RADAR TULUNGAGUNG - Arc de Triomphe merupakan salah satu monumen paling terkenal di Paris, Prancis.
Monumen ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte pada tahun 1806, setelah kemenangan besar dalam Pertempuran Austerlitz (1805).
Pertempuran tersebut merupakan salah satu momen kejayaan militer Napoleon, sehingga ia ingin mengabadikan kemenangan itu dalam bentuk sebuah monumen megah.
Napoleon mengumumkan rencana pembangunan monumen ini pada 18 Februari 1806. Lokasi yang dipilih adalah Place de l’Étoile (kini disebut Place Charles de Gaulle), yaitu titik pertemuan 12 jalan utama di Paris, yang menjadikannya pusat simbolis kota.
Baca Juga: Inggris Nyatakan Siap Bahas Pengakuan Negara Palestina Bersama Arab Saudi dan Prancis
Pembangunan Arc de Triomphe dimulai pada tahun 1806 dengan arsitek Jean Chalgrin sebagai perancang utama.
Desainnya terinspirasi dari arsitektur Romawi kuno, terutama Arch of Titus di Roma, yang juga berfungsi sebagai simbol kemenangan.
Namun, pembangunan monumen ini tidak berjalan mulus. Setelah Napoleon jatuh dari kekuasaan pada 1814, pembangunan sempat terhenti. Pekerjaan baru dilanjutkan kembali pada masa pemerintahan Raja Louis XVIII dan kemudian diteruskan oleh Raja Louis-Philippe.
Baca Juga: Insiden Tak Terduga: Atlet Prancis Gagal Lolos Final Olimpiade Karena Alat Vital Tersangkut
Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang selama 30 tahun, Arc de Triomphe selesai dibangun pada tahun 1836.
Arc de Triomphe dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada tentara Prancis, khususnya mereka yang gugur dalam perang Revolusi Prancis dan Perang Napoleon.
Pada dinding bagian dalam monumen terdapat ukiran nama jenderal dan pertempuran penting yang pernah dimenangkan Prancis.
Baca Juga: TNI Tampil Memukau di Parade Bastille Day Prancis, Macron Beri Apresiasi Tinggi
Selain itu, sejak tahun 1920, di bawah Arc de Triomphe terdapat Makam Prajurit Tak Dikenal (Tomb of the Unknown Soldier) dari Perang Dunia I.
Di makam ini terdapat api abadi yang dinyalakan untuk mengenang para prajurit yang gugur tanpa nama. Hingga kini, api tersebut masih terus menyala dan menjadi simbol penghormatan nasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana