RADAR TULUNGAGUNG - Demo di Italia yang berlangsung pada Senin, 21 September 2025, waktu setempat, telah menjadi unjuk rasa pro-Palestina terbesar yang tercatat di Eropa, mengguncang setidaknya 75 kota utama di seluruh negeri.
Puluhan ribu warga Italia, termasuk mahasiswa dan anggota serikat pekerja, turun ke jalan-jalan untuk mengecam keras genosida yang terus berlangsung dan krisis kemanusiaan yang semakin parah di Jalur Gaza.
Aksi masif ini dipicu oleh keputusan kontroversial pemerintah Italia di bawah Perdana Menteri Giorgia Meloni yang menolak untuk mengakui Negara Palestina.
Aksi demo di Italia ini melibatkan massa demonstran yang diperkirakan melebihi total lebih dari 50 ribu orang.
Mereka bersatu menyuarakan solidaritas terhadap rakyat Gaza dan memprotes pemerintah Italia serta Uni Eropa yang dianggap lamban dalam menangani eskalasi krisis kemanusiaan di sana.
Dalam momen yang bersamaan, serikat pekerja akar rumput di seluruh Italia juga menyerukan aksi mogok kerja selama 24 jam, yang kemudian menjadi bagian dari gerakan yang mereka sebut 'Ayo Blokir Semuanya,' sebagai bentuk perlawanan terhadap pembunuhan massal warga Palestina.
Imbas dari demo di Italia yang meluas ini menyebabkan gangguan signifikan pada fasilitas publik dan infrastruktur di berbagai kota.
Laporan menyebutkan adanya gangguan perjalanan kereta api, pemblokiran jalan, hingga penutupan sejumlah sekolah di kota-kota yang menjadi pusat unjuk rasa.
Para demonstran meneriakkan seruan "Bebaskan Palestina!" dan mengibarkan bendera Palestina, dengan massa di ibu kota Roma saja mencapai sekitar 20 ribu orang yang berkumpul di depan stasiun kereta api utama Termini.
Unjuk rasa besar-besaran ini dilaporkan berujung ricuh dan diwarnai bentrokan di beberapa wilayah, terutama di Milan dan Naples.
Di kota utara Milan, suasana sempat memanas ketika demonstrasi di stasiun pusat diwarnai bentrok dengan polisi anti huru hara.
Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan semprotan merica setelah massa yang sebagian besar mengenakan pakaian hitam dan mengibarkan bendera Palestina, meluncurkan proyektil dan memecahkan jendela stasiun.
Akibat bentrokan tersebut, dikabarkan lebih dari 60 polisi cedera, dan 10 pendemo ditangkap.
Aksi serupa juga terjadi di kota-kota lain. Di Turin dan Bologna, massa didominasi mahasiswa yang memblokir ruang-ruang kuliah.
Para pendemo di Bologna bahkan memblokir jalan tol dan memberhentikan kendaraan, yang kemudian dibubarkan polisi menggunakan tembakan water cannon.
Sementara itu, di bagian selatan kota Naples, terjadi bentrokan antara massa dengan polisi ketika demonstran memaksa masuk ke dalam stasiun utama, bahkan beberapa berhasil mencapai jalur kereta yang mengakibatkan penundaan perjalanan.
Salah satu titik fokus aksi adalah pemblokiran pelabuhan. Massa di Genoa dan Livorno memblokir pelabuhan karena adanya kekhawatiran bahwa Italia digunakan sebagai tempat transit pengiriman senjata ke Israel.
Rocky, seorang demonstran dari serikat buruh akar rumput di Genoa, menegaskan bahwa rakyat Palestina telah memberikan pelajaran tentang martabat dan perlawanan, dan para pengunjuk rasa berusaha melaksanakan bagian mereka.
Baca Juga: Demo Hari Tani Nasional 2025 di Jakarta, Titik Aksi dan Rute Massa Menuju DPR dan Istana Negara
Gelombang protes yang masif ini berakar pada sikap pemerintah Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni yang menolak mengakui kedaulatan Negara Palestina.
Keputusan ini diambil bersamaan dengan langkah sejumlah negara Barat lainnya—termasuk Prancis, Inggris, Australia, Portugal, dan Kanada—yang kompak mengakui Negara Palestina di Sidang Umum PBB.
Meskipun Meloni mengutuk serangan Israel ke Palestina dan menegaskan Italia tidak menjual senjata ke Israel, ia menyatakan tidak akan mengakui negara Palestina untuk saat ini.
Meloni, yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengatakan bahwa mengakui negara Palestina sebelum negara itu benar-benar berdiri akan menjadi kontraproduktif.
Dalam sebuah wawancara pada Juli lalu, Meloni menjelaskan alasannya: "Jika sesuatu yang tidak ada diakui di atas kertas, masalahnya bisa tampak telah diselesaikan, padahal sebenarnya tidak,".
Selain menolak pengakuan, Italia juga menyatakan enggan melaksanakan sanksi perdagangan yang diusulkan Uni Eropa terhadap Israel, dan sejauh ini telah "menjauhkan diri" dari langkah tersebut.
Ketidaktegasan pemerintah ini menjadi pemicu kemarahan publik. Francesca Tecchia, salah satu peserta demonstrasi, mengaku baru kali ini mengikuti aksi bela Palestina karena situasi di Gaza "terlalu penting".
Ia menyuarakan kekecewaan terhadap pemerintahnya dengan mengatakan, "Italia harus berhenti hari ini. Italia bicara, tetapi tidak berbuat apa-apa,".
Puluhan ribu warga Italia di berbagai kota, seperti Roma, Milan, Palermo, Turin, Florence, Naples, Sisilia, Genoa, dan Livorno, menuntut agar Italia bertindak lebih dari sekadar mengutuk.
Mereka membawa atribut dengan slogan "Palestina Merdeka" dan "Ayo Blokir Semuanya". Protes ini jelas menunjukkan perpecahan antara kebijakan luar negeri resmi Italia yang konservatif dan gelombang sentimen pro-Palestina yang kuat di tengah masyarakatnya.
Aksi pro-Palestina yang ricuh dan melumpuhkan di 75 kota ini menjadi pesan kuat kepada pemerintahan Meloni untuk segera mengubah kebijakan luar negeri mereka dan mengambil langkah konkret dalam menangani krisis kemanusiaan di Gaza.
Termasuk mempertimbangkan pengakuan terhadap Negara Palestina, langkah yang kini telah diambil oleh beberapa sekutu Barat Italia.
Puluhan ribu warga di kota-kota Italia menggelar aksi demo di Italia ini, menggarisbawahi desakan publik terhadap perdamaian dan keadilan di Timur Tengah. ****
Editor : Dharaka R. Perdana