RADAR TULUNGAGUNG - Kinerja industri dan penjualan ritel di China mencatatkan rekor terlemah dalam setahun terakhir.
Hal tersebut makin mendesak pemerintah China untuk mencari cara mendorong kembali kinerja ekonomi.
National Bureau of Statistics melaporkan bahwa kinerja produksi industri pada Agustus tumbuh 5,2 persen secara year on year (YoY).
Laju tersebut melambat di bandingkan pertumbuhan pada Juli yakni 5,7 persen. Survei Reuters meramalkan bahwa kinerja industri masih bisa tumbuh 5,7 persen di bulan lalu.
Di sisi lain, penjualan ritel Tiongkok masih tumbuh 3,4 persen YoT. Namun, angka tersebut masih lemah jika dibandingkan catatan Juli sebesar 3,7 persen. Padahal, pengamat memprediksi arus penjualan ritel bisa menguat ke angka 3,9 persen,
"Kinerja cemerlang awal tahun masih membantu laju pada nada positif. Namun, kini lajunya kembali melambat. Perlu stimulus baru untuk bisa menjamin lajunya bertahan hingga akhir tahun," ujar Lynn Song, kepala ekonom wilayah Tiongkok dari ING.
Kinerja investasi aset tetap pun lebih lambat. Per Agustus, penanaman modal terkerek 0,5 pesen YoY. Padahal, pertumbuhan investasi aset tetap tujuh bulan tumbuh sebesar 1,6 persen.
Otoritas Tiongkok berharap pelaku industri mencari pasar baru daripada bergantung ke Amerika Serikat (AS). Hal tersebut seiring pasar terbesar terus diguncang oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump.
Data lain menunjukkan bahwa beberapa pabrik sudah berhasil mencari pasar baru di Asia Tenggara, Afrika, dan Ame-rika Latin. Namun, tekanan dari kehilangan pasar negeri Paman Sam masih besar.
"Kami sebelumnya mem-perkirakan bahwa pertumbuhan penjualan ritel masih bertahan di angka 4 persen sebelum September," papar Xu Tianchen, ekonom senior dari Economist Intelligence Unit. ****
Editor : Dharaka R. Perdana