RADAR TULUNGAGUNG - Keberadaan gerhana bulan total pada yang berakhir pada Senin dini hari benar-benar menyedot animo masyarakat di semua penjuru Indonesia.
Tahukah kamu jika munculnya fenomena gerhana bulan maupun matahari pernah jadi ramalan bencana pada masa lampau?
Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Memasuki Fase Awal, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Dilansir dari The Jerussalem Post, para peneliti pada 2015 lalu berhasil mengungkap empat prasasti Babilonia berusia 4.000 tahun yang mengaitkan gerhana bulan Babilonia dengan ramalan bencana masa depan.
Prasasti yang kini tersimpan di British Museum itu menjadi salah satu catatan tertua tentang firasat buruk dari gerhana bulan.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Cuneiform Studies dan memperlihatkan betapa pentingnya fenomena langit bagi peradaban kuno.
Baca Juga: Gaya Hidup Anak Muda Tulungagung: Antara Nongkrong di Cafe Hits dan Angkringan Sederhana
Gerhana Bulan dan Pertanda Buruk
Gerhana bulan, yang terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga cahaya Bulan tertutup, dianggap sebagai firasat gaib oleh bangsa Babilonia.
Mereka percaya bahwa peristiwa ini menandakan murka dewa, terutama terkait kematian raja atau malapetaka besar bagi negeri.
Bangsa Babilonia pun mengembangkan sistem penghitungan siklus saros untuk memperkirakan kapan gerhana akan terjadi.
Sistem ini mencakup 223 bulan lunar, sebuah metode awal yang menjadi cikal bakal ilmu astronomi, meskipun kala itu lebih dekat dengan praktik astrologi.
Ramalan dalam Prasasti Babilonia
Isi empat tablet kuno ini mencatat sejumlah bencana yang dipercaya sebagai pertanda dari gerhana bulan Babilonia.
Antara lain wabah penyakit mematikan (sampar), kesulitan ekonomi, kematian seorang raja, penghancuran negeri Elam, banjir besar, runtuhnya sebuah dinasti, dan pemberontakan rakyat.
Beberapa ramalan bahkan bersifat kondisional: jika raja wafat, rakyat selamat; sebaliknya, jika raja bertahan, rakyat menderita.
Untuk “mengelola nasib”, para astrolog Babilonia melakukan ritual magis, pengorbanan hewan, hingga konsultasi dengan kumpulan pertanda langit.
Meski kini manusia memahami gerhana bulan hanya sebagai fenomena astronomi tanpa pertanda gaib, prasasti Babilonia ini membuktikan betapa pentingnya pengamatan langit bagi peradaban kuno.
Mereka tidak sekadar melihat gerhana sebagai peristiwa alam, tetapi sebagai bahasa kosmik yang menghubungkan dewa, raja, dan rakyat.
Editor : Dharaka R. Perdana