Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pasokan Minyak Dunia Naik Tajam Hingga 102 Juta Barel Per Hari, Ini Dampaknya Bagi Harga Energi dan Ekonomi Global

Zahrotul Afkarina • Selasa, 16 September 2025 | 00:28 WIB

Pada September 2025, International Energy Agency (IEA) dan beberapa analis energi global melaporkan bahwa pasokan minyak dunia mengalami lonjakan signifikan.
Pada September 2025, International Energy Agency (IEA) dan beberapa analis energi global melaporkan bahwa pasokan minyak dunia mengalami lonjakan signifikan.

RADAR TULUNGAGUNG - Pada September 2025, International Energy Agency (IEA) dan beberapa analis energi global melaporkan bahwa pasokan minyak dunia mengalami lonjakan signifikan.

Hal didorong produksi tambahan dari negara-negara OPEC seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Selain itu juga ada peningkatan output dari AS melalui pengeboran shale oil

Di sisi lain, stabilnya produksi dari Rusia meski masih dalam tekanan sanksi ekonomi juga memberi pengaruh.

Hingga saat itu total produksi minyak global diperkirakan mencapai 102 juta barel per hari, angka tertinggi sejak 2019.

Baca Juga: Apa Itu Global Citizenship? Ini Pentingnya Menjadi Warga Dunia yang Kritis di Era Modern

Dampaknya terhadap Harga Energi

1. Harga Minyak Mentah Cenderung Turun

Kelebihan pasokan menyebabkan harga Brent Crude dan WTI menurun sekitar 8–10 persen dalam dua minggu terakhir.

Harga turun ke level USD76–USD78 per barel, setelah sempat bertahan di atas USD85.

2. Harga BBM dan Gas Rumah Tangga Bisa Ikut Turun

Di negara-negara pengimpor seperti Indonesia, penurunan harga minyak mentah bisa menurunkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertalite. Gas LPG berpeluang lebih murah jika tren ini bertahan.

3. Energi Alternatif Kembali Tertekan

Dengan minyak lebih murah, daya saing energi terbarukan seperti solar panel dan biofuel sedikit tertekan, terutama di negara-negara berkembang yang sensitif terhadap harga.

Baca Juga: Kerja Sama Dagang Bilateral Indonesia Terus Tumbuh, Ini Negara Mitra Terbesar, Nomor 5 di Luar Perkiraan

Dampak Ekonomi Global

1. Inflasi Berpotensi Menurun

Harga energi berpengaruh besar terhadap biaya logistik, produksi, dan konsumsi rumah tangga. Dengan harga minyak turun, inflasi global terutama di Eropa dan Asia berpotensi mereda.

2. Negara Pengimpor Untung, Negara Produsen Bisa Rugi

Negara seperti Jepang, India, dan Indonesia diuntungkan karena biaya energi lebih murah. Namun, negara-negara penghasil minyak seperti Venezuela, Nigeria, dan bahkan Arab Saudi bisa menghadapi tekanan anggaran jika harga terlalu rendah.

3. Pasar Keuangan Lebih Stabil

Biaya energi lebih rendah bisa merangsang pertumbuhan ekonomi. Saham maskapai, logistik, dan manufaktur menunjukkan kenaikan sejak berita ini mencuat.

Baca Juga: Presiden Prabowo Terbang ke Qatar Menemui Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani Pascaserangan Israel, Ini Tujuannya

Apakah Tren Ini Akan Berlanjut?

Menurut analis di Bloomberg dan Reuters, jika tidak ada gangguan geopolitik (seperti konflik Timur Tengah atau embargo), maka tren pasokan tinggi ini bisa berlanjut hingga awal 2026.

Namun, OPEC+ kemungkinan akan mengatur ulang kebijakan produksi jika harga turun terlalu dalam dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan pasar.

Lonjakan pasokan minyak dunia di 2025 memberikan angin segar bagi ekonomi global, setidaknya dalam jangka pendek.

Namun, ketergantungan pada energi fosil masih menyimpan risiko jika terjadi gejolak politik atau bencana alam.

Konsumen bisa menikmati harga energi lebih terjangkau, tapi bagi negara produsen minyak, ini menjadi tantangan untuk menyeimbangkan produksi dan anggaran nasional. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#dampak ekonomi global #minyak dunia #pasokan minyak #minyak dunia naik