RADAR TULUNGAGUNG - Pada September 2025, International Energy Agency (IEA) dan beberapa analis energi global melaporkan bahwa pasokan minyak dunia mengalami lonjakan signifikan.
Hal didorong produksi tambahan dari negara-negara OPEC seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Selain itu juga ada peningkatan output dari AS melalui pengeboran shale oil
Di sisi lain, stabilnya produksi dari Rusia meski masih dalam tekanan sanksi ekonomi juga memberi pengaruh.
Hingga saat itu total produksi minyak global diperkirakan mencapai 102 juta barel per hari, angka tertinggi sejak 2019.
Baca Juga: Apa Itu Global Citizenship? Ini Pentingnya Menjadi Warga Dunia yang Kritis di Era Modern
Dampaknya terhadap Harga Energi
1. Harga Minyak Mentah Cenderung Turun
Kelebihan pasokan menyebabkan harga Brent Crude dan WTI menurun sekitar 8–10 persen dalam dua minggu terakhir.
Harga turun ke level USD76–USD78 per barel, setelah sempat bertahan di atas USD85.
2. Harga BBM dan Gas Rumah Tangga Bisa Ikut Turun
Di negara-negara pengimpor seperti Indonesia, penurunan harga minyak mentah bisa menurunkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertalite. Gas LPG berpeluang lebih murah jika tren ini bertahan.
3. Energi Alternatif Kembali Tertekan
Dengan minyak lebih murah, daya saing energi terbarukan seperti solar panel dan biofuel sedikit tertekan, terutama di negara-negara berkembang yang sensitif terhadap harga.
Dampak Ekonomi Global
1. Inflasi Berpotensi Menurun
Harga energi berpengaruh besar terhadap biaya logistik, produksi, dan konsumsi rumah tangga. Dengan harga minyak turun, inflasi global terutama di Eropa dan Asia berpotensi mereda.
2. Negara Pengimpor Untung, Negara Produsen Bisa Rugi
Negara seperti Jepang, India, dan Indonesia diuntungkan karena biaya energi lebih murah. Namun, negara-negara penghasil minyak seperti Venezuela, Nigeria, dan bahkan Arab Saudi bisa menghadapi tekanan anggaran jika harga terlalu rendah.
3. Pasar Keuangan Lebih Stabil
Biaya energi lebih rendah bisa merangsang pertumbuhan ekonomi. Saham maskapai, logistik, dan manufaktur menunjukkan kenaikan sejak berita ini mencuat.
Apakah Tren Ini Akan Berlanjut?
Menurut analis di Bloomberg dan Reuters, jika tidak ada gangguan geopolitik (seperti konflik Timur Tengah atau embargo), maka tren pasokan tinggi ini bisa berlanjut hingga awal 2026.
Namun, OPEC+ kemungkinan akan mengatur ulang kebijakan produksi jika harga turun terlalu dalam dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan pasar.
Lonjakan pasokan minyak dunia di 2025 memberikan angin segar bagi ekonomi global, setidaknya dalam jangka pendek.
Namun, ketergantungan pada energi fosil masih menyimpan risiko jika terjadi gejolak politik atau bencana alam.
Konsumen bisa menikmati harga energi lebih terjangkau, tapi bagi negara produsen minyak, ini menjadi tantangan untuk menyeimbangkan produksi dan anggaran nasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana