarah ke makam Pangeran Samudro.
Mas Surya mengaku ritual tersebut dilakukan secara berpasangan dan direncanakan berlangsung sebanyak tujuh kali dengan jeda sekitar 35 hari. Ia juga mengaku mendapatkan doa atau amalan dari kuncen di kawasan tersebut.
Pada ritual pertama, Mas Surya mengaku mengalami kejadian yang menurutnya janggal. Saat meninggalkan kamar, ia melihat sosok berwarna hitam berukuran besar melalui lubang kunci dan mendengar suara dari dalam kamar.
Baca Juga: Semarak HUT Ke-81 RI di Tulungagung, Lomba Dayung Sungai Ngrowo Memasuki Babak 16 Besar dan 8 Besar
Ia kemudian menduga sosok tersebut sebagai makhluk gaib. Namun, cerita mengenai sosok tersebut merupakan kesaksian pribadi Mas Surya dan tidak dapat diverifikasi secara independen.
Pada ritual berikutnya, Mas Surya mengaku kembali melihat sosok serupa. Sementara itu, usaha Sekar disebut mulai mengalami perkembangan setelah beberapa kali menjalani ritual.
Sekar disebut mulai mendapatkan banyak pekerjaan pengurusan dokumen dan berbagai urusan administrasi. Mas Surya juga mengatakan perempuan tersebut kemudian mengalami kecelakaan hingga kakinya patah, tetapi biaya pengobatannya dibantu oleh orang yang menabraknya.
Dalam kesaksiannya, Mas Surya mengaku kehidupannya sendiri tidak menjadi lebih baik setelah mengikuti ritual. Ia bahkan mengatakan uang yang diperoleh justru kerap habis untuk berjudi.
Pengalaman tersebut akhirnya membuat Mas Surya mendatangi seorang kiai dan berusaha kembali menjalani kehidupan sesuai keyakinannya. Ia mengaku menyadari bahwa keinginannya mendapatkan kekayaan secara instan merupakan keputusan yang salah.
Mas Surya kini memilih menceritakan pengalaman tersebut sebagai peringatan. Ia meminta penonton tidak mengikuti jejaknya dan tidak menjadikan pesugihan Gunung Kemukus sebagai jalan untuk mencari kekayaan.
Menurutnya, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pembelajaran agar seseorang tidak mengambil jalan pintas ketika menghadapi persoalan ekonomi. Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan keimanan dan mencari solusi melalui cara yang dianggap aman serta tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.